Showing posts with label Noise Pop. Show all posts
Showing posts with label Noise Pop. Show all posts

Friday, December 24, 2010

Our Shouts! From Our Posting-Less till Vinyl of Black Tambourine: Complete Recordings (and two vids of them)

gambar vinylnya Black Tambourine















Aloha, sudah lama banget kami belum mengupdate apapun di blog ini, maklum lah, urusan waktu dan juga jaringan internet yang kadang membuat kami harus mengelus dada ketika melihat betapa lemah gemulainya kecepatannya.

Dua bulan berlalu, sebenarnya begitu banyak hal-hal yang ingin kami curahkan, mulai dari tutupnya retail toko musik Aquarius terbesar di bilangan Pondok Indah, sebuah pertanda betapa musik RBT telah menggerus produk fisik cakram cd dan kaset, hingga desas-desus bahwa scene band-band indie di negeri ini sedang berada dalam status darurat (betul-betul mengkhawatirkan, dari curhat beberapa pelaku scene indie yang tak bisa kami sebutkan namanya demi menghindarkan hal-hal yang kami inginkan).

Namun, di bulan Desember, bersyukur ada sebuah berita yang menyenangkan hati, yakni, sebuah toko vinyl bertengger di pojok dalam toko Aksara di Kemang! Bagi para pelaku pecinta vinyl bakal berbunga-bunga hatinya, dan mereka yang berusaha tidak terjerumus dalam sensasi koleksi vinyl karena belum siap mental, tampaknya harus menyerah saja.


Dan saya, salah satu korbannya. Toko Monka Vinyl ini berhasil membuat saya membeli dua plat dari album pertama dan kedua Pavement. Pada beberapa hari kemudian, saya dan pak The Drowner menyambangi kembali tempat itu, dan tanpa berpikir apa-apa lagi, kami masing-masing membeli vinyl Black Tambourine: Complete Recordings!

Diproduksi oleh Slumberland, dengan harga yang terjangkau. Bagi para penikmat musik C86, Sarah Records, dan lainnya mungkin tak akan asing pada band ini. Beberapa personilnya ternyata juga pendiri band-band ciamik seperti Lilys dan Velocity Girl. Vinyl ini dikemas menarik, plus artikel sleeve note tentang Black Tambourine yang ringan namun sarat historis.

So, untuk menyegarkan blog ini, nikmati dua video dari Black Tambourine di blog ini, For the Ex Lovers dan Throw Aggi off the Bridge. Enjoy! Marr

Friday, December 25, 2009

The Porno - Subliminal

Photobucket
Setelah dua minggu nongkrong di rak CD saya akhirnya datang juga waktu yang tepat untuk bisa berkonsentrasi mendengarkan debut album milik The Porno ini. Terima kasih buat rekan saya yang dengan sukarela memberikan cd ini kepada saya untuk direview, berbalut standard jewel case cover album ini cukup bernuansa suram ditambah judul yang berdasarkan terjemahan dari kamus Inggris – Indonesia karangan S. Wojowasito berarti “bawah sadar”, heem rasanya kedua hal tersebut sudah cukup menggelitik rasa keingintahuan saya akan isi materi album ini.

Dirilis oleh Sinjitos Records dan diproduseri oleh salah satu orang yang mempunyai sentuhan Midas di dunia Indie tanah Batavia ini, pastinya para pendengar dan fans The Porno akan mengharapkan sesuatu yang melebihi ekspektasi dari materi album ini, apalagi demo dan lagu The Porno sebelum dihandle oleh Iyub terdengar biasa saja. Berbicara tentang The Porno tentu saja tidak bisa terlepas dari Joy Division dan Post Punk, setidaknya itulah persepsi orang-orang atau fans yang sudah mengenal dan mendengarkan musik mereka, entah apakah hal ini membuat The Porno sendiri sudah muak atau malah bangga dengan pengasosiasian ini, yang jelas itu sudah cukup menjelaskan secara gamblang status bermusik mereka.

Sebenarnya saya termasuk orang yang tidak suka untuk mengkotak-kotakan band berdasarkan genre musiknya, tapi akar musik The Porno memang jelas tertanam kuat pada tradisi DIY yang kaya dari post-punk Britania Raya dan Garage Rock Detroit. And of course with all their maximum efforts, The Porno telah berusaha keras dan cukup berhasil membuat semacam pendekatan yang jelas baik itu melalui cara dan gaya bernyanyi serta musikalitas mereka ke arah genre yang telah dieksplorasi dan dipelopori oleh beberapa band yang paling berpengaruh di masa dua puluh lima tahun lalu tepatnya akhir tahun 70an dan sudah melegenda tersebut (ie. Joy Division, Gang of Four, XTC & The Fall; to name a few). Tanpa sangsi, tentunya mereka juga telah berusaha keras untuk membuat Ian Curtis bangga sebagai Icon mereka, dengan tidak mengundang perbandingan yang negative akan hal tersebut.

Ok, cd The Porno telah terpasang di CD player saya lets hear the first track entitled “premature”, di lagu pertama yang berlirik bahasa Inggris ini they still sound a bit shy ataukah mereka memang berniat untuk membangun tempo terlebih dahulu, dengan kata lain tidak langsung hajar dengan lagu kencang, ah sangat disayangkan memang (Fyi: Saya sangat suka dengan hantaman keras di awal album ala Dinosaur Jr. He he he). Dengan amunisi sound fuzz gitar dan suara drum gagap berderap saya sudah terbayang akan seperti apa jadinya track-track berikut. Lagu kedua “To Get Through A Fence” yang berdurasi 1.17 menit ini kita langsung disodori dengan intro ketukan drum plus gigitan bass yang berakselerasi, nah disini saya mulai antusias. The Porno mulai bermain dengan gigih dan bersemangat, riff-rif gitar terdengar cukup variatif, dentuman bass terdengar membimbing dengan jelas kemana arah musik mereka.
Dari total delapan lagu di album berdurasi kurang lebih 30an menit ini hanya terdapat satu lagu yang berlirik bahasa Nasional, lainnya berbahasa Inggris semua. “So it Goes” dan “The Final” tampak terinspirasi dari album “Closer” nya Joy Division tetapi ditambah riff-riff fuzz variatif serta distorsi yang cukup berat dari effect Fender Blender dan EH Holy Stain. Lirik yang galau plus kekalutan langsung menimbulkan mood yang membenamkan kita ke dalam lumpur depresi plus effect Claustrophobia, sayang kreativitas dan pengucapan lirik masih harus sedikit lebih ditempa, dimana hal ini juga terdengar cukup jelas pada lagu “Control” padahal ini termasuk salah satu track favorite saya di album ini dari sisi musikalitasnya.
Lanjut di track kelima, akhirnya ketemu juga lagu berlirik berbahasa Nasional di album ini, “Hantam Ku Gerak Gerilya” bertempo cepat berontak penuh energy dengan teriakan lantang sang vokalis dan ending yang maut sangat cocok buat doping pelepasan adrenaline. Kemudian tiba pada track favorite saya yaitu “Introvert”, this song really surprises me, karena di lagu ini saya justru menemukan unsur shoegaze yang cukup kental, dan kalau kita berbicara identitas “Subliminal”, justru di lagu inilah saya menemukannya. Ada nuansa bawah sadar yang menarik jiwa kita ke alam euphoric melalui ketukan drum nan ramai, raungan vokal yang melodius, gigitan bass bak gerinda yang mengalir terharmoni serta reverb noise dari deruan gitar yang raw dan membius. Di lagu ini pula mood saya bisa sedikit cerah setelah 6 kali dihantam dengan nuansa kesuraman dan kegalauan yang cukup monoton dan hampir membuat saya mengecilkan volume amplifier saya. In Other words, The Porno is actually quite talented dalam menciptakan lagu-lagu bernuansa shoegaze.
The Last track sekaligus berdurasi paling panjang lebih dari enam menit called “Minor”, nah yang ini jelas-jelas inspired by The Stooges, kalau ada yang berani menyangkal silakan berdebat dengan saya. Eksplorasi maksimal dari gitaris The Porno tercurah habis-habisan di lagu ini, noise, reverb, distorsi dan fuzz campur aduk menjadi sesuatu disorder yang mengadiksi, detakan drum yang gagap dan konstan monoton courtesy The Stooges sukses menjadi jiwa di lagu ini. Saya sangat suka dengan struktur lagu ini, ada unsur psychedelic dan acid sebagai bensinnya, but again saya agak kurang nyaman dengan seksi vokal di lagu ini, but this is still my favorite track from the Album.

My final conclusion, Album ini bagus dan inovatif meskipun masih terdapat beberapa flaw yang cukup mengganggu terutama di bagian vocal dan lirik, akan tetapi riff-riff gitar yang tajam dan variatif, ketukan drum konstan repetitive yang menjadi salah satu ciri khas genre post punk serta sedikit unsur psychedelia yang kemudian disempurnakan dengan aransemen yang tight dan sesuai dengan apa maunya Band ini, menjadikan album ini sebuah debut segar dari salah satu pengusung post punk di Indonesia ini layak untuk didengar dan dibeli tentunya, bukan sebuah debut yang fantastic dari The Porno tetapi justru itu yang menjadi nilai plus dan mereka telah menetapkan dasar pondasi yang kuat dari identitas musik mereka dan
juga sebuah nostalgia instant atas spirit DIY dan bawah tanah dari 70s -80s post punk movement .
Saya juga yakin mereka masih akan dapat berkembang lebih baik di materi-materi mereka berikutnya, For their next releases, saya ingin lebih banyak mendengar The Porno lebih bereksperimen dengan musik mereka dan tanpa segan-segan mau mencomot pengaruh dari Band-Band Post Punk America dan Garage Rock lain seperti MC5, Husker Du, Sonic Youth, Gang of Four (UK), The Sound, Pere Ubu, Mission of Burma, The Birthday Party (UK) atau dari legenda Rock macam Velvet Underground, Pink Floyd maupun The Doors sekalipun.

Come on Guys Post Punk isn’t only about Ian Curtis and Joy Division... In The End, Congrats buat The Porno, you’ve made it keep rockin mates!!! The Drowner
Photobucket
star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos
Get this fascinating album at your favorite record stores, such as Aquarius, Aksara, or else!! 

Friday, January 16, 2009

The Pixies - Trompe le Monde

Photobucket

Trompe le Monde adalah album the Pixies pertama saya. Sebuah rekaman istimewa dengan proses pembelian yang istimewa pula. Saya sampai rela bolos sekolah untuk melakukan transaksi dengan seorang teman dari teman yang kurang menyukai cd ini. Saat itu saya membolos untuk pertama kalinya dalam hidup, perasaan pun cukup campur aduk. Tetapi rasa tidak enak hilang dalam sekejap ketika cd berpindah tangan. Sihir rock membuat saya lupa segalanya, termasuk kewajiban sebagai pelajar yang baik.

Saya mengenal the Pixies melalui artikel tentang sang gitaris, Joey Santiago, di majalah Guitar yang merupakan oleh-oleh pemberian ayah sepulang dari luar negeri. Joey memaparkan banyak tentang proses kreasi permainan dan sound gitarnya bersama band asal Boston itu. Artikel edisi tahun 1991 tersebut bahkan menampilkan denah guitar-rigs (ilustrasi skema efek-efek dan ampli gitar) Joey. Sebagai anak ingusan yang sedang getol-getolnya mengeksplorasi gitar, saya menjadi penasaran akan musik the Pixies. Apalagi setelah sering menemukan citra logo band tersebut di iklan penjual t-shirt rock pada majalah-majalah musik terbitan luar. Saat itu logo huruf ‘P’ bersayap dengan lingkaran luar aneka warna terlihat teramat keren, serasa terus memanggil sanubari saya untuk lebih mendekatkan diri pada santo Black Francis dan teman-temannya.

Album ini adalah kumpulan rekaman studio terakhir the Pixies. Dibuat ketika ego Black Francis sedang menuju titik kulminasi. Ia tidak menginginkan adanya kontribusi lagu dari anggota lain, seperti Kim Deal, yang biasanya hadir di album-album sebelumnya. Banyak yang menganggap Trompe le Monde secara tidak langsung adalah album solo pertama Francis. Pembubaran band pun tinggal menunggu waktu saja. Tetapi itu semua tidak membuat album ini menjadi lemah dan basi. Dengan pendekatan musik yang cenderung lebih keras dan lirik-lirik surreal nyeleneh berbau fiksi ilmiah khas Francis, Trompe le Monde menjadi sebuah paket perpisahan yang dahsyat. Dari mulai lagu pembuka, “Trompe le Monde” yang singkat, lugas dan padat (berdurasi 1:46 menit) lalu “Planet of Sound” hingga sinisme terhadap hipster indie-rock/college-rock berwujud “Subbacultcha” dan “U-Mass” (Francis dan Santiago merupakan bekas mahasiswa University of Massachusetts). Saat pertama kali mendengarkan “U-Mass” saya sudah merasakan adanya sinisme di lagu tersebut. Dengan lirik seperti “Oh, kiss me cunt… Oh, kiss me cock… It’s educationaaaaal!” dan riff chorus yang seperti “Smells Like Teen Spirit” (entah duluan siapa, Nirvana atau the Pixies, yang pasti lebih dulu "More Than a Feeling"-nya Boston, hehe...).

Salah satu momen favorit saya dalam album adalah ketika mereka mengkover lagu the Jesus and Mary Chain dari album Automatic, “Head On”. Mereka membuat lagu yang ‘lurus’ dan ‘dingin’ tipikal Mary Chain menjadi agresif. Lagu tersebut bersama “The Sad Punk” cukup berandil membuat kasur kamar tidur saya hancur akibat slam dance tak bertanggung jawab. Saya juga ingat masa di mana lagu-lagu seperti “Letter to Memphis”, “Bird Dream of the Olympus Mons”, dan “Motorway to Roswell” mengisi kerinduan saya akan kisah kasih yang tak sampai ketika SMA. Saya jadi senyum-senyum sendiri sekarang. Aneh memang. Masak lagu berlirik fiksi ilmiah tentang alien jadi sarana romantisme percintaan? Ahaha! Musiknya, kawan… Biarkan ia berbicara…

Cd yang tampil di foto bertanggung jawab terhadap Sabtu indah di tahun 1992. Juga terhadap koleksi the Pixies dan album-album indie-rock Amerika lain yang saya beli setelahnya. Penuh sihir. Clockender

Q (10/91) - 4 Stars - Excellent - "...an unqualified triumph...Several of the songs here manage to combine furious garage riffing with sudden flashes of pop melody..."

Photobucket
Source: Seperti yang sudah dijelaskan di atas, saya membeli cd ini dari seorang teman yang bernama Dan Amal Beck. Ayahnya bule, sering ke luar negeri. Cd ini pun dihadiahkan oleh sang ayah dari sana. Tetapi Dan kurang suka dengan musiknya, ia lebih senang hardcore punk. Saya tidak pernah mendengar lagi kabar dari anak itu selain selentingan berita dari teman-teman per-skateboard-an kalau ia sempat menjadi seorang skater profesional di negeri asal ayahnya.

Wednesday, December 24, 2008

Velocity Girl - Copacetic

Photobucket

Okay, let me go straight, so there will be no band called Cherry Bombshell if Gergaji or Pecunk (two founder of this band from Bandung) never notice this band! Yep, it’s true. Siapapun yang telah mendengarkan isi album debut resmi mereka ini di label Sub Pop bakal berkata sama. Velocity Girl memadukan aura sonik dari scene shoegaze di Inggris dengan sisi melodik dari alternatif indie pop, an approach which by para kritikus melabelinya sebagai 'bubblegrunge' (hah?). Toh, Velocity Girl menjadi salah satu band AS tersukses dan banyak dibicarakan di scene indie rock UK dan AS pada era '90-an.

Berdiri di Silver Spring, MD pada bulan September 1988, band ini diperkuat oleh Sarah Shannon (vokal) Archie Moore (gitaris, vokal), Kelly Riles (basis), John Barnett (gitaris), dan Berny Grindel (drum). Album Copacetic bisa disebut sebagai salah satu album terbaik dari scene indie di AS. Vokal Sarah Shannon yang girlie dan manis bersanding dengan fuzzy sounds dari Archie dan Barnett. Begitu berwarna materi album ini, tak hanya khas white noise fuzz seperti lagu populer mereka di album ini “Crazy Town” atau “A Chang”, tetapi juga variatif seperti college pop, indie rada jangly seperti “Audrey’s Eyes”.

Dirilis pada tahun 1993, penempatan materi lagu di Copacetic tak bisa ditebak, suatu saat berada di sebuah track lagu yang indie stuff, tiba-tiba di lagu berikutnya yang berasa fuzzy indie psikedelik, dan tiba-tiba muncul lagu up-tempo dan kemudian dreamy. Tetapi ‘kekacauan’ ini justru menjadi artistik dan menarik sekali. Album Copacetic jelas menjadi sebuah debut seru dari Velocity Girl.

Berkat dua singel "Crazy Town" dan "Audrey's Eyes" di album ini, Velocity Girl menjadi salah satu band yang mengangkat image label Sub Pop dari sekadar label band grunge saja. Ketika Copacetic dirilis, penjualannya bahkan yang menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah label tersebut, setelah album Bleach-nya Nirvana. Marr

Hints: Nama band ini diambil dari judul lagu Primal Scream berjudul sama, "Velocity Girl".

Rolling Stone (6/10/93, p.71) - 3.5 Stars - Very Good - "...haunting yet hummable noise pop...vocalist Sarah Shannon's willowy soprano dominates COPACETIC's sound..."

Source: Setelah disuruh lihat oleh Mr. Reza Ansel di youtube.com videoklip "Crazy Town". Darn, this band is totally so good! On the next day, i quickly ordered it from eBay, with a cheap price also.


Photobucket

get the link!

buy it!