Showing posts with label Prog Rock. Show all posts
Showing posts with label Prog Rock. Show all posts

Friday, January 30, 2009

The Gods - Genesis

Photobucket

Salah satu album band rock psikedelik pertama yang saya dapatkan dengan tanpa referensi atau info apapun. Dibeli murni berdasarkan naluri dan intuisi seorang pria beranjak dewasa yang sedang tergila-gila dengan prog rock serta baru saja mencicipi ruwetnya musik psikedelik.

Pada sebuah Sabtu sore beberapa tahun yang lalu, dengan kondisi 'sakaw musik', saya berangkat ke Aquarius Pondok Indah guna membeli beberapa cd baru untuk melengkapi ritual mendengarkan musik di hari Minggu pagi. Setelah mengobrak-abrik hampir seluruh jajaran rak cd di sana, dari abjad A sampai Z, tak dinyana saya menjadi kecewa. Album band yang saya cari ternyata tidak ada. Setelah sempat merenungi nasib sial selama kurang lebih lima menit, saya memutuskan untuk kembali menjelajahi rak-rak tersebut. Dalam sekelabat, perhatian saya terpusat pada sebuah cd dengan sampul berwarna biru muda bergambar empat orang berkostum perlente era '60-an. Latar belakangnya langit berawan berhiaskan empat patung kepala dewa Yunani. Segera saya ambil cd tersebut, the Gods nama bandnya. Sebelumnya saya sempat bingung karena tulisan di sampul depannya menempatkan judul album Genesis di sebelah kiri dan nama band the Gods di sebelah kanan, tidak lazim. Tetapi setelah memperhatikan sampul belakang cd, dan melihat gambar 'ayam jago' Repertoire Records (label asal negeri Jendral Erwin Rommell, spesialis reissue musik-musik aneh masa lalu), entah kenapa alam bawah sadar saya mengatakan bahwa band ini pasti keren. Mungkin karena dirilis tahun 1968. Ditambah asumsi saya yang sepertinya mengenal salah satu tampang personilnya. Petunjuk saya saat itu hanyalah judul-judul lagunya yang bernafaskan psych dan lagu bonus berjudul “Hey Bulldog” yang pasti ciptaan the Beatles. Dengan tuntunan naluri, akhirnya saya putuskan untuk membelinya, meski dengan banderol yang sempat membuat saya berpikir ulang. Lanjut cerita, karena pulang terlalu larut, saya memutuskan untuk merenggut keperawanan the Gods di esok hari.

Di Minggu pagi yang indah itu, saya langsung membuka kemasan cd the Gods. Hampir setiap album rilisan Repertoire menyediakan liner notes yang berisi informasi-informasi penting tentang artis tersebut. Saya pun langsung membacanya sembari mendengar rekaman purba tersebut melalui sepasang speaker tua pembelian dari sebuah toko elektronik bekas di kota Bogor. Alangkah terkejutnya saya, ternyata ini adalah bandnya Ken Hensley dan Lee Kerslake sebelum Uriah Heep (salah satu band classic rock kesukaan saya). Kecurigaan saya pun tuntas. Ternyata saya tidak sok kenal dengan salah satu raut muka personil yang ada di sampulnya. Maka semakin antusiaslah saya untuk mendengarkan track demi track di album ini. Yang langsung mengusik kuping saya tentu saja vokal khas Ken Hensley yang terdengar mengambang. Tak ketinggalan pula permainan organ Hammond-nya yang berat serta sound fuzz gitar Joe Konas.

Musik the Gods di album Genesis merupakan prototip prog rock yang rada nge-pop dengan dominasi suara khas Hammond, harmoni vokal menghanyutkan, dan timpalan keeklektikan psikedelia Britania khas tahun '60-an. Track-track favorit saya diantaranya adalah “Toward the Skies”, sebuah proto hard rock bernuansa prog, dan “Candles Getting Shorter”, sebuah lagu indah psikedelik yang sangat kental aroma pop-nya. Juga “You’re My Life”, lagu tipikal Nuggets ala the Pretty Things yang sudah terevolusi menjadi lebih baik. Lalu ada “Misleading Colours”, sebuah ramuan psych/prog berbau klasik dengan solo Hammond Ken Hensley yang layak mendapat acungan jempol. Catatan juga patut diberikan pada “Radio Show” yang penuh dinamika dari aneka genre. Dari awal sampai akhir lagu, unsur pop, soul, freakbeat dan hard rock bersahutan penuh kejutan. “Farthing Man” is another freakbeat pop gem with beautiful guitar riff combined with percussive sound. “Real Love Guaranteed” dan “Somewhere in the Street” adalah cikal bakal dari lagu-lagu Uriah Heep, sedangkan “I Never Know” mengkombinasikan riff-riff kasar dan solo gitar liar yang menyayat gendang telinga dari Konas berbalut raungan sound fuzz. Ada empat lagu bonus di cd ini termasuk di dalamnya lagu cover dari the Beatles, “Hey Bulldog”, dan “Baby’s Rich” yang terdengar seperti satu lagu the Beatles era Magical Mystery Tour dan Sgt Pepper's. After spending hours of intense listening dengan ditemani kepulan asap nikotin dan bergelas-gelas plain milk, keseluruhan materi Genesis sudah melebihi ekspektasi saya akan kualitas sebuah album yang bagus.

Pada awalnya terbentuk sebagai band blues pada tahun 1965 di kota Hatfield, southern part of England, oleh John Glascock, Brian Glascock dan Mick Taylor. Tercatat beberapa nama besar di belantara classic rock pernah mampir jadi anggota. Ken Hensley adalah pendiri Uriah Heep. Lee Kerslake dan Paul Newton kemudian ikut bergabung di sana. Mick Taylor, yang tak sempat ikut dalam rekaman the Gods, keluar dan ikut memperkuat John Mayall & the Bluesbreakers serta the Rolling Stones. Greg Lake juga pernah bermain gitar bas di band ini. Setelah gonta-ganti personil, formasi terakhir mereka pada saat merekam album Genesis adalah Ken Hensley (kibor, vokal), Joe Konas (gitar), John Glascock (gitar bas) dan Lee Kerslake (drum). Dirilis pertama kali oleh Columbia Records di tahun 1968, dengan pengerjaan sampul album yang digarap langsung oleh Storm Thorgerson dari biro desain legendaris Hipgnosis. Biro tersebut terkenal sebagai pencipta karya-karya seni visual tingkat tinggi berbau psikedelik. Hipgnosis juga bertanggung jawab atas terciptanya mahakarya-mahakarya seni sampul album legendaris dari Pink Floyd, Genesis, the Pretty Things, Led Zeppelin, dan banyak lainnya. Setelah tampil beberapa kali sebagai band pembuka Cream, the Gods sukses menjadi penerus band-band seperti the Rolling Stones dan the Who sebagai penampil reguler di the Marquee, kelab musik legendaris di Oxford Street, London.
In the end the Gods memberi wahyu pada saya untuk lebih mengeksplorasi ranah candu musik psikedelik hingga waktu yang tak dapat ditentukan. The Drowner

Photobucket

Source: Beli di Aquarius Pondok Indah (please read the full story on the first paragraph).

Hint :

Originally issued by Columbia Records in 1968. The album's ten tracks have now been joined by four bonus cuts that feature both sides of the bands ultra rare 45's "Baby's Rich" and "Hey Bulldog" and come in the original Hipgnosis designed sleeve!!!

buy it!

get the link!

Thursday, December 25, 2008

Warhorse - Warhorse

Photobucket

Warhorse, the missing link of music craft between Deep Purple and Black Sabbath!!! Salah satu band rilisan Vertigo, sebuah label prog rock legendaris Inggris era '60-an, tempat bernaungnya band-band pengusung musik berisik seperti Black Sabbath, Gentle Giant, atau Cressida. Terbentuk pada tahun 1970 oleh lima musisi berbakat, Ashley Holt (vokal), Nick Simper (gitar bas, eks Deep Purple), Ged Peck (gitar), Mac Poole (drum) dan Frank Wilson (kibor, organ Hammond). Mereka sepakat untuk memilih nama band yang terasa suram, Warhorse.

Di album studio pertama yang berjudul sama ini, Warhorse bak sebuah dinamo yang kelebihan arus listrik dengan memainkan heavy violent hard rock. Keseluruhan materi di album ini begitu dinamis, dipadu dengan nuansa progresif kelam, menjadikan album ini a mixture of bands like Deep Purple, Black Sabbath, Uriah Heep dan Yes.

Tidak dipungkiri, nyawa ‘Kuda Perang’ ini ada pada permainan Hammond yang brilian dari Frank Wilson. Sangat klasikal katedral namun beraura prog kelam. Tak ketinggalan vokal garang nan agresif dari Ashley Holt, serta cabikan bass Nick Simper yang bertanggung jawab membuat Warhorse kerap disamakan dengan Deep Purple.

“Vulture Blood” menjadi lagu pembuka album. Dimulai dengan intro organ bernuansa kelam, lalu disambung dengan suara Ashley Holt yang terdengar intimidatif dan penuh energi. Lagu lainnya, “No Chance” dan “Solitude” merupakan implementasi hard rock progresif beraroma balada ala Warhorse. Kemudian lagu “St. Louis”, yang aslinya milik The Easybeats, dibawakan dengan lebih kencang dan dinamis dari versi sebelumnya. Lagu lainnya, “Ritual”, tampak terdengar seperti materi b-sides versi Deep Purple. Sedangkan di track “Burning” dan “Woman of the Devil”, identitas musik dan lirik Warhorse terpapar jelas dengan iringan teknik harmoni klasikal dari gitar Ged Peck, sumber aliran darah dari Warhorse. Gebukan drum dahsyat Mac Poole sukses menjaga stabilitas ketujuh lagu di album ini.

Di label Vertigo, band ini hanya berhasil merilis dua buah album, Warhorse dan Red Sea, sebelum akhirnya bubar. Timing yang tidak tepat, kurangnya promosi, serta hantaman konflik internal dengan sang label membuat Warhorse gagal menyamai popularitas serta reputasi Deep Purple dan Black Sabbath. Mereka pun akhirnya harus rela hanya menyandang status sebagai one of the great lost '70s band. Jika ingin menyimak sebuah artifak bersejarah dari band hebat namun teralienasi oleh gegap gempita stardom of hard rock bands in '70s, maka album ini sangat layak dinikmati. The Drowner

Hint: LP orisinil rilisan Vertigo UK (swirl label) dari Warhorse merupakan salah satu item langka yang paling banyak dicari oleh para kolektor penggila piringan hitam.

Source: Beli di Duta Suara Sabang pada saat cd rilisan Repertoire Records sedang membanjiri etalase beberapa record stores many years ago. Rilisan pertama reissue!

Photobucket

get the link!

buy it!