Satu postingan semalam di Instagram milik Seaside menyatakan bahwa band indiepop dreampop asal Jakarta ini bubar. Mewariskan Undone, album yang beautfully gorgeous.
Ketika postingan itu muncul, saya berpikir, wow, band sebagus itu bubar. Band dreampop indiepop lokal yang menurut saya paling memikat dari semua band yang pernah ada. Jika kamu pernah membeli cd album pertama mereka Undone, mungkin saja bisa setuju pendapat saya. Album yang intimate and sensual at the same time.
Dan menyadari bahwa Seaside bubar, jadi berpikir mungkin saya tak akan menemukan lagi band seperti mereka. Album Undone adalah karya yang begitu bagus dari sisi lirik dan musik. Bagi saya Andi Hans dan Stacy (vokalis album Seaside yang juga membuat lirik dan musik) seperti Johnny Marr dan Morrissey, keduanya menghasilkan chemistry yang kuat dan terlihat dari lagu-lagu di album tersebut.
Bahkan ketika Stacy keburu memutuskan mundur menjelang dirilisnya album Undone, saya tetap menyukai band ini. Namun memang menghilangnya Stacy jelas mengurangi warna Seaside yang orisinil. Saya pikir bagi mereka yang pernah menonton Seaside saat masih bernama Carnaby atau Fawnes, tentu bisa memahami maksud saya.
Merilis dan memiliki roster macam Seaside adalah satu momen terbaik bagi kami di Anoa Records. Saya masih ingat bagaimana dahulu kami memilih Seaside sebagai rilisan kedua setelah Barefood. Dahulu sebenarnya kami hendak merilis Whistler Post, band Andi Hans dan istrinya saat itu. Namun karena keburu diambil label lain.
Kemudia Hans mengajak saya dan Andri ke studio Heyfolks dimana band lainnya bernama Seaside sedang rekaman. Ketika Hans memutarkan draft lagu kepada kami di luar studio, hanya cukup 10 detik saja mendengarkan materi, kami berdua langsung 'memaksa' Andi Hans untuk membiarkan kami saja yang merilis album Undone hahaha
Seaside formasi Undone
Dan ketika kami baru menyelesaikan produksi CD dan mulai distribusi di jaringan kami, sebulan kemudian muncul kabar Stacy mundur karena urusan keluarga dan pekerjaan di luar negeri. Terpaksa Tania membantu Seaside dan Cassandra, gitaris Seaside juga menjadi vokalis dadakan.
Beberapa lama kemudian Seaside mulai memasukkan darah baru yang berbakat seperti Trisca dan kemudian Woro. Beberapa materi sudah direkam yang cukup melelahkan untuk album kedua. Beberapa kali manggung, lagu-lagu baru dimainkan dan jujur saja, materi yang bagus dan enak didengar, berbeda dengan warna album Undone, pilihan yang bijak sebenarnya.
Saya tahu cukup banyak yang menantikan album kedua mereka. Termasuk album pertama mereka yang jujur saja sudah tak ada di gudang dan banyak returan CD dan hasil titip jual yang tak lancar dari beberapa tempat.
Tapi pada akhirnya tak semudah yang dibayangkan. Saya pikir motor Seaside tetap pada Andi Hans meski ditinggal Stacy. Dan meski Hans pernah bilang kepada saya kalau dirinya beberapa waktu lalu menjadi personil adisional Seaside (entah becanda atau nggak), saya pikir ketika kehilangan partner bermusik yang sudah satu chemistry seperti Stacy, tentu akan berbeda passionnya.
Entah apa alasan sesungguhnya, tapi bagi saya Seaside jika sudah bubar, ya bubar saja. Bahkan justru lebih baik bubar, karena band yang keren adalah band yang tahu diri jika saatnya berhenti. Sepertinya halnya The Smiths, ketika Johnny Marr yang memulai dan mengakhirinya sendiri dengan cabut dan band itu bubar. Gitu aja.
Rumahsakit bagi saya adalah band esensial. Jika pernah hadir di gempita scene britpop tahun 90an sampai awal 2000an tentu paham.
Dahulu saya punya kaset dari band ini, lalu hilang gegara gak dikembaliin. Alhamdulilah baru2 ini seorang rekan memberikan ke saya cuma-cuma. Bahagia tentunya.
Lalu saya putar kaset ini di rumah. Sudah lebih 10 tahun saya kehilangan kaset tsb, dan kini memutarnya lagi. Damn. Lagu2 mereka tak pernah gagal menghibur saya.
Masih ingat dulu pas kuliah latihan band bawain lagu hilang dan Datang. Pop kinetik tentunya. Lagu2 yg keren. Lead gitarnya tak susah dikulik. Keren.
Dulu pernah ada videoklip Hilang di tv. Pertama lihat aneh banget, para personilnya rambut polem pinggir, lipstik di bibir, dan gayanya cool cuek. Si vokalis pernah bilang dia sebenernya tengsin bgt dgn dandanannya di vidklip tadi. Video ini malah benar2 hilang, tak ada di youtube.
Sekarang band itu sudah berubah. Si vokalis berganti sosok, musik pun berbeda. Jujur, saya tak mudeng dengan versi terbaru.
Mungkin saya golongan gagal move on. Mau apa di kata. Rumahsakit di masa lalu terlalu esensial. Setidaknya kaset ini (tak) hilang lagi.
The Monophones adalah band terbaik dari skena indie di Yogyakarta. Dan album perdana mereka pun akhirnya diterbitkan kembali.
Absen dari acara csd2015 lalu akibat kerjaan kantor memang bikin hati nelangsa. Namun bersyukur ada manteman yg mau dititipkan tuk beli satu dua kaset bagus.
Salah satu incaran saya adalah kaset the Monophones. Band Yogya yg luar biasa, musik pop lawas yg patut sejajar dengan White Shoes and the Couple Company, dan juga Sore. Pertama kali mendengar band ini kalau tak salah di kompilasi tribute to Naif.
Kaset album bertitel a Voyage to the Velvet Sun sebelum reissue termasuk mahal dan susah pula nyarinya. Kaget juga label Ivy League ngerilisnya. Yang kurang dari reissue ini mungkin cuma tak ada download cardnya aja.
Bagi saya band ini ajaib. Begitu retro khas musik Pop Indonesia di era 70an. Aransemen dan gubahan musiknya harus diakui tak kalah dengan band2 Jakarta semacam Sore atau WSATCC.
Andai ketika masih aktif, the Monophones menetap di Jakarta, mungkin bisa membesar seperti kompatriot lainnya. Saya yakin pasti bakal ditarik label Aksara Records. Cuma sekarang band ini sudah bubar.
Terlalu sayang utk band ini menjadi sekadar obscurity semata. Dirilisnya kembali kaset dari album ini oleh Ivy League Records adalah hal terpuji.
Menjelang akhir 2015, Anoa Records bersiap merilis album mini dari sebuah band Bandung yang ajaib.
Begitu ajaibnya karena band ini dihuni oleh orang-orang yang bisa dibilang pernah tampil di beberapa band penting di Bandung seperti Cherry Bombshell, Themilo, Lass, hingga Puppen. Dan band bernama Silverglaze ini tak pernah sekalipun manggung meski sempat memamerkan dua lagu di laman MySpace. Itu pun tanpa woro-woro tentang siapa sebenarnya personil band tersebut.
Bersama Anoa Records, Silverglaze akan meluncurkan EP bertitelEssay di awal Desember 2015, dengan single utama berjudul "We Can Do It Now Together". Bersama RollingStone.co.id, Silverglaze akan melepaskan single tersebut dalam format bebas unduh bebas biaya. Silverglaze terdiri dari Ajie Gergaji (Cherry Bombshell, Themilo), Widi (Cherry Bombshell, Lass) dan Ajo (Cherry Bombshell, Puppen). Masa lalu mereka memang saling terkait dengan Cherry Bombshell dimana ketiganya hadir di dua album penuh,Waktu Hijau Dulu dan Luka Yang Dalam. Kini mereka telah ‘reuni’ dalam wajah yang berbeda dan lebih segar.
Single utama ini mewakili corak musik Silverglaze yang indie pop/rock. Sebagai jebolan penikmat band-band rock alternatif '90-an, tak akan susah mengendus karakter musik mereka, yang telah dirintis oleh band-band seperti Belly, Lush, Madder Rose, Velocity Girl, dan Juliana Hatfield. Dan sebenarnya, tak akan ada Cherry Bombshell tanpa kehadiran beberapa band-band di atas.
"We Can Do It Now Together" adalah awal mula yang sempat tertunda di masa lalu. Kembalinya Widi dan Ajo ke dunia yang sempat mereka tinggalkan setelah memutuskan untuk berkeluarga. Dan Aji melengkapi Silverglaze, bersama-sama, sebagai sahabat lama yang tak melupakan gairah mereka dalam sebuah band. They can do it now together.
Dapatkan single We Can Do It Now Together di situs anoarecs.com
Sesi interview pertama kali bersama Blossom Diary sejak mereka menghilang tanpa kabar. Sang gitaris dan salah satu pendiri band cult ini berbagi cerita tentang masa lalu, kehilangan gairah ngeband, dan sebuah rilisan terbaru bersama Anoa Records
Blossom Diary benar-benar sebuah band yang unik. Mereka tak seterkenal The Upstairs atau The Adams yang merajai pensi di mid 2000-an, meski band ini tumbuh bersama band-band tersebut di era tersebut. Band ini turut meramaikan acara musik seperti Parc dan lainnya, namun tetap begitu saja.
Dihuni oleh beberapa personil jebolan kampus Bandung yang mendirikan C'mon Lennon, Blossom Diary menampilkan keanehan tersendiri dengan musik yang diusung, ketika saat itu cita rasa Britpop masih belumlah luntur. Musik yang sederhana, biasa saja, ngepop, namun tak biasa dan keren, seperti band-band di Sarah Records. Bahkan oleh David Tarigan, merekalah band pertama di Indonesia yang mengusung musik seperti band-band di Sarah Records.
Blossom Diary ver.1
Menghilang tanpa bekas dan kabar, meninggalkan sejumlah rilisan dan lagu yang tersebar di Youtube, Blossom Diary menjadi seperti hantu. Lagu-lagunya dibawakan oleh band-band indiepop di acara musik underground indie pop yang penontonnya pun hanya 50-an. Nggak sampai seratusan malah. Gaib. Rilisan-rilisan mereka sekarang dihargai dengan harga yang bikin geleng kepala.
Kini, saya berhasil mewawancarai gitaris dari Blossom Diary, Angga Adiyatama untuk berbagi cerita tentang banyak hal, masa lalu, saat ini, termasuk berkaitan soal sebuah rilisan terbaru mereka bersama label Anoa Records, yang menurut saya sangat penting dan wajib dinikmati oleh siapapun. Karena musik mereka terlalu keren untuk diumpetin.
1. Ceritain bagaimana blossom diary bisa terbentuk?
Awalnya saya dan Dias (vokalis) memang berangkat dari teman sekolah smp dan sma, dan kita punya ketertarikan musik yang
sama. Sebelum pindah kuliah di Bandung, kami sudah lumayan sering ngeband juga pas SMA di Jakarta. Dan
kebetulan pas kuliah kita berdua ternyata pindah ke Bandung tahun 1999, kami mulai iseng bikin-bikin lagu, bikin lirik, dan
akhirnya coba ajak juga temen-temen dari Bandung yang kebetulan selera
musiknya sama juga untuk ikut bantuin. Di awal kita sempet ajak Deni
Hotaman untuk ngisi bass, dan Donny untuk bantuin di Drum. Kita
ketemu Deni dan Donny juga sebenernya dari temen ke temen juga dan
kebetulan kita dulu di Bandung juga sering untuk cari-cari atau tuker
atau jual-beli CD band, dari situlah kita mulai kenal Deni, Donny dan
temen-temen di Bandung lainnya dan mulai sering main bareng hangout
bareng dan sampai akhirnya Blossom Diary kebentuk disekitar tahun 2000
atau 2001 saya lupa.
2. Pengaruh musik band kalian begitu Sarah-esque yah?
Basically,
kita memang sudah into banget sama sound band indie yang berbau folkish
atau yang agak ke indie rock. Kalau mengenai Sarah records sendiri
menurut kita, Sarah records itu melebihi dari sekedar musik sih, tapi
lebih ke movement yang mereka ciptain dan idealisme yang mereka
benar-benar pegang tanpa memikirkan apakah sebuah record label akan
untung atau rugi. Jadinya musik dari masing-masing bandnya pun menurut
kita pure banget, dengan skil yang seadanya, budget yang minim,
instrument yang seadanya tapi mereka tetep bikin karya bagus dan
ternyata musik dari band-band Sarah record bisa kesebar luas dibelahan
dunia lain.
Kalau output musik kita sebenrnya kita memang
admire banget sama Sarah Records dari segi sound-sound lo-fi setiap band-bandnya, dan menurut kita pada saat itu sepertinya keadaan kita di
Bandung pun gak jauh beda dengan apa yang kita alami sama band-band Sarah
records, mengingat jaman dulu di Indonesia band-band indie agak susah
untuk diterima seperti sekarang.
3. Bagaimana proses kreatif kalian bikin lagu?
Semuanya
sangat natural, kita bikin lirik dan musik berdasarkan pengalaman yang
kita atau sekitar kita alami dan dari refrensi musik yang kita suka
dengerin.
4. Pertama kali single kalian di ripple edisi pertama yah?
Iya,
kita ditawarin oleh David Tarigan untuk ikutan di kompilasi itu,
kebetulan dulu David Tarigan masih di Bandung dan ikut bantu-bantu juga
di Ripple.
5. Bisa ceritain behind the stories dari rilisan album kaset self titled dan ep About the Poor Boy?
Jujur saya pribadi setelah saya dengerin lagi album
Blossom sekarang ini agak kaget haha...soalnya dulu kita sempet berfikir
ini album soundnya gak bagus. tapi setelah sekarang kita dengerin
ternyata sound album ini kalo didengerin lo-fi nya dapet banget. Anyway
untuk album kita ceritanya agak panjang, karena prosesnya lumayan lama
tapi seru. Dari mulai Donny sebenrnya gak bisa main drum, dan akhirnya
dia belajar hehe. Kita juga sempet recording beberapa lagu di tempat
Richard Mutter di Reverse ya kalo gak salah. Dan sempet juga recording
di studionya Lulu, saya lupa apa nama studionya. Dan akhirnya mixing
masteringnya dibantu teman kita Andi Lelew.
Untuk EP,
disini kita kebetulan sudah kembali hijrah ke Jakarta disekitar tahun
2003-2004, dan disini ada pergantian personel, ada Iyus gantiin posisi
Deni, Uga sementara gantiin Donny yang akhirnya posisi Uga juga diganti
oleh Ade dan kita juga ada satu personel baru di gitar yang diisi Andi
Hans.
Semenjak kita hijrah ke Jakarta pun banyak juga
perubahan lain pada Blossom Diary waktu itu diluar dari pergantian
personelnya. Seperti pengembangan musik Blossom sendiri juga kita pengen
sesuatu yang benar-benar baru dan beda dari album kita sebelumnya.
Blossom Diary ver.2
Dan
akhirnya pada EP kita "About the Poor Boy", disitu mencoba untuk
meberikan sentuhan baru pada musik Blossom, yang tadinya di album
pertama gak ada distorsi, disini semenjak ada Andi Hans masuk disitu
kita coba untuk eksplore sound gitar. Kita juga mengajak
salah satu band Free Jazz favorit kita di Jakarta yang kebetulan juga
adalah teman-teman kita jaman ngeband di SMA yaitu Tomorrow People
Ensemble. Di EP ini TMP mencoba mere-arrange satu lagu dari album
pertama kita yang berjudul " Something like your smile" , kita gak
nyangka banget dengan hasilnya yang bagus banget dan ternyata disini
kita juga udah melakukan crossing genre musik, dan kenapa enggak.
Semenjak kita hijrah balik
ke Jakarta ternyata banyak sekali yang merubah pattern Blossom Diary.
Saya rasa perubahan musiknya bisa banget dari banyak hal, misalnya di
biasanya kita di Bandung kotanya kan tenang nyaman, sedangkan di Jakarta
kotanya hectic lah macet lah, etc. Dan kitapun juga banyak kenal lagi
teman-teman baru di Jakarta maupun musik atau diluar musik, dan itu
sangat mempengaruhi Blossom pada saat itu. Dan kita
ngeliatnya sesuatu yang baru itu harus kita enjoy dan harus bisa
beradaptasi dengan situasinya juga, jadinya ya natural aja kita ikutin
pola kehidupan di kota besar juga.
7. Anoa Records akan merilis album the complete kalian. Bagaimana kesan elo dengan rencana tersebut?
Kita
seneng banget udah pasti, kita sempet mikirnya musik kita dulu gak
bakalan tahan sampe 5 tahun kedepan hahaha apalagi yang album pertama,
nenurut kita itu projek idealis banget soalnya, jadi ya lumayan tutup
mata aja kalo laku ya sukur kalo gak ya yang penting gue pernah bikin
dan puas sama hasilnya, jadi gak banyak berharap banget untuk sampai
sejauh ini mau di release ulang, kita sangat appreciate banget hehe.
8. Band kalian menurut gw telah menjadi band yg penting dan mungkin
cult. Bahkan lagu kalian dicover band baru. Any thoughts bout it?
Amin,
seneng banget kalo ternyata musik yang kita bikin lebih dari 10 tahun
lalu dan yang kita pikir gak mungkin orang bisa tahan dengerinnya
ternyata bisa menginspirasi band-band sekarang hehe, really appreciate
it.
Kalo ternyata ternyata menjadi cult kita kaget juga
sih, berarti apa yang kita dulu inginkan seperti movementnya Sarah
records dan etc ternyata berdampak sekarang.
Pointnya
sebenernya adalah kalo kita emang mau bikin sesuatu yang berbeda, ya
total aja, karna kita gak pernah tau juga dikedepannya akan berdamapak
seperti apa, selama kita seneng ngerjainnya mending dipush limitnya.
9. Kenapa sih Blossom Diary tiba-tiba menghilang?
Mungkin
karena semenjak pindah ke Jakarta kita masing-masing juga sudah mulai
kerja dan disibukan sama pekerjaan dan kesibukan lain, jadi waktu untuk
ngebandnya udah bukan proiritas lagi.
10. Jika Kompilasi diskografi Blossom Diary ini rilis dan sukses memenuhi
kerinduan penggemar band kalian, apakah terbuka kemungkinan untuk
ngeband lagi
Hahahaha .kayaknya
untuk sekarang gak ada niat untuk ngeband lagi sih, semangat dan
moodnya udah gak seperti jaman dulu pas ngeband, jadi kayaknya kita
cukup untuk bantu support promo dari releasenya aja mungkin.
Info terbaru, Anoa Records akan merilis album The Complete Blossom Diary dalam bentuk CD berisikan seluruh materi yang pernah dirilis band ini, baik single kaset Ripple, Kaset, CD About the Poor Boy, dan materi unreleased mereka. Liner Notes oleh David Tarigan. Akan dirilis pertengahan tahun 2015 sebanyak 500 keping. (ed)
Bah! Records adalah label kecil. Mirip Heyho Records, mereka merilis band-band indies yang mustahil diliput Majalah Hai atau Gadis. Karena tidak ada apa-apanya.
Dan ketika saya mampir ke Kineruku, pas bayar nasi ijo beranjak pulang, tetiba mata tergelitik melihat bungkusan plastik lusuh dan sepertinya tak laku berisi kaset dan zine yang mencurigakan. O la la! Kompilasi Bah!
Senangnya. Kompilasi label ini bagus untuk yang mau berkenalan dengan band-band indies yang obscured. Ada Starwick, Young After, Winterspread, Examine Your Zipper, the silent Love sampai Kapsul.
Saya suka rilisannya. Zinenya juga suka. Rasanya sah menjadi indies seperti semangat yang diusung zine Sobat Indi3.
Kompilasi ini masih tersisa satu di Kineruku. Nggak usah beli yah. Karena numbered dan limited. Nanti jadi indies. Dan itu masalah. Karena teman saya bilang sendiri kalau Indies Ruined My Life.
Akhirnya band asal
Jakarta ini merilis sesuatu sejak kejayaan era Myspace. Album perdana band seminal
shoegaze yang menyenangkan dan alt-ish.
Whistler Post - S/T
Inilah review dari band yang telah saya tunda begitu lama
diakibatkan beberapa hal. Pertama, tiba-tiba tape boombox CD saya gagal membaca
CD album ini, dan hanya di track 7 dan terakhir. Kedua, saya lagi pusing sama
rilisan label Anoa Records dan juga kerjaan kantoran. Dan tiba-tiba malam ini,
sepuluh menit sebelum saya mengetik paragraf pertama, boombox yang aneh ini
(karena hanya gagal baca CD Whistler Post, sementara CD-CD lainnya aman) mau
membaca seluruh track lagu dari album mereka! Padahal saya iseng saja nyobain
kali saja berhasil. “..life.”
Album perdana Whistler Post, bagi saya adalah penantian
begitu lama. Masih teringat jaman era Myspace, dan menemukan laman page band
ini. Langsung saya jatuh hati karena musik mereka mengingatkan kepada band-band
era 90an, seperti Drop Nineteens, Ivy, Velocity Girl dan tentu saja Lush. Masih
ingat dulu pernah pengen ajak band ini ikut acara Tribute to 90s Shoegaze
bawain Lush, namun malah ragu-ragu gitu mereka diajakin hahaha :P
Tapi sudahlah, akhirnya hadir juga album Whistler Post yang
menurut saya, sangat apik dan menyenangkan! Pasutri yang aktif di skena lokal,
Andi Hans (Seaside, Pandai Besi, Cmon Lennon, etc) dan Tania (Clover), mereka
menjadi songwriters dari album ini, chemistry mereka sudah terlihat sekali,
bahkan saat masih fase ‘berpacaran’. Suara tipis dan khas Tania, dan kepiawaian
Hans meracik tekstur musik di setiap lagu, sudah jadi jaminan mutu.
Lagu pembuka, Better Days langsung menyapa dengan kesan yang
hangat. Denting piano pun menyelimuti lagu teduh seperti Like A Star. Lagu Till
The End, begitu memikat dengan beat dan petikan gitar Hans yang simple dan enak
di telinga. Saya berpikir album ini jika saya sempat bilang album Seaside ‘Undone’
bisa disejajarkan dengan Themilo ‘Let Me Begin’, album Whistler Post mungkin
bisa disandingkan dengan album Cherry Bombshell ‘Waktu Hijau Dulu’. Itu
pendapat saya.
Whistler Post
Keseluruhan album yang dirilis DFA Records ini adalah album
yang memikat dan bersyukur saya sudah membelinya dua kali. Sungguh jarang lagi
bisa menemukan band-band dengan sounds dan musik seperti Whistler Post ditengah
selera skena lokal yang lagi asyik masyuk dengan delay dan ambient melangit
meruang. Album ini segar!
Pasutri dari wilayah Bogor, Jawa Barat. Berdua saja dengan satu mesin loop drum, bernada indie-punk dari hantu slacker indie pop minimalis di garasi dan basement Amrik pada akhir tahun 1980-an.
Sex Sux - Sing Along with Bananas!
I'm so fuckin love with this band. Pertama melihat band ini sekitar dua tahun lalu saat seorang teman membuat acara dan mengundang band ini ke Jakarta, lupa saya, antara Wastedrockers atau Heyho Records, mungkin dua-duanya! Whatever, intinya sejak pandangan pertama Sex Sux, saya meyakini band ini brilian, dan seharusnya mendapat atensi yang layak. Kenapa? Cool as Fuck, that's why!
Dan ketika ada isu bahwa Heyho Records bakal merilis album perdama Sex Sux, bertitel Sing Along with Bananas, tak ada kabar sekeren ini di skena indie. Itu pendapat saya. Band yang dihuni pasutri dari kota hujan, Deni dan Melly, meramu sepuluh lagu yang sebagian sudah ada di dua EP Sex Sux sebelumnya. Musiknya memiliki benang merah dengan band-band klasik indie pop/twee, minimalis, raw dan lo-fi, semacam band K Records.
Dua EP Sex Sux.
Beberapa lagu favorit, well, semuanya sih, tapi saya menyukai I Got Bones (in the Kitchen), Ooh Sha Laa, Ceiling, dan, khususnya Coffee and Cigarette, so perfect. Album ini pun direkam secara minimalis di studio rumah mereka. Kesan lo-fi terasa sekali, dan justru itu membuat album ini lebih tertangkap emosinya, mungkin terasa spontanitasnya.
Sex Sux sebenarnya menghadirkan kesegaran baru di skena lokal yang mulai kurang variatif. Sayangnya, kondisi kesehatan Deni tidak memungkinkan untuk hadir di atas panggung. Penyakit serius terpaksa membuatnya harus berada di rumah. Beruntung label Heyho Records yang diurus DJ Deebank dan Mamed tetap merilis album mereka, meski promo album ini tak optimal.
Sex Sux
Album Sing Along with Bananas layak untuk dibeli dan didengarkan. Kita bicara soal sebuah band yang memiliki keunikan, baik dari musik, lirik, dan aksi live mereka. Kesederhanaan yang keren, the coolest of simplicity. Saya berharap Deni cepat sembuh dan bisa mencubit penikmat indie untuk segera buka telinga dan dengar band satu ini. Dan meski terlalu dini, saya langsung mendaulat album ini sebagai album terkeren di tahun 2013. Kenapa? Cool as Fuck!
*album ini bisa dipesan via Heyho Records di facebook dan toko musik indie.
Semanis pagi hari, begitulah album terbaru dari Ayushita, sang bintang layar kaca. Suguhan musik berkelas yang tak pernah terlintas dilantunkan oleh salah satu personil supergrup BBB.
Morning Sugar
Suatu hari, seorang teman menyuruh saya untuk membeli sebuah cd bertitel Morning Sugar. Katanya, saya tak akan kecewa meski penyanyinya adalah Ayushita, personil dari supergrup BBB, a.k.a Bukan Bintang Biasa. Jaminannya, Ricky Virgana (White Shoes and the Couple Company) dan Mondo (Sore) menjadi produser dari keseluruhan materi lagu di album tersebut.
Dan, betul sekali, album yang menurut saya begitu apik, cantik, dan berkelas, namun tidak 'maksain'. Ricky dan Mondo, berhasil menyulap sosok Ayushita yang dikenal sebagai sosok artis sinetron yang menyanyikan tembang pop 'pasaran' menjadi Ayushita yang jauh berbeda. Suara vokal Ayushita yang sedikit tipis namun nyaman, menghiasi setiap lagu album ini yang khas olah musik dari band-band yang dihuni Ricky dan Mondo.
Tak heran, kalau melihat dari list musisi yang membantu album ini, melibatkan tim dari band Ricky, dan juga ada Anda. Tapi album ini tidak mengecewakan. Beberapa lagu seperti Fufu Fafa, Morning Sugar, ataupun Tonight is Mine, begitu manis dan hangat di telinga. Trek favorit, sebuah lagu lawas Melly Goeslaw berjudul 'Salah'. Di tangan Ricky dan Mondo, lagu ini menjadi begitu sempurna. Jujur, ini pilihan lagu yang sangat tepat, pas dengan konsep album, dan juga menurut saya, hanya lagu itu yang paling saya sukai dari Melly Goeslaw.
Album ini boleh disebut sebagai make over yang cantik. Album ini jelas tak akan sesukses kalau Ayushita tampil di BBB. Tak akan menjaring ringtone, atau pun wara-wiri di setiap tangga lagu di layar kaca. Mungkin juga acara live show model Dahsyat pun, dan sejenisnya tak akan tertarik. Saya tak bisa membayangkan para figuran di acara dengan yel-yel khasnya, mengiringi Ayushita bernyanyi lagu-lagu manis itu.
Pilihan yang tidak biasa dari Ayushita memilih ranah indie pop, dan berhasil melahirkan album semanis pagi hari yang anda pernah alami. Album yang dirilis Ivy League Music ini bukan album biasa. Nona ini ternyata punya selera, kelas, dan tentu nyali. Manis.
Tak berselang lama reuni dan album (kompilasi) terbarunya di awal Desember, Andri Lemes cs, kembali bersiap dengan kejutan terbaru. Bersama label yang banyak maunya, Banyak Mauu Records, Rumahsakit akan merilis vinyl 7 inch di awal tahun 2013.
poster rilis donat 7 inci rumahsakit
Dari segelintir band indie lawas tanah air yang saya harapkan bisa dirilis kembali dalam bentuk vinyl, tak lain Rumahsakit. Saya kerap lempar topik dengan teman-teman, soal band-band apa dan rilisannya bakal seperti apa. Dan ketika bicara band Andri Lemes cs ini, semuanya setuju dan sepakat jika ada yang bisa ngomporin Rumahsakit untuk sebuah rilisan semacam itu.
Awal tahun 2012 saat saya lagi ngebantu Planetbumi di acara Jaktv, sempat bertemu dengan Andri dan si Anda Twins (atau si Andi kembarannya yah?) dan ngomongin niatan si Anda (atau Andi?) yang tertarik merilis kembali dua album Rumahsakit dalam bentuk vinyl. Tetapi yah, tak ada terdengar lagi kabarnya.
Dan akhirnya, sebuah label baru yang dirintis oleh kedua teman, Banyak Mauu Records, berhasil membujuk Rumahsakit untuk dibuatkan rilisan versi vinyl berukuran diameter tujuh inci, biasa disebut donat. Saya pikir ini adalah hal paling keren untuk menyambut reuninya kembali band britpop lokal idola ibukota Jakarta seperti Rumahsakit.
Ketika mampir di Holybazaar, Ruang Rupa, teman saya membawakan plat test pressing dan diputarkan oleh DJ AK-47. Dua lagu di donat adalah Anomali dan Hilang, dua trek yang saya pikir mewakili masing-masing kedua album legendaris dari band asal kampus IKJ ini. Eklektik dan britpop.
test pressing on my hand!
Saya jadi ingin curcol betapa Rumahsakit begitu berkesan secara pribadi, yang tentunya bakal panjang lebar dan membuat bosan. Mungkin saya simpan saja sampai dirilisnya donat itu. Bayangkan, sebuah rilisan bersejarah dari band yang jebolan skena indie lokal era 90-an yang kabarnya dilaunching di awal 2013. Donatnya indie darlingnya ibukota Jakarta, saya akan sabar menanti saatnya tiba. Comin' soon, amigos!
Biff Bang Pow!, tempat dimana Alan McGee mencoba peruntungan musikalitasnya. Pendiri label Creation Records ini mungkin tak sesukses band-band yang hidup di labelnya, namun jejak bermusik produser musik asal Skotlandia ini patut dicermati dan menarik.
Alan McGee sendiri sudah ngeband sejak tahun 1981 di sebuah band bernama The Laughing Apple di Glasgow, Skotlandia. Setelah pindah ke London, Alan mendirikan sebuah band baru bernama Biff Bang Pow!, diambil dari salah satu lagu dari band nuggets idolanya di tahun 1960-an, The Creation.
Biff Bang Pow! terdiri atas Alan McGee (vokal, gitar), Dick Green (gitar), Joe Foster (bass), dan Ken Popple (drum). Album yang tertampil di blog ini adalah sebuah kompilasi b-sides dan outtakes, dinamai Debasement Tapes. Dirilis pada tahun 1992, dibawah label binaannya Creation Records, album ini seperti sebuah kompilasi atas tendensi Alan terhadap band-band jenius yang berhasil ia temukan berkat nalurinya selama menjadi produser musik di era 80-90an. Mulai dari jangly, postpunk, noisepop, folk, hingga indie pop hadir di Debasement Tapes.
Lagu pembuka, Long Live Neil Young and All Who Sail With Him, kentara sekali dari judulnya, sebuah apresiasi terhadap sang legenda Neil Young, yang ia hormati melalui sebuah materi folk rock. Satu lagu lagi sejenis, In Bed with Paul Weller, sebuah materi untuk Paul Weller, dengan iringan organ dan kocokan gitar berdistorsi tipis dan ketukan drum yang santai.
Inside the Mushroom, sebuah lagu zat adiktif yang kental elemen noisepop disana-sini. The Death of England, menampilkan indie pop era 86, dengan sayatan biola pada gitar yang menjadi ciri khas gitaris band idola Alan, Eddie Phillips dari The Creations. Lagu dengan tensi cepat, It Makes You Scared, menjadi salah satu lagu favorit saya, terasa jangly dan indie rock.
Keseluruhan lagu-lagu di album ini, sajian gitar dikemas dengan dominasi reverb, termasuk akustiknya. Noise reverb berlebih kebetulan ciri khas dari band-band dari label Alan pada saat itu, umumnya bergenre noisepop dan shoegaze. Marr
Pernah saya dan teman bertanya apa gerangan terjadi pada skena indie saat ini yang tampak memuram. Tak terdengar lagi ragam event musik indie seramai dua tahun sebelumnya. Lokasi tempat acara pun semakin susah dicari lagi, sementara band-band indie lokal seperti berjalan di tempat. Media dan produk tak lagi melirik. Masa keemasan pesta pensi telah jadi kenangan masa lalu, dan ruang ekspresi lainnya seperti menadir.
Bak pertanda, label indie besar bernama Aksara Records wafat, untungnya sebagian bisa bertahan hidup. Toh, kreatifitas tak pudar. Beberapa band baru bermunculan menawarkan sensasi musik menawan, beberapa pemain lama yang lebih dulu eksis bersikap militan dengan kembali terjun dari bawah dalam membina basis massa dan publikasi karyanya. Aspek komersialitas dan segmentasi populer (non musik alay pastinya) pun semakin dibidik, setelah suksesnya band-band seperti Pee Wee Gaskins, yang berhasil menggaet kalangan remaja tanggung dan anak sekolahan.
Something 'El, band yang terdiri dua manusia, yaitu Lutfi dan Ladrina, merilis album perdana berjudul Tragically Romantic, yang menurut saya hendak mengendus peluang dicintai oleh anak-anak sekolahan. Bermaterikan musik-musik ringan dan lirik cecintaan yang sederhana, album ini sebenarnya bisa diandalkan. Namun saya melihat begitu banyak kelemahan dan kekurangan yang cukup krusial.
Mengusung musik pop indie bersenjatakan rona akustik Lutfi, dan suara menggemaskan Ladrina. Oke, dua senjata tersebut merupakan kombinasi manis. Namun materi album ini kurang menyimpan lick-lick dan hook menggigit. Pemolesan aransemen dan mixing sebuah album dominan akustik seperti Tragically Romantic kurang matang dan terjaga. Belum lagi bagian lirik yang meski simpel, tetapi tak ada kelihaian permainan kata-kata. Padahal lirik adalah hal paling menentukan untuk sajian album seperti ini.
Usikan lainnya adalah kemasan CD yang tampak kurang diperhatikan hasil akhirnya, dimana lembar sleeve tak pas dengan case jewel? Entah apa ini karena CD yang saya terima, tetapi hal ini juga saya temui di CD milik teman saya juga. Seperti salah satu blog terkemuka yang menyebut album mereka 'seperti terlalu terburu-buru', saya rasakan demikian halnya.
Malah saya berpikir mereka seharusnya melepas saja dulu beberapa mini album atau EP, untuk menjaga momentum karya mereka secara periodik. Keuntungannya, selain bisa memainkan ritme sounding karya-karya mereka, juga bisa menelaah lagi apresiasi dan ekspetasi pendengarnya.
Untuk album kedua, Something 'El harus lebih berani lagi mengeksplor bakat musik mereka dan menciptakan kejutan baru. Mereka mempunyai dua senjata unik, tinggal bagaimana menemukan 'The It Song' yang akan membangkitkan kembali gairah skena musik di negeri ini. Keep it Alive, El's!
The Modest, sebuah band sampingan di kala The Sastro mendingin sejenak. Dikomandani oleh dua personel The Sastro, Ritchie dan Rege, kedua sisanya adalah wajah baru, band bernafas pop indie guitar ini sempat menarik perhatian beberapa waktu silam melalui videoklip yang unik, lewat single Will Someone.
EP The Modest berjudul Instant Best Friend ini sebenarnya sudah lama 'ngumpet' di folder draft blog ini, menanti untuk diposting. Tetapi daripada terlambat sama sekali, hadirlah ulasan album mini mereka, berikut dengan bonus mp3nya. Komparasi dengan The Sastro? Sepertinya kita tak akan menemui progresifitas dari lick2 gitar ala The Sastro, namun riff-riff jernih dan beat drum yang dimainkan The Modest mengingatkan pada band-band seperti the Phoenix. Refreshing and Jangling.
Satu hal yang sempat menjadi obrolan saya dan teman ketika mendiskusikan The Modest, tak lain sosok sang vokalis dengan corak vokalnya yang agak 'oriental'?. Kami sempat menggunjingkan vokalnya di telinga kami yang bisa debatable bagi siapapun, berjam-jam jika mau diladeni, tetapi what the heck, this is music, rite? Setiap orang punya kekhasan, termasuk sebuah band, meski harus patuh norma dan nilai, dan melek nada. The Modest, tak terlalu bermasalah untuk hal-hal tersebut.
Aloha, sudah lama banget kami belum mengupdate apapun di blog ini, maklum lah, urusan waktu dan juga jaringan internet yang kadang membuat kami harus mengelus dada ketika melihat betapa lemah gemulainya kecepatannya.
Dua bulan berlalu, sebenarnya begitu banyak hal-hal yang ingin kami curahkan, mulai dari tutupnya retail toko musik Aquarius terbesar di bilangan Pondok Indah, sebuah pertanda betapa musik RBT telah menggerus produk fisik cakram cd dan kaset, hingga desas-desus bahwa scene band-band indie di negeri ini sedang berada dalam status darurat (betul-betul mengkhawatirkan, dari curhat beberapa pelaku scene indie yang tak bisa kami sebutkan namanya demi menghindarkan hal-hal yang kami inginkan).
Namun, di bulan Desember, bersyukur ada sebuah berita yang menyenangkan hati, yakni, sebuah toko vinyl bertengger di pojok dalam toko Aksara di Kemang! Bagi para pelaku pecinta vinyl bakal berbunga-bunga hatinya, dan mereka yang berusaha tidak terjerumus dalam sensasi koleksi vinyl karena belum siap mental, tampaknya harus menyerah saja.
Dan saya, salah satu korbannya. Toko Monka Vinyl ini berhasil membuat saya membeli dua plat dari album pertama dan kedua Pavement. Pada beberapa hari kemudian, saya dan pak The Drowner menyambangi kembali tempat itu, dan tanpa berpikir apa-apa lagi, kami masing-masing membeli vinyl Black Tambourine: Complete Recordings!
Diproduksi oleh Slumberland, dengan harga yang terjangkau. Bagi para penikmat musik C86, Sarah Records, dan lainnya mungkin tak akan asing pada band ini. Beberapa personilnya ternyata juga pendiri band-band ciamik seperti Lilys dan Velocity Girl. Vinyl ini dikemas menarik, plus artikel sleeve note tentang Black Tambourine yang ringan namun sarat historis.
So, untuk menyegarkan blog ini, nikmati dua video dari Black Tambourine di blog ini, For the Ex Lovers dan Throw Aggi off the Bridge. Enjoy! Marr
Okay, let me go straight, so there will be no band called Cherry Bombshell if Gergaji or Pecunk (two founder of this band from Bandung) never notice this band! Yep, it’s true. Siapapun yang telah mendengarkan isi album debut resmi mereka ini di label Sub Pop bakal berkata sama. Velocity Girl memadukan aura sonik dari scene shoegaze di Inggris dengan sisi melodik dari alternatif indie pop, an approach which by para kritikus melabelinya sebagai 'bubblegrunge' (hah?). Toh, Velocity Girl menjadi salah satu band AS tersukses dan banyak dibicarakan di scene indie rock UK dan AS pada era '90-an.
Berdiri di Silver Spring, MD pada bulan September 1988, band ini diperkuat oleh Sarah Shannon (vokal) Archie Moore (gitaris, vokal), Kelly Riles (basis), John Barnett (gitaris), dan Berny Grindel (drum). Album Copacetic bisa disebut sebagai salah satu album terbaik dari scene indie di AS. Vokal Sarah Shannon yang girlie dan manis bersanding dengan fuzzy sounds dari Archie dan Barnett. Begitu berwarna materi album ini, tak hanya khas white noise fuzz seperti lagu populer mereka di album ini “Crazy Town” atau “A Chang”, tetapi juga variatif seperti college pop, indie rada jangly seperti “Audrey’s Eyes”.
Dirilis pada tahun 1993, penempatan materi lagu di Copacetic tak bisa ditebak, suatu saat berada di sebuah track lagu yang indie stuff, tiba-tiba di lagu berikutnya yang berasa fuzzy indie psikedelik, dan tiba-tiba muncul lagu up-tempo dan kemudian dreamy. Tetapi ‘kekacauan’ ini justru menjadi artistik dan menarik sekali. Album Copacetic jelas menjadi sebuah debut seru dari Velocity Girl.
Berkat dua singel "Crazy Town" dan "Audrey's Eyes" di album ini, Velocity Girl menjadi salah satu band yang mengangkat image label Sub Pop dari sekadar label band grunge saja. Ketika Copacetic dirilis, penjualannya bahkan yang menjadi yang terbesar kedua dalam sejarah label tersebut, setelah album Bleach-nya Nirvana. Marr
Hints: Nama band ini diambil dari judul lagu Primal Scream berjudul sama, "Velocity Girl".
Rolling Stone (6/10/93, p.71) - 3.5 Stars - Very Good - "...haunting yet hummable noise pop...vocalist Sarah Shannon's willowy soprano dominates COPACETIC's sound..."
Source: Setelah disuruh lihat oleh Mr. Reza Ansel di youtube.com videoklip "Crazy Town". Darn, this band is totally so good! On the next day, i quickly ordered it from eBay, with a cheap price also.