Thursday, July 20, 2017
Mutombo - Woods
Semalam mutombo merilis lagu judulnya woods di soundcloud. jadi ceritanya materi ini sebenarnya salah satu materi yang rencananya akan dirilis sebagai ep kedua, dan sudah dibuat jauh sebelum kami manggung di acara holytunes beberapa tahun lalu, dan menjadi manggung pertama dan terakhir. Jadi bukan band ini tiba2 aktif lagi dan rekaman bikin lagu2 baru. karena dipastikan kami sudah nggak akan bikin lagu-lagu lagi, dan mungkin juga soal manggung.
Materi ep kedua ada sekitar 6 lagu kalau gak salah. Entah mau diapain itu. Lihat aja nanti deh.
https://soundcloud.com/mutombo-373629426/woods
Monday, November 7, 2016
Collapse - Grief
Pertama kali mendengar single dari EP Collapse, Given, saya mendapati perasaan seperti ketika Anoa Records merilis EP Sullen, yaitu fresh as fuck. Begitu kerennya karena Andika Surya si otak dari Collapse menghadirkan materi-materi yang mungkin belum ada di band-band lokal, indie rocker dengan nuansa rada dreamy. Dan materinya solid dan enak didengar.
Mungkin orang-orang akan menilai jika musiknya khas yang dibawakan band semacam Nothing, indie rocker yang meracik musik dengan reverb, tapi overall, album EP Grief ini tak mengecewakan. Dirilis oleh Royal Fawns dalam dua format, yaitu kaset dan cd. Konsep rilisan oke, meski menurut saya, lagunya masih terlalu sedikit, dan andai dibuat album, saya rela untuk menantinya lebih lama.
Saya setuju dengan pendapat Dede Wastedrockers soal jam terbang yang membuat Dika bisa mulus dengan Collapse. Dan itu kenapa saya berani bilang, Collapse adalah hal terbaik yang akhirnya muncul setelah Barefood, untuk musim semacam indie rock di tanah air.
Thursday, February 4, 2016
Mutombo - Dreadfully Yours EP

Jadi saya sempat dikirim email dan juga dimention oleh satu band bernama Mutombo. Penasaran juga karena nama bandnya dari nama pemain basket NBA di tahun 90an, Dikembe Mutombo. Wah, boleh juga ide mengambil namanya. Jika nggak mudeng sama NBA, saya rasa bakal 'terganggu' juga dengan nama ini.
Saya unduh lah materinya di bandcamp mereka, dan ada 6 lagu yang boleh juga. Kiblatnya macam Pavement dan Yo La Tengo. Singlenya oke, seperti Derby Days, atau New Orleans. Carousel macam bliss indie rocker durasi pendek yang membius. Yang nendang sih Sal's Holiday haha coba deh denger di bagian akhir setelah noise gitar awut-awutan. Bee Gees?! Fuck me hahaha
Personilnya ada tiga orang, Joko Wiryawan (Guitar), Anto F. Rachman (Vocal, Bass), Budi Triyadi (Drum). Sepertinya mereka out of nowhere yah. Kalau tertarik dengan musik indie rock macam mereka, bisa tuh diunduh EP-nya di
https://mutombo.bandcamp.com/releases
Free Download!
Friday, January 22, 2016
Much - Closest I Can Relate To
Malang bisa dibilang mulai menjadi titik baru lahirnya band bagus di timur pulau Jawa. Scene di kota ini juga hidup dan aktif. Kini saya menemukan band bagus namanya Much.
Saya tak kesulitan ketika mendengar single mereka di kompilasi Leeds Records. Asyik juga. Semacam indie rock amrik macam Velocity Girl atau Madder Rose di lagu Singled Out.
Dan pas nemu CD mereka, Closest Things I Can Relate To, mulai paham akar musik mereka. Semacam Get Up Kids dan the Rocking Horse Winner. Baru kali ini saya nemukan band indie rock emo lokal yang sebagus ini.
Vokal cowok cewek di Much simple dan itu jadi kekuatan musik mereka. Hooks2 nya khas kedua band diatas. Dihuni oleh dua musisi Dandy Gilang dan Aulia Anggia.
Album Much ada 6 track. Dirilis oleh Haum Records dan rekomendasi banget untuk dicari CD dan kasetnya.
Berharap bisa nonton mereka manggung live di Jakarta. Layak didengar dan disimak band satu ini. Thumbs up!
Sunday, October 18, 2015
Teenage Death Star - Longway to Nowhere
Musiknya adalah kombinasi dari ragam minuman keras macam cap tikus yang kalau kamu bisa sukses meminumnya tanpa masuk puskesmas maka bisa menendang pantat siapapun. Saya lupa kapan beli cd ini. Ada booklet utk pengayaan kepada gadis2 alim tentang band dan para personilnya agar bisa mengenal jati diri masing2 dan bercengkerama tanpa rasa takut jika bersua.
Ada bonus cd juga isinya band-band covering lagu2 TDS. Cuma satu band yang keren, yg lain nggak, yaitu The Stress (udah bubar, vokalisnya memilih khidmat beribadah). Band ini besar di daerah keras di Kota, belakang stasiun Beos. Dulu beli cd-nya di Lawless kalau gak salah. Iseng aja sebenernya.
Alhamdulilah belum pernah sekalipun melihat penampilan live mereka. Kalau denger-denger cerita orang, aksi panggung mereka penuh dengan harum alkohol. Lalu katanya para penonton keblingsatan rusuh di depan panggung. Beda dengan anak-anak britpop indies yang biasanya goyang pundak atau kedua tangan di kepala seperti sedang keramas. Dan biasanya wangi-wangi, kalau keringetan pun gak apek.
Bagi yang belum punya cd album ini sepertinya masih banyak deh di toko. Coba dibeli deh. Saya coba dengarkan beberapa kali hanya untuk agar tidak berjamur cd-nya. Oh ya kata gitarisnya TDS, mo ada plat hitamnya. Luar biasa. Eat that.
#AnoaBlog #cd1979 #teenagedeathstar
Wednesday, January 1, 2014
Somnyfera – Paralyensomnyvm!!XX
Liar dan tak terduga. Lagu kedua, openingnya saja seperti lagu Metallica (lupa judulnya hahaha) namun musiknya begitu space rock dan alternative. Lick-lick gitar di album ini bener-bener aneh dan keren. Entah mungkin istilahnya kayak math-rock? Ah, just give a fuck with the term hahaha Mereka main bebas banget. Lagu favorit saya, ‘Benci Rasa Stroberi’; - dudes, that’s my fave fruit, cmon!:))
Wednesday, October 9, 2013
Barefood - Sullen (EP)
![]() |
| Barefood - Sullen (EP) |
Kadang saya berpikir akankah gempita era 90an bisa terulang lagi. Keriuhan gerombolan band-band anak muda di Inggris dan AS yang begitu mengguncang secara budaya dan sosial. Ketika musik tampak begitu menarik, apa adanya, dan spontan; termasuk ketika MTV menjadi corong alternative dengan program MTV120 Minutes atau Alternative Nations.
Ya ya, saya lagi-lagi berceloteh nostalgia yang tak ada habisnya. Masa lalu itu nggak akan terjadi lagi. Titik.
Setidaknya fragmen masa lalu masih hadir, dan kini bisa terlihat dari EP Barefood bertitel Sullen. Dirilis oleh label kecil Anoa Records, Barefood mewakili revival di era 90an yang juga muncul di band-band luar macam Yuck atau Tripwires. Didirikan DItto (gitar) dan Mamat (basis), musiknya riuh berisik fuzz dengan nada alt pop.
EP Sullen bermaterikan lima lagu yang menurut saya mengesankan. Materinya terasa tight dan catchy. Simak lagu Perfect Colour yang menjadi single utama mereka, atau lagu berjudul Sullen yang saya rasa menjadi trek paling favorit.
Barefood tampil di skena indie lokal Jakarta dengan musik yang bisa dibilang cukup berbeda dari band lainnya. Laiknya band alternatif 90an dengan lirik yang lugas apa adanya, tanpa bermetafora, mengingatkan band-band lawas representasi generasi ‘X’ di era 90an, seperti Teenage Fanclub, The Posies, Lemonheads, ataupun Dinosaur Jr.
![]() |
| Ditto, Bowo (adisional), dan Mamat |
Barefood bermain musik untuk bersenang-senang, tanpa tendensi menjiplak segala hal soal 90s di album ini. Bagi saya, mereka tahu musik apa yang mereka mainkan. Dan Barefood bisa menjadi letupan menarik di skena lokal kita. Yuk, dinikmati saja.
----------------------
CD Sullen sudah tersedia di Monka, Coffewar, dan Kineruku (bdg)
atau pemesanan online di www.anoarecs.com - IDR35.000
Teaser lagu Perfect Colour, bisa didengarkan via www.anoarecs.com
Tuesday, March 26, 2013
Morfem - Hey, Makan tuh Gitar!

Hari minggu ketiga di bulan Maret, saya mampir ke acara launching album terbaru Morfem, berjudul Hey, Makan tuh Gitar! Selain ingin mendengarkan materi terbaru mereka secara live, juga mau nonton satu lagi band indie rock berbakat dari Jakarta Timur dan sekitarnya, Barefood, yang didaulat menjadi opening band di acara ini.
Selanjutnya, acaranya seru, Barefood memancing perhatian penonton, dan Morfem pun sukses di acara mereka, membawakan lagu-lagu kejutan seperti Kuning-nya Rumahsakit dan lagu Ramones dibikin medley. Puaslah para hadirin.
![]() |
| Morfem pasang aksi |
Monday, June 6, 2011
J Mascis + The Fog - More Light
J Mascis, adalah anak dokter gigi di kota Amherst, negara bagian Massachusetts. Beranjak remaja, ia mendirikan sebuah band hardcore di kotanya, bernama Deep Wounds di tahun 1980-an. Lelah menjadi anak hardcore, anak muda ini menanggalkan stik drumnya (posisinya di Deep Wounds), dan membeli gitar Fender Jazzmaster bekas seharga 300 dollar untuk band barunya, Dinosaur Jr. And the story goes on as he became a cult idol for indie rock alternative grunge teenagers in the 90's, and todays. Gitaris gondrong ini dipuja karena permainan gitarnya seperti monster bersenjatakan fuzz dari Big Muff dan killer riffs!
Nah, album More Light, adalah album solo J Mascis dengan nama J Mascis + the Fog, selepas ia menidurkan Dinosaur Jr. pada 1997. More Light sendiri album kedua dari band ini, setelah sebelumnya merilis album semi akustik, Martin + Me. Spesialnya album ini, tak lain keterlibatan orang-orang kelas VIP di skena musik alternatif dunia, Bob Pollard dari Guided by Voices dan Kevin Shields dari My Blood Valentine. Sick, huh?!
Meski Kevin Shields dan Pollard berbagi sentuhan di album ini, tetap saja, DNA dari rekam jejak J Mascis di Dinosaur Jr membekas dari seluruh materi More Light. Mirip album-album Dinosaur Jr sebelumnya, namun tetap keren. Boleh dibilang, album More Light cukup berwarna dan atraktif, baik dari sounds dan lagu-lagunya, daripada kedua album terakhir Dinosaur Jr sebelum akhirnya vakum. Cabikan gitar Mascis, tetap tak kehabisan energi dan mancep.
Total ada 11 lagu, plus 3 lagu bonus atawa hidden tracks di album ini. Sameday, menjadi track pembuka yang tak akan menyulitkan siapapun yang hendak berkenalan dengan J Mascis. Tipikal materi Dinosaur Jr., yang kemudian dilanjutkan dengan Waistin', trek lagu dengan lirik rada nelangsa curhatan Mascis dengan dentingan piano kibor.
Beberapa materi berikutnya yang menarik, seperti Grand Me To You, lagu bertempo sedang namun ndak kelihatan lesu. Permainan piano Mascis yang simpel dan suara vokalnya yang bermahzab Neil Young-isme, membuat lagu ini terasa reflektif. Begitu pula terlihat pada beberapa lagu seperti AMMARING, Can't I Take this On (diawali petikan banjo, lalu bassline yang asyik), dan lagu favorit saya, Does the Kiss Fit, pas banget buat para alt rocker yang sedang jatuh cinta.
Kejutan More Light akhirnya datang pada lagu ke 11, yaitu More Light, dimana Mascis dan Kevin Shields menghajar telinga kita dengan tsunami fuzz, flanger, dan reverb secara bertubi-tubi. Semacam keriuhan super berisik yang dilemparkan di tengah-tengah angin tornado di dataran Oklahoma. Kevin Shields berbagi suara dengan idolanya, Mascis di lagu ini.
Selepas tsunami Mascis dan Shields, trek bonus Can I Tell You Stories dan Too Hard, menyapa dengan nuansa nelangsa dan muram. Cukup pas dengan judul album ini, dimana we really need More Light in this life. Namun Mascis memastikan cahaya itu untuk para pendengar album ini dengan membawakan kembali lagu John Denver, Leaving on a Jet Plane, lagi-lagi dengan Kevin Shields. Mereka berdua kembali meruangi seluruh langit-langit dari lagu tersebut dengan keriuhan noise dan segala macam keliaran yang bisa mereka hadirkan. And, it works damn well!
Melody Maker (20001017)
Get The Link!
Sunday, June 5, 2011
Sugar - Beaster
Alkisah, hanya ada dua band yang begitu melegenda berkelana di telinga anak-anak muda Paman Sam di era 80-an, via radio transistor di kamar-kamar penuh poster band dan berantakan di rumah-rumah dan asrama kampus. Kedua band ini kelak akan mengontaminasi musik rock n roll dalam saluran frekuensi yang berbeda dari semestinya. Band itu tak lain R.E.M. dan Husker Du. Band pertama kelak menjadi band superstar dengan jutaan kopi, band yang terakhir justru sebaliknya, hanya menjadi cult favorite bagi para alt rocker tulen.
Nah, Husker Du, meski hanya 'mentok' pada tahap legendaris namun tak sukses global seperti Stipe cs, album-album mereka selama tahun 1981-1987 (lalu bubar) berjasa meletakkan cetak biru musik alternatif paska punk yang kemudian diserapi oleh gerombolan band-band di era 90-an. Dan sukses, dengan kemunculan band-band seperti Nirvana sampai Dinosaur Jr. Bahkan Pearl Jam sekalipun, dipastikan nggak bakal nongol jika mereka tidak mendengar Husker Du.
Kenapa saya beri pengantar tentang Husker Du? Karena band dan album EP yang saya mau ulas kali ini adalah band kedua dari vokalis, gitaris, dan juga mastermind dari Husker Du, yakni Bob Mould. Sugar adalah band proyek Mould setelah bersolo karir. Lahir tahun 1992, band ini dikomandani Mould, bareng David Barbe (bass) dan Malcolm Travis (drum).
Album berjudul Beaster merupakan album outtakes atau EP dari lagu-lagu yang tak masuk album perdana Sugar, Copper Blue. Saya ingat, cd ini saya dapatkan sekitar 8 tahun lalu di toko musik Bulletin di dalam hypermarket Alfa, daerah Pasar Minggu. Pokoknya lagi cuci gudang, dan harganya lupa dan murah banget. Alasan kenapa saya langsung beli tak lain, karena di sleeve belakang tertulis rilisan Creation Records, tak ada alasan lain. Betul-betul belum pernah mendengar band ini dan hanya mengandalkan informasi situs allmusic di warnet dekat Alfa.
Pas diputar di kamar, wow, betul-betul raw dan alt rock sekali. Setelah saya mendengar materi album Copper Blue, rasanya materi-materi di album Beaster semacam the Two Face atau wajah lain dari materi di Copper Blue yang pop alt yang bersahabat. Semacam Yin dan Yang, bahkan Jeckly dan Hyde, dimana Beaster tampak begitu agresif, galak, dan menyalak-nyalak. Layak untuk didengarkan dengan volume mendekati maksimal.
Trek pembuka, Come Around, menjadi salam perkenalan Beaster. Mould melantunkan lirik lagu ini seperti tipikal vokalis dari band-band shoegaze. Permainan gitarnya teduh dan menghanyutkan, meski full distorsi, dibayangi gitar akustik yang jernih sedikit reverb di sepanjang lagu.
Pada lagu berikutnya, Tilted, menjadi penghajar telinga termanis di album ini. Bang! Penuh energi tak tersalurkan, lagu ini memang butuh wahana sebagai lagu outtakes album Copper Blue. Saking kencengnya lagu ini, saya berpikir nih lagu sangat layak menjadi soundtrack film Fast and Furious. Karakter tergalak alt rock 90's bisa ditemui di lagu ini, salah satunya guitar lead Mould yang bikin saya gemetar dan membuat J Mascis tampak inferior.
Judas Cradle, melanjutkan kegalakkan feedback menyakitkan telinga lewat gitar Fender Mould. Tensi di lagu ini bahkan oleh allmusic.com, disebut nggak kalah dengan MBV atau Sonic Youth, dalam aspek intensitas yang dihantarkan pada lagu ini oleh Mould cs. Keriuhan ini ditunjukan lagi pada lagu berikutnya, JC Auto, namun kerennya Mould menampilkan lirik yang penuh kegusaran spiritual plus bagian reff yang asyik, tipikal warna utama album Copper Blue.
Lagu Feeling Better melanjutkan intensitas yang sama dengan lagu-lagu sebelumnya, dan memiliki pop hooks pada reff yang layak tampil di Copper Blue. Yah, ada sedikit sentuhan kibor yang cukup memberi pembeda dari lagu lainnya. Lagu penutup, Walking Away berhawa alunan organ gereja, menjadi klimaks yang bisa meredakan suhu di telinga kita setelah Mould dan kedua partnernya meracik musik termanis sekaligus terpedas dari Sugar. Sungguh, dan saya merasa kehausan saking serunya. Marr
NME
Get the Link!
Saturday, January 22, 2011
Morfem - Indonesia
Pertengahan Januari 2011 ditandai dirilisnya sebuah mini album dari band bernama Morfem. Ditengah geliat musik indie di tanah air yang dikabarkan dalam kondisi tak kondusif dan semarak lagi serta minimnya atensi media dan korporasi terhadap blantika musik indie, band ini tak ragu melempar 7 lagu kepada pemerhati musik. Pelakonnya, tak lain Jimi (vokal), Pandu (gitar), Bram (bas), dan Freddie (drum).
Sang frontman sekaligus eksekutif produser album ini, Jimi Multhazam, sepertinya tak kehabisan akal dan antusiasme untuk tetap melakukan diversifikasi atas sensasi musiknya. Setelah berbagai band IKJ dirintisnya, hingga the Upstairs, Morfem seperti alter ego Jimi (dan personil lainnya) terhadap selera musiknya pada band-band alternatif Amrik di mid 80-an hingga awal 90-an. Lirik-liriknya tetap tak kehilangan the witty of Jimi, tetap unik dan sedap didengar berbagai ras, golongan dan kelas sosial.
Album bertajuk Indonesia ini, sungguh menyenangkan hati saya. Dan tak sulit untuk dicerna kedua telinga saya karena seperti disuguhi sajian aneka citarasa dari band-band lawas seperti Ratcat, the Pixies, Pavement, hingga Weezer, namun tak terkontaminasi pola imitatif. Mereka berhasil meramu formulasi musik 90's alternatif, dengan turunannya Indie Rock, tanpa harus pusing membuat lagu-lagu njelimet di telinga orang.
Dihajar dengan single pembuka, Gadis Suku Pedalaman, enerjik dan liriknya berspekulasi tentang seorang gadis yang dinanti-nanti sekian lama, dan apakah telah menjadi avatar atau tidak. Lagu berikutnya, Who Stole My Bike, lagu ajaib milik Jimi (selain lagu Death Kitchen yang juga ada di album ini ) semasa menjadi drumer band ol'skul HC Punk, Be Quiet (materi di album ini mungkin telah diaransemen ulang), sepertinya curhat beneran Jimi atas raibnya motor oleh sang maling suatu ketika, cool song!
Beberapa lagu menarik lainnya, Tidur Dimanapun Bermimpi Kapanpun, sangat catchy dan menjadi track favorit saya. Selain itu juga, single folk berjudul Wahana Jalan Tikus yang rasanya dieluhkan Jimi atas kemacetan Jakarta yang indah nian itu. Kerennya dibalut oleh akustik Pandu dan sentuhan kibor dalam takaran pas. Pilih Sidang atau Berdamai di bagian tengah urutan album menjadi pembangkit semangat setelah pendengar dibuat a bit relax a bit oleh lagu-lagu akustik dan mid tempo. Aransemen akustik di lagu Tidur Dimanapun Bermimpi Kapanpun, menjadi penutup manis plus vokalisasi syahdu nan harmonis dari para personil Morfem.
Overall, materi album ini meyakinkan dan berkonsep matang. Polesan Iyub di album ini, untuk mixing dan mastering tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Reaksi kimiawi para personil Morfem di tiap lagu juga solid dan kompak, meski masing-masing personil memiliki lusinan band sampingan jika diakumulasikan total. Secara keseluruhan, album ini layak menjadi obat penambah energi atas lesu scene indie saat ini.
Ah, ironisnya, sampai saat ini saya sama sekali belum pernah menonton mereka secara hidup. Marr
masih asing dengan Morfem, unduh single album ini, Gadis Suku Pedalaman!
get the link!
Tuesday, February 23, 2010
Morfem - Gadis Suku Pedalaman (single)
Akhirnya Jimi Multhazam berselingkuh! Tapi tunggu dulu, ini bukan berarti ia bermain api bersama sang istri yang baru ia lamar beberapa bulan lalu. Setelah bertahun sudah ia telah membina keluarga lumayan rukun bernama The Upstairs, sosok ajaib yang selalu menyegarkan benak siapapun dengan lirik-liriknya yang 'terlalu cerdas' ini kembali memanaskan suasana di scene lokal dengan sebuah band bernama Morfem. Morfem? i really dont have any idea bout the name, perhaps you should ask Jimi, it might help your curiosity about Morfem.
Pertama, pria jebolan IKJ ini mendisain band ini sebagai sebuah band Velvet Underground. Mereka sempat beraksi di pembukaan pameran seni dari Jimi di Ruang Rupa, dan saya tak sempat menontonnya, tetapi kata beberapa orang, band ini yah seperti Jimi lagi main band lagi..? What the heck, akhirnya cerita beralih halaman ketika Morfem meluncurkan sebuah singel berjudul 'Gadis Suku Pedalaman', dan secara telaten meracuni jaringan sosial seperti facebook dengan berbagai updates dan postingan berupa mp3 lagu tesebut secara gratis.
Jimi bersama Pandu, Bram, dan Fredi, menampilkan sebuah anomali dari selera musik indie. Anomali? Bisa saya tantang, apakah ada band-band saat ini yang menciptakan sebuah musik yang sangat berbeda dari lainnya? Morfem nekat juga. Terlepas sosok Jimi yang menjadi jaminan mutu band ini bisa memiliki fanbase yang lumayan pada saat tahun pertamanya, Morfem bisa disebut band yang asyik. Orang-orangnya asyik (dimana saya termasuk intim dengan kedua personilnya), dan bisa main musik. Riff-riffnya catchy dan unik, serba 90's.
Pada singel 'Gadis Suku Pedalaman', saya mengendus betapa aroma indiepop/rock digoreng dengan skatepunk/poppunk yang pernah dilakoni Ratcat, bener-bener menyengat di lagu ini. Dan makin enak di telinga ketika Jimi kembali merangkai sebarisan lirik-lirik yang memang menjadi trademarknya. Pernahkah anda mendengar sebuah lirik seperti
'Kini kau berdialog dengan alam raya yang masih perawan
Ku yakin kau menjadi Avatar di sana
Udara yang kau hirup pasti lebih segar dari Jakarta
Titip salam untuk istri mu yang cantik jelita
Dan mertuamu yang sakti mandra guna
Semoga kau dapat menyaksikan kami di sana
Melalui perangkat parabola'
James Cameron, Jimi menyukai filmmu. Dan siapapun diajak berspekulasi. Lagu ini jujur saja, sungguh menarik untuk didengar sebagai sebuah penjelajahan yang halal di tengah antusiasme shoegaze dan postrock yang masih menghangat di sana-sini. Morfem bisa disebut sebagai salah satu jejak band-band lokal yang mulai menatap 90's alternative sounds.
Singel pertama Morfem ini tentu harus berspekulasi apakah khalayak ramai akan mengapresiasi anomali cerdas dari sebuah band bernama Morfem, atau sekadar apresiasi hip hip hura karena ada sang maestro lirik indie bernama Jimi Multhazam yang kembali beraksi. Spekulasi tak cerdas adalah jika ternyata sekadar hip hip hura semata. Marr
Mo dengar? unduh dibawah ini.
get the link!
Friday, January 2, 2009
Teenage Fanclub - Bandwagonesque
Sebuah sore di awal tahun 2009, Mr. The Drowner membawa sebuah cd album yang sempat membuat kedua mata saya sedikit berkaca-kaca. Sampulnya tumpul, picisan dan menyilaukan (bak perpaduan Andy Warhol dan Gober Bebek) namun memiliki tempat cukup spesial di hati saya. Seketika ingatan pun kembali ke masa SMP. Memutar kembali perasaan seorang anak kelas 3 yang amat menggilai musik ‘60-an di awal tahun ’90-an. Nyaris tak memiliki teman tuk berbagi hasrat musikal, karena saat itu hampir semua dari mereka menggilai thrash metal atau setidaknya punk rock. Saat itu Nirvana baru saja berlabuh di pantai, belum turun ke pusat kota.
Di tahun 1990/91, TVRI Programa 2 pernah menyiarkan sebuah acara musik Barat (di mana saya lupa namanya) yang cukup maju pada setiap hari Minggu sore. Tiap tiga minggu sekali, acara tersebut menampilkan segmen indie-chart, di mana kita bisa menyaksikan banyak cuplikan klip dari aksi-aksi grup musik seperti Happy Mondays, Bridewell Taxis, Ride, Inspiral Carpets, Swervedriver, Pulp dan Butthole Surfers. Dari acara inilah saya mengenal band bernama Teenage Fanclub. Saya amat menggilai sebuah lagu mereka di tangga lagu segmen tersebut, “God Knows It’s True”, single legendaris yang nyaris mustahil didapatkan di toko-toko rekaman di Jakarta. Teenage Fanclub, serta band-band lain yang tampil di segmen itu rata-rata menawarkan pendekatan musikal bernafaskan ’60-an. Sebuah alasan mutlak bagi saya untuk menyukai mereka. Sebuah penerbangan baru yang akhirnya dapat saya nikmati perjalanannya. Tidak seperti grindcore ataupun death metal, yang digilai oleh teman-teman setongkrongan saya.
Album Bandwagonesque ini adalah rekaman Teenage Fanclub pertama saya, sekaligus debut rilis Teenage Fanclub yang beredar di Indonesia. Saya membelinya di sebuah toko kaset di Jakarta Selatan pada awal tahun 1992, ketika masih di kelas 3 SMP, sedang menyukai Nirvana. Ketika itu pun saya sudah merasa yakin album ini bisa beredar di Indonesia sebagai imbas meledaknya album Nevermind beserta trend grunge-nya. Bahkan seorang Kurt Cobain menggemari sajian perpaduan musik power pop Beatlesque, permen karet, dan agresi punk rock yang ditawarkan Teenage Fanclub. Ia sampai mendeklarasikan grup asal Skotlandia itu sebagai band terbaik di dunia. Majalah Spin pun menjadikan Bandwagonesque sebagai album of the year untuk tahun 1991, menyingkirkan Nevermind!!
Bandwagonesque sebuah album klasik power pop ’90-an. Bongkahan emas pop berjejalan dalam wujud “What You Do to Me”, “Metal Baby”, ataupun “December”. Neil Young, harmoni the Byrds/Beach Boys, alkohol, serta lirik yang mereferensikan Status Quo, menjadi jejak-jejak inti yang hadir pada aneka kidung legendaris seperti “Alcoholiday”, “The Concept” maupun “Star Sign”.
Album yang dirilis tahun 1991 ini cukup memberikan pencerahan penuh arti, menuntun saya pada Big Star, pahlawan sejak SMA. Setelah the Beatles, album inilah yang menjelaskan kepada saya bahwa musik pop yang baik ternyata tidak harus susah. Bayangkan, hampir semua lagu di album ini memiliki progresi akor yang sama, dibolak-balik agar terdengar berbeda. Sound-nya pun telanjang, tidak pretentious, gamblang, seperti sampul albumnya. Sampai-sampai banyak teman saya, yang merupakan penggemar punk rock yang turut kepincut oleh Nirvana, akhirnya bisa menjadikan lagu-lagu di Bandwagonesque sebagai musik pengiring kala bermain papan luncur ekstrem! Clockender
Spin (12/91) - Highly Recommended - "..this music makes your spine shiverGod's gift to college radio...Equal parts Neil Young, Big Star, Rolling Stones, Lindsey Buckingham, and Eddie Money..." - Ranked #1 in Spin's list of the 20 Albums Of The Year (1991) - "...this record would be hard to equal in any year. Rock music doesn't get much better than this."
Source: (foto LP Bandwagonesque) Beli di eBay tahun 2001, US$18, lumayan, hehe… Untuk foto rilisan cd berasal dari koleksi the Drowner. They're all Creation originals...
Thursday, December 4, 2008
Dinosaur Jr - Dinosaur
Vokal J. Mascis yang khas merdu sengau Neil Young menjadi warna unik. Lagu-lagu agresif seperti "Bulbs of Passion" dan "Mountain Man," atau sedikit lo-fi seperti "Forget the Swan" dan "Quest" patut didengarkan pada volume terbaik! Full of feedback dan lead gitar super keren dari J. Mascis, serta permainan bas Lou (pendiri Sebadoh) di album perdana ini merupakan signature sound Dinosaur Jr yang tak hanya orisinal, tetapi juga menasbihkan band ini sebagai salah satu the godfather of american alternative rock! Marr
Hint: Dinosaur Jr awalnya bernama Dinosaur di album perdana mereka. Namun karena ada tuntutan oleh sebuah band psikedelik yang mengklaim sebagai pemakai pertama nama Dinosaur, maka ditambahkanlah Jr, menjadi Dinosaur Jr oleh J. Mascis cs.










