Untuk 17 tahun ke atas. Show your ID card. And don't behave..
Monday, May 19, 2014
Tuesday, February 4, 2014
#ThursdayNoiseVol3
Satu hal penting jika anda menonton Thursday Noise dari Jilid 1, 2, dan besok, 3, kita akan menyaksikkan band-band yang obscured dan hanya bergentayangan di belantara maya.
Ketika acara musik indie tak bertenaga dan panitia kerepotan mencari lokasi, band Morfem dengan jaringan perkenalannya dengan Borneo membuat sebuah acara yang tepat untuk band-band 'aneh' untuk unjuk gigi.
Maka ketika sudah jilid ketiga, akan sangat penting buat kamu-kamu sekalian untuk hadir di acara ini. Kenapa, karena menurut saya, hanya Thursday Noise yang membuka diri untuk band-band 'aneh' ini.
Dan jangan meremehkan band-band 'aneh' ini karena Morfem punya selera yang baik untuk mengurasi band-band yang tepat ditampilkan. Perlahan acara ini bisa saja membuat skena-nya sendiri.
Tapi buat apa itu dipusingkan, datang, nonton, dan dengarkan sendiri. Menurut saya mereka don't give a fuck kalau ada yang mo datang atau tidak. Kalau benci, tak usah datang lagi. Kalau saya selalu datang.
Monday, November 4, 2013
Bank Sober #2
Friday, October 18, 2013
Primitif Gig #2
Thursday Noise!
Wednesday, April 10, 2013
Sembuh di Konser Rumahsakit. Rolling Stones Cafe 6/4/13
| photo: nyunyu.com |
Band ini berperan besar membesarkan skena indies di era 90an, khususnya masa-masa Cafe Poster. Bagi mereka yang pernah menghadiri setiap acara di Poster bakal mengerti kenapa Rumahsakit menjadi begitu pentingnya dalam lembar sejarah dan hidup orang-orang.
Dan satu malam di RSC, mereka manggung. Akhirnya saya bisa menonton mereka setelah gagal pas launching album terakhir mereka. Eh, sebelum manggung ketemu Andri Lemes di RM Ampera di seberang lokasi acara. Ditemani Acum, mereka ingin isi perut sebelum beraksi.
Obrol sebentar lah kami bertiga seputar pentas manggung terakhir Rumahsakit di Surabaya sampai soal betapa malunya Andri Lemes mengingat videoklip Hilang dimana ia menganggap video yang rada 'norak' pada jamannya. Khususnya saat wajahnya yang harus rela dipermak anak-anak Pestol Aer dan Slammer dengan polesan bedak dan lipstik secara berlebihan. Bagi saya itu video yang gak akan pernah ada lagi di layar kaca. Dan video itu menghilang, tak ada kopinya, Andri berharap bisa mendapatkan lagi video 'malu-maluin' itu.
Lagu Hilang menjadi pamungkas penutup pada saat Rumahsakit memuaskan seratusan orang selama mungkin satu setengah jam. Beberapa trek lagu yang klasik dan jarang-jarang didengarkan secara live seperti 2000 miles, Flow, atau semacam Petir, Kilat, dan Halilintar. Semua bernyanyi bersama, bernostalgia kapan pertama kali berkenalan dengan band jebolan IKJ ini.
Saya sendiri mendadak sembuh! Tujuh tahun silam, kaset saya dipinjam oleh teman bernama Miko, yang katanya mau dipinjam oleh teman saya bernama Lily, musisi Summer in Berlin dan sebagainya. Dan tak pernah kembali. Dua kaset yang saya selalu putar sampai hapal di luar kepala, masih ingat pula kedua kaset saya beli di Blok Mall, di toko kaset Musik +. Saya bahkan tak pernah mendengar lagu2 mereka secara intens lagi. Mungkin sudah gak pernah lagi.
Di atas panggung Andri Lemes menyanyi dengan penuh semangat. Tetap lemas dan grogi, hal yang tak pernah sembuh dari dirinya setiap kali di atas panggung. Nostalgia tak pernah putus ketika Andri juga mengisahkan hal-hal lucu dan seru selama di Rumahsakit. Mulai dari era darkness dengan zat adiktif, tradisi sepulang Poster yang selalu mampir lagi ke Bengkel agar bisa ajojing disko, sampai buka-bukaan para vokalis tamu seperti Acum, Toni, Batman, dan Jimi tentang band ini.
Malam yang keren. Tapi ada satu hal yang paling saya rasakan di malam itu adalah saya teryata masih bisa merapal kembali lirik2 dari lagu-lagu mereka. Memori di otak yang terbenam di laci butut, tiba-tiba aktif kembali. Bangkit dari alam sadar. Saya sampai mengadu kepada kedua teman saya di sana, dan memasang muka bahagia sambil berkata, 'gue sembuh men!'. Dan rasanya betul-betul bahagia sekali.
Tuesday, February 5, 2013
Wednesday, December 19, 2012
Jakarta 2013: The Stone Roses dan Weezer
Rasanya, 2012 dan 2013 telah dan akan menjadi dua tahun yang berkesan bagi diri saya. Dua band yang bisa didaulat sebagai panutan bagi para penggemar musik alternatif indie britpop era 90-an, yakni Weezer pada 8 Januari dan the Stone Roses pada 23 Februari. Kejutan yang tak diduga-duga!
Well, tak ada yang menyangka jika tahun 2012 Morrissey bisa beraksi di Indonesia, hal yang sama sekali terlintas di benak saya, termasuk mungkin anda. Dan tiba-tiba sang Imam Miserable-ism mengejutkan kita semua, bahkan dirinya sendiri dengan menempatkan Jakarta sebagai momen konser terbaik yang ia pernah alami selama ini setelah melihat betapa menggeloranya para penonton.
Dan kini Weezer dan the Stone Roses akan bergiliran menghibur kita semua. Weezer akan membawakan lagu-lagu dari album Biru-nya, dan the Stone Roses, well, mereka telah reuni dan apapun lagunya, kita semua akan berdansa dan bernyanyi bareng.
Dahulu, menonton band-band keren menjadi hal yang tak semua orang bisa nikmati. Saya pun sudah girang hanya dengan mendengar kisah orang-orang yang pernah menonton band idola saat mereka sekolah atau kuliah di luar negeri. Rasanya keren banget. Epik.
Dan kesempatan berhaji pun menjadi milik semua orang, duit cekak atau tajir; semua akan mendapatkan momen terindah. Sepertinya, kedua konser ini patut dihadiri, momen yang belum tentu bisa datang untuk kedualinya.
Thursday, November 29, 2012
Just For a Day, Lost in the 90's. For Real!
Entah kenapa jika bicara tentang era 90-an, saya selalu bersemangat, khususnya di lanskap musik alternatifnya. Ketika itu band-band alternatif tampak begitu kerennya, seakan representasi dari the coolness of generation x, generasi era segituan, istilahnya. Gara-gara Nirvana, setiap insan remaja dan muda menikmati asupan musik dari tanah Inggris dan Amrik yang memesona, tapi juga adiktif dan 'berbahaya'. Semacam era revolusi musik kedua setelah Beatles, yang tak hanya merubah selera musik mainstream, tetapi juga gaya hidup.
Sensasi masa lalu itu seakan tak pernah putus meski sudah dua dekade. Ketika Coldplay dan The Strokes memukau dunia, diikuti barisan band-band NME dan Pitchfork bermunculan, saya malah seperti tak merasakan greget yang membuat saya menggilai band-band di era 90-an. Yah, itu memang lebih dari sudut pandang saya sendiri. Bagi saya, era 90an tampak lebih keren dan orisinil.
Nah, hal itu saya rasakan sendiri ketika membuat sebuah acara Tribute to 90's Shoegaze, 3 tahun silam. Bejibun orang datang, dan setiap muka mewakili usia dari generasinya masing-masing. Dan hal ini kejadian lagi ketika dua owner High Fidelity mengorganisir sebuah acara bernama Just For A Day, dengan menampilkan enam selektor yang memutar plat hitam favorit mereka, mulai dari era Sarah, Britpop, sampai Shoegaze. Para selektor berinisial, peterlovefuzz, fzbz, kumyka, youthee, deebank, dan bckwrds, menampilkan koleksi shoegazing yang apik, mulai dari Slowdive, Catherine Wheel, Curve, Swervedriver, Chapterhouse, hingga MBV.
Saya ingin berbagi sebuah link blog yang menampilkan pepotoan dari acara tersebut, berikut tulisan dari sang pemilik blog yang juga memotret momen-momen di acara, yang berakhir hingga jam 2 pagi. Sekitar enam jam perjalanan lintas masa lalu yang penuh kesan dan pesan. Pesan bahwa era 90-an tak akan pernah tergantikan oleh kekinian, karena memang begitu adanya, dan spesial.
So, silahkan masuki ruang blog yang beralamat di http://oxaliseveryday.wordpress.com/2012/11/09/just-for-a-day/
![]() |
| Pictured by Oxalis |
Sunday, March 4, 2012
Feeling The Pains of Being Pure At Heart at Jakarta
![]() |
| The Pains at Balai Sarbini |
Jam 7 saya dan teman, Tommy the Drowner, sampai di pintu masuk tempat acara, dan tak ditemui ada keramaian atau sesaknya penonton. Pada saat pintu masuk dibuka pun, pada jam 8-an, tak ada tuh antrian memanjang layaknya sebuah konser musik. Bahkan ketika masuk ke ruang konser, begitu melompong, bahkan saya sampai bisa tiduran saking sepinya.
Dugaan sementara, mungkin karena heboh konser Morrissey di Indonesia yang sudah berkicau sejak minggu kedua Februari, lalu acara Java Jazz (entah yah) bertepatan pada tanggal tersebut, sepertinya telah membunuh momentum konser The Pains of Being Pure at Heart. Mungkin banyak yang memilih tak datang agar bisa membeli tiket Morrissey yang semakin sulit dicari itu. Wallahualam.
Semakin dinginnya ruang konser, dan sepinya penonton tak membunuh niat kami, toh tiket sudah terbeli dan band yang rilisannya via Slumberland ini patut disaksikan. Kapan lagi bisa melihat Kip dengan suara teduhnya, dan Peggy Wang yang cute hehehe...
Polyester Embassy menjadi band pembuka pertama. Band postrock asal Bandung memulai dengan keriuhan efek-efek mereka, dan cabikan bassline yang rough. Sayangnya, kedua ampli dari masing-masing gitaris tampak berebutan siapa yang paling keras dan meraungi ruang konser. Mungkin belum ada check sound?
White Shoes and the Couple Company tampil selepas Polyester Embassy. What else can i say anymore, they're the best indie band in Indonesia, fuckin class! Sari cs. begitu memikat dan rapih, dan juga piawai dalam merajut keintiman dengan penonton melalui lagu, dan juga Sari sendiri. Bahkan Kip pun mengidolai band ini, dan mengapresiasi band yang lahir dari kampus IKJ saat tampil di atas panggung. Class, and international!
![]() |
| Kip Berman dengan Telecaster-nya |
Overall, terlepas dari sepinya penonton, Big Thanks buat CHMBRS dan Revisions untuk menghadirkan band berkelas ini. Two thumbs up!
Thanks for Joan Lumanauw for gave the permissions of concert photos
Thanks for Kip, bisa foto bareng dengan kami :))
Tuesday, February 28, 2012
Morrissey Live in Jakarta, OMG!
Akhirnya, mimpi itu menjadi kenyataan. Mimpi yang nyaris seperti sebuah ilusi yang musykil terjadi di setiap asa terpendam di hati para penggemar Morrissey di Indonesia. Kerinduan mereka hanya bisa ditambatkan pada video streaming di Youtube yang menampilkan sosok Morrissey secara hidup untuk para penatapnya di komputer masing-masing.
Melihat secara langsung sosok pria pendiri The Smiths ini di atas panggung hanya bisa dilakoni oleh anak-anak muda yang pernah mengenyam pendidikan atau bekerja di luar negeri, bagi yang berduit tak ada masalah untuk itu. Kini semua orang memiliki kesempatan mulia itu, ketika sebuah posting di Morrissey-Solo.com dan situs resmi Morrissey, True-to-You.net, menginformasikan bahwa Indonesia masuk ke dalam rangkaian tur dunia Morrissey pada 10 Mei 2012.
Sekejap berita ini menyeruak di berbagai situs social media, dan membuat heboh setiap orang, termasuk saya. Tak lama, kabar berikutnya, Indikapro, menjadi pihak yang berjasa besar membawa pria baya ini ke tanah air. Reaksi para fans lokal akan kabar itu, ada yang sampai menangis, merinding, speechless, sampai tiba-tiba mendadak sehat dari sakitnya (hahaha itu saya :D)
Bagi para fannya, Morrissey tak sekadar seseorang yang diidolakan atas musiknya. Ia lebih dari itu. Morrissey seperti seorang 'wali', yang mewakili suara hati para fannya melalui lirik-lirik yang puitis namun bisa nakal, sinis, dan sarkastis; elegan dan jenaka. Ia memeluk hangat hati-hati terabaikan, mosaik kehidupan dan asa yang tak seindah para rupawan. The king of mopey and miserable songs!
Saya sendiri pertama kali mengenal Morrissey, ketika dipinjami kaset Beethoven was Deaf, sebuah album live. Lagu-lagunya memikat dan saya seperti merasakan betapa Morrissey dan para penontonnya seperti begitu intim, seperti ada chemistry alias kimiawi misterius yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Sekejap, saya langsung merasa klik dan penasaran sosok penyanyi itu, berlanjut dengan penjelajahan nge-band covering Moz dan The Smiths, - salutes for The Morris, The Beos, The Grasmeres, Moz is the Reason, Planet Bumi dan Glue (so kindly for lettin' me to ngebantu adisional hehe), dan satu band yang belum ada namanya hehehe (big thanks to Anggar yang pertama kali ajak ngeband bawain Moz :P)
Dan, sekarang, Idola kita semua, Morrissey, ternyata mau untuk tampil di Indonesia! Dengan tiket festival mulai dari harga Rp550ribu, sampai VIP 2 Jutaan, sebuah kesempatan emas bagi siapapun yang merindukan beliau. Saya berniat untuk tak hanya menontonnya, tetapi juga cuti 3 hari, agar bisa mencegat dia di Bandara Soetta, nungguin di Hotel, sampai bila perlu kemah di Tennis Indoor Senayan hahaha (kissing him? why not LOL)
Well, guys, selamat buat kita semua, He's come to Indonesia, with love and music. Marr
Join fanbase Morrissey di Morrissey United Fan Club Indonesia
Wednesday, February 9, 2011
Wednesday, October 6, 2010
Tasting The Smashing Pumpkins!
So, enjoy dua video 'Stand Inside Your Love' dan '1979' di blog ini! Cheers!
![]() |
| Jimmy, D'arcy, Iha, and Corgan on the Simpson |
Saturday, August 14, 2010
A Night with Ian Brown and Kula Shaker
![]() |
| Ian Brown at Jakarta (photo: Mahdesi) |
Belum lagi, album-album Stone Roses yang membekas di setiap hati para anak Britpop. Hampir dipastikan setiap anak indies generasi x (sebutan generasi kelahiran 1965-1979) yang baru pertama kali mengendus Britpop, lebih dulu dihipnotis oleh musik band ini.
Maka, ketka Ian Brown tampil di ibukota Jakarta untuk pertama kalinya sejak Stone Roses berdiri tahun 1984 dan akhirnya bubar pada tahun 1996, tak terkira euforia para anak Britpop dari segala lapisan zaman, mulai dari generasi x hingga y, memenuhi lapangan basket ABC di Senayan. Tua dan muda, terlihat beberapa diantara mereka bernarsis ria dengan sepatu Ian Brown, baju-baju Stone Roses, hingga topi pancing ala Reni.
Perjuangan saya ke acara tersebut tak mudah. Cuaca saat itu memang mendung basah akibat La Nina. Saya langsung menggeber motor 2 tak dari kantor di Jeruk Purut menerjang tirai hujan yang tak ada habisnya. Sempat mogok beberapa kali, akhirnya sampai juga di lokasi dan langsung menghampiri calo tiket setempat dengan harga lumayan miring.
Acara ini sendiri tak hanya Ian Brown, tetapi juga dibuka oleh Kula Shaker, satu lagi band Britpop terkemuka di era mid 90-an. Selepas digerayangi oleh para sekuriti, masuklah saya di venue bersama beberapa teman. Hujan rintik-rintik, dan penonton yang datang tak begitu banyak, mungkin karena faktor hujan.
Tak lama, sekitar jam setengah 9, acara pun dimulai dengan Kula Shaker. Berbagai lagu lawas seperti Hey Dude, Grateful when You're Dead, Tatva dan Govinda digeber Crispian Mills cs. Karena saya dulu mudengnya hanya di album pertama mereka, so beberapa lagu lainnya sedikit asing di telinga. Namun overall aksi mereka berhasil membakar malam yang berhawa basah dan memori saya.
![]() |
| Crispian Mills and his Kula Shaker. (Photo: Mahdesi) |
Akhirnya, selepas Kula Shaker, dengan jeda 15 menit lebih, hadirlah Ian Brown dengan bandnya. Histeria melanda semua orang, termasuk saya, berteriak-teriak nama Ian Brown. Betul-betul gaduh hati ini ketika bisa melihat Ian Brown dengan kedua mata sendiri. Semacam rindu yang terpendam dan akhirnya terpenuhi.
Lagu pertama langsung dibuka dengan I Wanna be Adored. Bisa ditebak bagaimana riuhnya sekitar 2000an penonton ketika lagu itu ditampilkan. Hampir semua orang menyanyikan bersama lirik lagu lawas Stone Roses ini dari pertama hingga selesai.
Selepas lagu ini, Ian Brown langsung menampilkan berbagai lagu solonya seperti F.E.A.R, Stelify, Sister Rose, dan lainnya. Gaya khasnya saat menyanyi tak berubah, yakni tampak cool dan pede. Pakaiannya pun bikin riuh ketika memamerkan kaos Working Class Hero, dan juga baju timnas Palestina.
![]() |
| the legendary monkey man (Photo: Mahdesi) |
Waktu beranjak melewati jam 1 pagi, setelah lebih dari sepuluhan lagu solonya, akhirnya lagu penutup Fool's Gold, mengakhiri acara. Para penonton pun tampak menggila luar biasa, ketika salah satu lagu lawas Stone Roses ini dihadirkan Ian Brown dan bandnya. Semua orang berdansa dan bergoyang, menirukan jogetan 27 ribu anak-anak muda di Spike Island pada 27 Mei 1990, sambil bernostalgia bagaimana Ian Brown dan Stone Roses telah menyapih selera musik mereka sampai saat ini.
Euforia kecil, nikmati dua video keren dari Stone Roses era terawal dengan I Wanna Be Adored (versi awal) dan Kula Shaker dengan Tatva. Marr
Friday, July 24, 2009
Hit The Switch!
Satu hal yang paling dicari dari sebuah acara musik tentu suguhan band-band menarik, beragam, dan artistik. Lemah konsep acara bisa blunder, seperti even Whatever Sounds. List band yang cukup baik (with Monkey to Millionaire as the headliner), namun nama acara yang tak cerdik (whatever sounds?) lalu sepi pengunjung berujung molor waktu acara, meski bertiket IDR10.000 (u can’t find a gig with these kind ticket price); hasilnya acara tersebut malah tak mengigit.
Berkaca dari acara lalu, acara Hit the Switch! seharusnya menjadi pengobat kegagalan acara sebelumnya. Berbekal list band yang lebih tight, such as Denial, The Porno (namun batal karena kesibukan vokalis mereka), Derai Maksimal, Mellon Yellow, Jude, Whistler Post, hingga Damascus, membuat acara ini lebih colorful dan serius. Dan sekali lagi dengan harga tiket begitu bersahabat, IDR10.000, untuk sebuah acara alternative underground dengan band-band yang serius.
Namun, badly, sekali lagi sepi pengunjung, padahal Hit the Switch! menawarkan sebuah acara menarik kepada para pengunjung yang datang, termasuk rekan saya yang rela jauh-jauh mampir dari Yogyakarta, demi memastikan sensasi esensi band-band Jakarta yang cenderung noise fetisher. Sebuah acara keren menurut saya, namun minim pengunjung, entah kenapa, akhirnya saya berasumsi bahwa jauhnya letak Submarine yang berada di sekitar Jakarta Barat, Permata Hijau, menjadi kendala utama. Setau saya, sedikitnya rute bis melintas, meski ada jalur halte busway di depan Belleza.
Hit the Switch! dimulai dengan sehat, berikut band-band menarik lainnya, meski saya baru datang pada saat sebuah band blues rock bernama Jude beraksi. Great tunes, plus riff-riff blues menghangati suasana Submarine. Tak lama Whistler Post tampil, salah satu band yang saya nantikan, karena penasaran seperti apa live band yang digawangi Tania Clover dan Hans ini. Mellon Yellow pun menyusul pada line up berikutnya, salah satu band Shoegaze dari Jakarta yang berkiblat pada sentuhan era 90’s Shoegaze. ‘Kevin’, dan beberapa materi dibawakan, too bad, ‘May Day’, tak dibawakan, padahal itu fave saya.
a whistler post
Salah satu band yang paling membuat saya terkaget ria, adalah saat Derai Maksimal beraksi. Betul-betul superbly fascinating, magisnya nuansa psikedelik, nuggets, blues, garage, atau apalah itu sebutannya, menjelma di band ini. Bahkan tak menyangka jika vokalis mereka ternyata adalah gitaris Sharesprings. And I love their music, betul-betul tak tertebak dan unik.
beradu derai maksimal
Beberapa band berikutnya pun menyusul, namun saya terpaksa harus keluar masuk acara karena ihwal konyol, dan harus melewatkan beberapa band tersebut. Meski begitu penampilan band Damascus tak terlewatkan, membawakan 3 materi pribadi, plus sekitar 4 menit noise holocaust. Enggan ‘berbunga kata’ kepada Damascus, karena bakal terkesan subjektif dan narsis untuk saya ha ha ha.
at damascus
Penampil terakhir, tentu saja, Denial, mempersembahkan momen spesial kepada para pengunjung tersisa, betapa noise adalah sebuah hal yang sensual sekaligus artistik. Sekitar 5 atau 6 lagu dibawakan Tony dan Beben cs, dan telinga saya berdengung sesekali. From what I saw, Beben also brought ol’ vintage head cabinet Marshall JCM 900 (i guess), plus one violinist and a tambourine mistress. Entah kapan mereka bakal merilis materi mereka secara resmi, a spacerock/noisepop temptation at its well forms. Tak sabar menanti.
denials on tony
Akhir kata, Hit the Switch! adalah sebuah acara keren serta tiket bersahabat, namun sayang sekali dilewatkan oleh mereka yang tidak menghadirinya. Dan teman saya tadi sebutkan sempat mengirim sms sesaat ia sampai di kota gudeg, berujar tak ada band-band seperti acara ini di Yogyakarta, betul-betul fascinatingly cool as noise. Indeed. Marr.
our mistress of noise
Thursday, June 4, 2009
Saturday, May 9, 2009
The Songs That Inspired Our Life - a Morrissey and The Smiths Night (Short Review from Us!)
Frankly, last friday, betul-betul a confusing day for me. first, paman saya wafat dan saya harus mengawal bersama keluarga untuk prosesi pemakaman almarhum di TPU Joglo. ini belum termasuk letihnya mempersiapkan rumah keluarga besar buat tamu-tamu, dari jam stgh 5 pagi ampe jam 3 sore, termasuk jadi patwal dadakan mobil jenazah. second, di acara ini, The Songs That Inspired Our Life - a Morrissey and The Smiths Night bertempat di Submarine, Permata Hijau, sebelumnya di the Rock Cafe namun batal, saya harus bermain di dua band. third, demi meliput acara ini, saya harus berjuang dengan kondisi badan yang capek, mual letih, hingga beranjak mau masuk angin.
tapi dengan penuh semangat, saya memastikan diri hadir di lokasi acara. acara pun sempat molor hingga setengah 8, namun tak apalah, saya tidak melewatkan band-band acara berjumlah 9 band. setelah beramah tamah, akhirnya band post rock/blisspop bernama Sarin muncul pertama kali. berbekal keterampilan personilnya dalam ber-effect laden ria, mereka menggubah materi-materi lagu Moz menjadi lagu-lagu yang sangat spacey dan noise. they're getting more good as a noisy band, entah mungkin ketika mereka justru tampil begitu enjoy dan bebas ketika bereksperimentasi dengan Moz?
band berikutnya adalah Planet Bumi, dan saya dengan perut mulai tidak nyaman, tak begitu memperhatikan mereka secara seksama. membawakan lagu-lagu terbaru Moz dari Years of Refusal dan track The Smiths, PB beraksi seperti biasanya, nothing new exactly from them, kecuali tampaknya sang gitaris terdahulu kembali mengisi posisi yang dulu ditinggalkannya. sedikit bertanya-tanya kenapa mereka bermain di urutan kedua, ternyata mereka harus bermain juga di reuni Poster di Prost.
Moz is the Reason hadir di panggung. Obsesi sekelompok anak HC yang mengidolai Moz dan berandai suatu hari bisa manggung dengan membawakan lagu-lagu Moz akhirnya tercapai juga di acara ini, terutama bagi sang vokalis, Aca dari band HC senior di tanah air, Straight Answer. Pria bertato wajah Moz di lengan kirinya ini, bersama para personil lainnya ini berhasil membakar semangat penonton untuk singing along dengan lagu-lagu Moz terkenal seperti Suedehead, You are the One for Me Fatty, hingga Now My Heart is Full. aksi Aca yang komunikatif, dengan sedikit berorasi, serta menjulurkan tangan ala d'Masip, menyegarkan suasana.
band berikutnya pun muncul, tak lain band screamo ibukota Sweet as Revenge. mereka sukses mengagetkan para hadirin yang mulia dengan menyulap lagu-lagu manis Moz seperti Let Me Kiss You hingga the More you Ignore Me menjadi begitu gahar dengan cita rasa masa kini! well done atas surprisenya :D
The Grasmeres muncul di urutan berikutnya, dan mereka tampaknya gemar sekali membawakan lagu-lagu Moz yang unfamilliar, underrated, hingga paling asing di telinga penikmat lagu-lagu Moz kebanyakan. that's how secuil penonton saja yang noddin their heads alias ngerti dengan lagu-lagu yang dibawakan the Grasmeres. sebut saja, misalnya Southpaw dari album Southpaw Grammar, berani bertaruh jarang sekali yang mengenal lagu gaib bikinan Alan Whyte ini dan mendengarnya secara konstan di mp3 playlistnya. sampai-sampai terdengar gumaman, "kok malah jadi shoegaze sih?" :P well dear, lagu ini memang gaib sekali tekstur lagunya.
kondisi badan semakin tak menentu, saya mencoba bertahan menantikan band berikutnya. Candyfloss hadir di panggung. yeah haha vokalisnya sangat nge-Moz sekali mulai dari pronounciation, body gesture, kecuekannya, baju kerah terbuka hingga jambulnya :P Satan Rejected My Soul hingga Boxers sukses dibawakan mereka dan membuat para hadirin bergoyang dan bersinging along ria.
the deans on the action!
dan badan saya pun semakin tak keruan dan mulai masuk angin. aksi Candyfloss sebenarnya membuat saya mencoba untuk bertahan, namun badan ini mengalahkan suara hati. padahal band the Deans siap beraksi, sementara saya mengidolai sekali vokalis antik mereka, Dennysey :P tapi apa boleh buat. penampilan Implement Yeah! dengan the First of the Gang to Die, menghantarkan saya untuk beranjak ke lantai basement, membawa keluar motor kantor dari Belleza, dan segera ke tempat tidur. really fucked up, di sebuah malam yang menyenangkan...darn. (flu berat lah saya saat menulis review ini)
ps: big thanks for EC and Futurica, sukses guys!
Thursday, March 5, 2009
TRIBUTE TO 90's SHOEGAZE (a Short Review from Us)
Saatnya mengenang kembali era sejati dari genre Shoegaze, a time when cool band t-shirts, sneakers, stagediving, headbanging, moshin, singing along and dancing aloud became a holy rites and romanticsm in the old days.
...dan semuanya itu terjadi secara magis dalam satu malam, penuh cobaan dan drama, dalam sebuah acara sold out (betul-betul di luar dugaan). Delapan band shoegaze lokal dari Jakarta dan Bandung, mempersembahkan sebuah penghormatan luar biasa terhadap delapan band 90's shoegaze lawas, dengan sebuah kegairahan yang tampaknya bakal sulit ditemui di berbagai acara sejenis ditempat lain.
Ribuan kata mungkin tak cukup untuk diilustrasikan di blog ini, pastinya hampir lebih dari 450 orang (bisa lebih) nekat berdesak-desakan di Prost Beer House, menikmati hantaman fuzz dan reverb, serta bernostalgia lewat aksi band-band, mulai dari Sharespring, Damascus, Avenue, Mellon Yellow, Jellybelly, Blossom Diary, Negative Lovers, dan Themilo. Ditemani dj set track-track shoegaze oleh DJ Davkills, DJ Aat dan DJ The Drowners, dan semuanya yang hadir sangat menikmati malam itu.
Well, it was so Cool as Fuck for us! Our blog supported the event, and kami menjadi salah satu saksi betapa Shoegaze hadir dengan atmosfir sejatinya, just like in the 90's dude, seperti tagline di atas, no pretentious, just a fucking real spirit there! So, kami ingin berbagi link live video acara tersebut dari sebagian band di Tribute to 90's Shoegaze, yakni, Themilo, Avenue, dan Damascus. Selain itu kami juga memperoleh ijin dari Ajie Gergajie untuk memberikan akses bagi siapapun untuk mengunduh mp3 Themilo - When You Sleep (an MBV Cover at Tribute to 90's Shoegaze).
So, nikmatilah bagaimana magisnya acara tersebut di video live tersebut...for real.
mp3 Themilo - When You Sleep (an MBV Cover at Tribute to 90's Shoegaze)
Themilo as MBV - When You Sleep
Damascus as Swervedriver - Duel
Avenue as Chapterhouse - Breather
the drowner, marr, and clockender

.jpg)













