Tuesday, May 10, 2011

Upside Down : The Creation Records Story - The New Trailer



Trailer video diatas berasal dari dokumenter bertajuk Upside Down : The Creation Records Story, sebuah film historis yang menjejaki kembali kisah sebuah label musik ajaib bernama Creation Records. Bagi kami, label ini berjasa besar melahirkan lanskap musik artistik dengan band-band seperti MBV, Ride, Swervedriver, The Boo Radleys, Jesus and Mary Chain, Teenage Fanclub, The Jasmine Minks, Primal Scream, hingga Oasis.

Salah satu quote di dokumenter ini dari begawan musik bernama Alan McGee, tentang label Creation Records yang dilahirkannya, dan akhirnya dijual karena menjelang bangkrut, "I think it was like the ultimate fucked up family".

logo label Creation Records


So, kami sangat menyarankan untuk segera memesan DVD/Blue-ray dari film ini, jika anda ingin mengenal lebih dekat dengan Creation Records, dan curhat para penghuninya yang terdiri dari orang-orang sedikit kacau  hingga rada normal. Bisa pre-order kopinya di amazon atau lainnya, atau pesan ke para seller merchandise import kepercayaan anda di facebook. Hurry up!

Sunday, May 8, 2011

Shed Seven - Change Giver

Photobucket

Shed Seven, the underdog Britpop band, lahir di kota York, Inggris, pada tahun 1990 ketika scene musik di daratan Ratu Elizabeth didominasi Madchester dan shoegaze. Baru tiga tahun kemudian band ini berhasil menampakkan diri di kancah musik Inggris setelah momentum meledaknya semangat nasionalis ala Britpop. Ketika genre shoegaze akhirnya tewas dan The Stone Roses mati suri, pada tahun 1994, Shed Seven merilis album debut cukup penting dalam sejarah Britpop, namun underrated oleh kritikus musik Inggris.

Empat pemuda, Rick Witter (vokal), Tom Gladwin (gitar bas), Alan Leach (drum), dan Joe Johnson (gitar), yang kemudian digantikan oleh Paul Banks; mengambil pengaruh utama dari The Stone Roses, Happy Mondays, hingga The Rolling Stones, lalu berhasil mendapat kontrak album pertama dari Polydor Records, setelah sukses meraih peringkat ketiga pada Battle of the Bands setahun sebelumnya.

Album debut bertitel Change Giver akhrnya dirilis dengan beberapa single seperti “Mark”, "Casino Girl”, dan “Speakeasy” yang berirama catchy serta berlirik gamblang dan berhasil menduduki chart lagu di Inggris. Kemudian diikuti “Ocean Pie”, sebuah lagu semi psych bluesy Britpop, yang sempat mengundang kontroversi karena liriknya memaparkan ajakan penggunaan drugs. Dominasi riff gitar Banks dan vokal Witter yang lantang dan merayu menjadi warna utama Shed Seven, terutama di lagu “Stars in Your Eyes” dan “Dolphin” with the intense rock driven riff.

Ironisnya, tidak seperti Blur, Oasis, Suede atau bahkan Menswear, Shed Seven belum pernah mengecap kepopuleran band Britpop papan atas. Sikap media Inggris ketika itu agak menganaktirikan mereka, sehingga band ini tidak pernah mendapatkan cukup publisitas ala NME, Melody Maker dan VOX. Well, setidaknya Change Giver gave this four lads from York, a chance untuk meramaikan khasanah musik Britpop ketika itu. The Drowner

Source: I purchased this cd somewhere in Bandung, many years ago... ketika ritual bolak-balik Bandung–Jakarta via kereta api masih mewarnai my previous confusing life.

Photobucket
get the link!
buy it! (or hunt their last remnant on eBay!)

Monday, May 2, 2011

Something 'El - Tragically Romantic


















Pernah saya dan teman bertanya apa gerangan terjadi pada skena indie saat ini yang tampak memuram. Tak terdengar lagi ragam event musik indie seramai dua tahun sebelumnya. Lokasi tempat acara pun semakin susah dicari lagi, sementara band-band indie lokal seperti berjalan di tempat. Media dan produk tak lagi melirik. Masa keemasan pesta pensi telah jadi kenangan masa lalu, dan ruang ekspresi lainnya seperti menadir.

Bak pertanda, label indie besar bernama Aksara Records wafat, untungnya sebagian bisa bertahan hidup. Toh, kreatifitas tak pudar. Beberapa band baru bermunculan menawarkan sensasi musik menawan, beberapa pemain lama yang lebih dulu eksis bersikap militan dengan kembali terjun dari bawah dalam membina basis massa dan publikasi karyanya. Aspek komersialitas dan segmentasi populer (non musik alay pastinya) pun semakin dibidik, setelah suksesnya band-band seperti Pee Wee Gaskins, yang berhasil menggaet kalangan remaja tanggung dan anak sekolahan.

Something 'El, band yang terdiri dua manusia, yaitu Lutfi dan Ladrina, merilis album perdana berjudul Tragically Romantic, yang menurut saya hendak mengendus peluang dicintai oleh anak-anak sekolahan. Bermaterikan musik-musik ringan dan lirik cecintaan yang sederhana, album ini sebenarnya bisa diandalkan. Namun saya melihat begitu banyak kelemahan dan kekurangan yang cukup krusial.

Mengusung musik pop indie bersenjatakan rona akustik Lutfi, dan suara menggemaskan Ladrina. Oke, dua senjata tersebut merupakan kombinasi manis. Namun materi album ini kurang menyimpan lick-lick dan hook menggigit. Pemolesan aransemen dan mixing sebuah album dominan akustik seperti Tragically Romantic kurang matang dan terjaga. Belum lagi bagian lirik yang meski simpel, tetapi tak ada kelihaian permainan kata-kata. Padahal lirik adalah hal paling menentukan untuk sajian album seperti ini.

Usikan lainnya adalah kemasan CD yang tampak kurang diperhatikan hasil akhirnya, dimana lembar sleeve tak pas dengan case jewel? Entah apa ini karena CD yang saya terima, tetapi hal ini juga saya temui di CD milik teman saya juga. Seperti salah satu blog terkemuka yang menyebut album mereka 'seperti terlalu terburu-buru', saya rasakan demikian halnya.

Malah saya berpikir mereka seharusnya melepas saja dulu beberapa mini album atau EP, untuk menjaga momentum karya mereka secara periodik. Keuntungannya, selain bisa memainkan ritme sounding karya-karya mereka, juga bisa menelaah lagi apresiasi dan ekspetasi pendengarnya.

Untuk album kedua, Something 'El harus lebih berani lagi mengeksplor bakat musik mereka dan menciptakan kejutan baru. Mereka mempunyai dua senjata unik, tinggal bagaimana menemukan 'The It Song' yang akan membangkitkan kembali gairah skena musik di negeri ini. Keep it Alive, El's!

Sunday, May 1, 2011

The Modest - Instant Best Friend (EP)



















The Modest, sebuah band sampingan di kala The Sastro mendingin sejenak. Dikomandani oleh dua personel The Sastro, Ritchie dan Rege, kedua sisanya adalah wajah baru, band bernafas pop indie guitar ini sempat menarik perhatian beberapa waktu silam melalui videoklip yang unik, lewat single Will Someone.

EP The Modest berjudul Instant Best Friend ini sebenarnya sudah lama 'ngumpet' di folder draft blog ini, menanti untuk diposting. Tetapi daripada terlambat sama sekali, hadirlah ulasan album mini mereka, berikut dengan bonus mp3nya. Komparasi dengan The Sastro? Sepertinya kita tak akan menemui progresifitas dari lick2 gitar ala The Sastro, namun riff-riff jernih dan beat drum yang dimainkan The Modest mengingatkan pada band-band seperti the Phoenix. Refreshing and Jangling.

Satu hal yang sempat menjadi obrolan saya dan teman ketika mendiskusikan The Modest, tak lain sosok sang vokalis dengan corak vokalnya yang agak 'oriental'?. Kami sempat menggunjingkan vokalnya di telinga kami yang bisa debatable bagi siapapun, berjam-jam jika mau diladeni, tetapi what the heck, this is music, rite? Setiap orang punya kekhasan, termasuk sebuah band, meski harus patuh norma dan nilai, dan melek nada. The Modest, tak terlalu bermasalah untuk hal-hal tersebut.

star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos 


get the link!

Monday, April 25, 2011

Rowland S. Howard – Teenage Snuff Film


“..why you have to be so fuckin genius and an alcoholic in the same time..” (anonym)
Sebuah kalimat yang menekan hati, tertuju pada seorang musisi dan gitaris legendaris dari negeri kangguru, Rowland S. Howard (RSH). Komentar itu saya temui di sebuah videoklip milik gitaris gaek dengan bermata cekung ini di Youtube. Raut wajahnya menyiratkan jejak kehidupan kacau berharum alkohol dan bius adiktif, menghiasi aksinya di atas panggung dan karya musiknya.

Terlahir di kota Melbourne, 24 October 1959, RSH adalah seorang musisi dan gitaris yang langka. Testimonial atas RSH oleh para musisi alternatif dunia seperti Thuston Moore, Lydia Lunch, hingga Nick Cave menegaskan betapa spesialnya RSH di hati mereka. Pendiri The Birthday Party bersama Nick Cave, RSH menampilkan sebuah sensasi bermusik yang bising, agresif, dan, puitis. Bersama gitar Fender Jaguar tahun 1968-nya, RSH sungguh membuat post punk menjadi tampak lebih emosional daripada Ian Curtis, dengan liar meracik esensi country, punk, dan blues jalanan melalui petikan gitarnya.

Sebelum saya mendapatkan album solonya yang berjudul Teenage Snuff Film ini, trailer dokumenter RSH berjudul Autoluminescent di Youtube lah yang memperkenalkan sosok orang tua ini. Sampai ketika saya jalan-jalan di toko music Aquarius PI (kini telah tutup) yang sedang cuci gudang, dan menemukan sebuah cd agak lusuh kemasannya di rak diskon besar-besaran. Kovernya sederhana, menampilkan siluet wajah RSH dengan stiker imported, berbanderol diskon sekitar 50ribuan, kalau tidak salah. Betul-betul tak memikat puluhan orang yang sedang mengubek rak-rak cd di toko tersebut.

Sedikit terkaget, saya langsung mengambil cd itu dan membelinya. Sesampai dirumah, segera terputar cd di tape CD merk Sony hasil menang undian kartu nama saat menjadi wartawan dulu. Melirik liner notes di sampul cd, saya menemui nama-nama yang tak asing dari band Nick Cave and the Bad Seeds, seperti, Mick Harvey dan Brian Hopper, lalu ada rekan RSH saat dirinya masih di band These Immortal Souls, Genevieve McGuckin.



Lagu pertama terputar, Dead Radio, sebuah lagu yang kelam dengan petikan bas yang muram. Ketukan drum Mick Harvey meratapi setiap bait yang dilagukan RSH. Beberapa lagu lainnya semakin dingin oleh petikan-petikan RSH yang dingin, seperti Breakdown (and then...), She Cried, atau semisal Exit Everything. 

Gubahan paling menarik dari RSH di Teenage Snuff Film adalah lagu dari Billy Idol, berjudul White Weeding. Di lagu ini RSH menampilkan kepiawaiannya meracik atmosfir berbeda dan jauh lebih keren ketimbang versi Billy Idol (hahaha), seperti yang juga dilakukannya bersama Lydia Lunch pada lagu Some Velvet Morning, milik Lee Hazelwood dan Nancy Sinatra, di era 80-an. 

Total ada sepuluh lagu di album yang sarat dengan refleksi emosional RSH di usia senjanya. Kelam dan dramatis. Lagu Sleep Alone yang begitu bising dan noise, dengan petikan gitar RSH yang meyayat liar, menutup album Teenage Snuff Film, bak ending sebuah bagian kehidupan pria bernama Rowland S. Howard. 

Ia disebut-sebut pernah berada di rumah sakit jiwa, tinggal di jalan, berdansa dengan alkohol dan drugs, serta ragam kekacauan lainnya. Namun, kejeniusannya melalui karya-karyanya yang artistik tak tergerus sama sekali. Bagi saya, RSH adalah musisi yang bisa merasuki karya-karyanya dengan begitu intens dan personal.
Penyakit liver memang telah mengakhiri hidup gitaris sinting dan kacau ini, 30 December 2009, namun album ini tak memupus hasrat dan musikalitas RSH, dan saya ingin sekali memperkenalkan orang ini kepada anda semua. Marr

Friday, April 1, 2011

Themilo - Photograph















Tujuh tahun pastinya rentang tahun tergetir bagi Themilo. Tujuh tahun yang hampa akan kelanjutan dari album perdana mereka, Let Me Begin (2002). Bayangkan, pertama, materi mentah mereka yang telah disemai sejak tahun 2004 justru bocor di berbagai situs dan forum berbagi, jauh sebelum album kedua diluncurkan dalam polesan final. Kedua, setelah kebocoran tersebut, hard disk tempat penyimpanan data rekaman album tersebut jebol dan hanya sedikit sekali yang bisa diselamatkan.

Tak terbayang di benak mereka kalau deraan cobaan itu menjadi hikmah tersendiri di kemudian hari. Atensi para loyalis mereka dan undangan acara musik ternyata tak menghilang sama sekali.

Album kedua mereka yang diberi tajuk Photograph, tak akan bisa lahir jika tak ada passion dari masing-masing personilnya. Mereka bisa saja memilih vakum dan tenggelam dalam rutinitas kantor untuk mengubur kekecewaan, lalu muncul kembali di saat tak terduga. Syukur, mereka tidak sampai sebegitu galaunya.

Photograph memotret 8 materi lagu, yang mayoritas sudah lebih dulu bergentayangan di  internet dan memenuhi hard disk para pendengarnya, termasuk saya. Luckily, Themilo menyisipkan sebuah single menawan yang untungnya tidak ikutan bocor, yakni Daun dan Ranting di Surga.

Dua poin lebih dari album ini, tak lain kita bisa menikmati polesan sempurna dari setiap materi lagu yang jauh lebih menarik dan kaya nuansa ketimbang bocoran materi mentah mereka di internet. Kepiawaian Themilo dalam penyusunan lagu-lagu yang begitu apik patut diancungi jempol. Karakter musik album ini yang lebih atmospheric, kontemplatif, dan meruang, agak berbeda dengan album pertama mereka yang dinamis. Kejutan lain, Themilo menemukan dua penyanyi latar yang begitu unik dan berkarakter, untuk beberapa lagu mereka, menggantikan latar vokal sebelumnya pada materi bocoran sebelumnya disuarakan oleh Weeds.

Dibuka dengan materi instrumental berjudul Stethoscope yang megah dibalut distorsi reverb, seperti pintu masuk sempurna untuk memasuki ruang imajinasi para personil themilo, terdiri dari Ajie (vokal, gitar), Upik (gitar), Suki (bass), Unyil (kibor), dan Budi (drum). Beberapa lagu yang dikenal menjadi favorit klasik para loyalis Themilo, seperti For All The Dreams That Wings Could Fly, So Regret, atau Dreams, turut menghanyutkan dengan kejernihan musik mereka. Materi album ini dibungkus oleh kualitas mixing yang bagus.

Lagu penutup, Apart, menjadi epilog syahdu, seakan Themilo sedikit memelankan diri sejenak dari derap musik mereka yang telah dirintis hampir 9 tahun lamanya. Album ini pun memuaskan asa para personilnya dengan cara yang tak harus luar biasa, tetapi lebih intim dan pribadi. Begitu pula dengan para perindu mereka. Marr



star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos 

Rolling Stones -3/11- "Delapan komposisi dalam konsep musik dingin dan misterius" -- 3 stars



Saturday, February 5, 2011

Death Goes to The Record Store

Pendiri Creation Records, Alan McGee sudah meramalkan bahwa industri musik bakal kelimpungan menghadapi revolusi informasi dan teknologi di dunia bernama internet. Industri musik akan mengalami revolusi digital, siapapun bisa memperoleh informasi secara bebas dan masif, legal dan ilegal.

Salah satu keajaiban internet adalah file sharing musik di antara pemakai internet secara bebas. Beberapa penolakan terhadap terobosan ini terjadi pada kasus Metallica vs Napster, namun tetap tak bisa meredam  fenomena internet. Internet menyatukan dunia tanpa batas, akhirnya industri musik memilih mengeksploitasi internet sebagai peluang bisnis yang ternyata bernilai bisnis sangat tinggi.

Paling kentara dari imbas internet adalah produk fisik musik yang sebelumnya dikemas dalam cakram CD atau kaset, harus terpuruk oleh file-file musik berbentuk MP3 yang memiliki kualitas bagus dan ekonomis. Cukup bawa Ipod atau player digital lainnya, kita bisa mendengarkan ribuan lagu tanpa kerepotan berurusan dengan fisik CD dan sejenisnya. Mengunduhnya pun sangat mudah dengan cara nirkabel atau berbekal USB.

Siapa yang paling menderita? Tak lain peritel musik seperti toko-toko kaset dan CD. Dan Aquarius Musikindo di Pondok Indah (PI) memilih untuk tutup selamanya. Peritel terbesar di Indonesia ini sebenarnya sudah menutup beberapa gerainya di Bandung dan Surabaya, menyisakan cabang Mahakam, Blok M. Bahkan kini, di Mahakam, Aquarius tak hanya menjual CD, tetapi juga DVD film lokal dan asing dengan harga terjangkau.

Tutupnya Aquarius di PI, memang membuat saya sedikit gamang. Dimana lagi kita bisa membeli CD musik dari band-band dan artis asing. Saya tahu sekali cabang di PI memiliki koleksi yang terbilang lengkap dengan harga yang agak realistis ketimbang cabang Mahakam. Beberapa koleksi saya banyak yang berasal dari belanja di cabang ini.

suasana obral besar-besaran toko Aquarius PI di Jakarta menjelang tutup operasionalnya.


Toko musik Aksara di Kemang pun juga gulung tikar, berikut juga kantor labelnya, Aksara Records. Beberapa toko musik seperti Musik Plus atau Bulletin berusaha bertahan dengan tenaga masing-masing. Saya juga yakin kondisi ini juga dialami para peritel mikro rekaman musik di Pasar Taman Puring. Terakhir kali saya mampir di lantai dua pusat belanja ini, terlihat tampak mengenaskan. Jika dahulu di setiap sudut lantai atas diramaikan lapak-lapak pedagang kaset dan CD bekas, kini pelakunya tinggal hitungan jari saja dengan koleksi rekaman yang tak seramai dulu.

Bagi para kolektor musik, hanya tinggal mengelus dada saja. Perburuan pun harus merapat pada dunia maya, misalnya mengincar aneka CD musik di situs ebay.com. Atau mungkin berburu hingga ke pelosok daerah berharap masih ada CD-CD tersisa dari toko yang terkapar ditinggalkan pembelinya.

Tutup usianya toko-toko ini memang sudah takdirnya. Semoga saja revolusi digital ini tak turut membunuh esensi musik secara universal. Dan kecintaan pada bentuk fisik rekaman bisa terwarisi antar generasi dari masa ke masa ditengah gelombang digitalisasi dunia ini, termasuk penghuninya.

Saturday, January 22, 2011

Morfem - Indonesia


Pertengahan Januari 2011 ditandai dirilisnya sebuah mini album dari band bernama Morfem. Ditengah geliat musik indie di tanah air yang dikabarkan dalam kondisi tak kondusif dan semarak lagi serta minimnya atensi media dan korporasi terhadap blantika musik indie, band ini tak ragu melempar 7 lagu kepada pemerhati musik. Pelakonnya, tak lain Jimi (vokal), Pandu (gitar), Bram (bas), dan Freddie (drum).

Sang frontman sekaligus eksekutif produser album ini, Jimi Multhazam, sepertinya tak kehabisan akal dan antusiasme untuk tetap melakukan diversifikasi atas sensasi musiknya. Setelah berbagai band IKJ dirintisnya, hingga the Upstairs, Morfem seperti alter ego Jimi (dan personil lainnya) terhadap selera musiknya pada band-band alternatif Amrik di mid 80-an hingga awal 90-an. Lirik-liriknya tetap tak kehilangan the witty of Jimi, tetap unik dan sedap didengar berbagai ras, golongan dan kelas sosial.

Album bertajuk Indonesia ini, sungguh menyenangkan hati saya. Dan tak sulit untuk dicerna kedua telinga saya karena seperti disuguhi sajian aneka citarasa dari band-band lawas seperti Ratcat, the Pixies, Pavement, hingga Weezer, namun tak terkontaminasi pola imitatif. Mereka berhasil meramu formulasi musik 90's alternatif, dengan turunannya Indie Rock, tanpa harus pusing membuat lagu-lagu njelimet di telinga orang.

Dihajar dengan single pembuka, Gadis Suku Pedalaman, enerjik dan liriknya berspekulasi tentang seorang gadis yang dinanti-nanti sekian lama, dan apakah telah menjadi avatar atau tidak. Lagu berikutnya, Who Stole My Bike, lagu ajaib milik Jimi (selain lagu Death Kitchen yang juga ada di album ini ) semasa menjadi drumer band ol'skul HC Punk, Be Quiet (materi di album ini mungkin telah diaransemen ulang), sepertinya curhat beneran Jimi atas raibnya motor oleh sang maling suatu ketika, cool song!

Beberapa lagu menarik lainnya, Tidur Dimanapun Bermimpi Kapanpun, sangat catchy dan menjadi track favorit saya. Selain itu juga, single folk berjudul Wahana Jalan Tikus yang rasanya dieluhkan Jimi atas kemacetan Jakarta yang indah nian itu. Kerennya dibalut oleh akustik Pandu dan sentuhan kibor dalam takaran pas. Pilih Sidang atau Berdamai di bagian tengah urutan album menjadi pembangkit semangat setelah pendengar dibuat a bit relax a bit oleh lagu-lagu akustik dan mid tempo. Aransemen akustik di lagu Tidur Dimanapun Bermimpi Kapanpun, menjadi penutup manis plus vokalisasi syahdu nan harmonis dari para personil Morfem.

Overall, materi album ini meyakinkan dan berkonsep matang. Polesan Iyub di album ini, untuk mixing dan mastering tak perlu diragukan lagi kualitasnya. Reaksi kimiawi para personil  Morfem di tiap lagu juga solid dan kompak, meski masing-masing personil memiliki lusinan band sampingan jika diakumulasikan total. Secara keseluruhan, album ini layak menjadi obat penambah energi atas lesu scene indie saat ini.

Ah, ironisnya, sampai saat ini saya sama sekali belum pernah menonton mereka secara hidup. Marr

star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos 

Album ini sudah tersedia di beberapa jaringan toko musik, IDR 25.000 or bisa sms ke 0858 11 764 764 / email ke morfem.info@gmail.com untuk informasi detailnya.

masih asing dengan Morfem, unduh single album ini, Gadis Suku Pedalaman!
get the link!

Sunday, January 2, 2011

Mellonyellow - Never Own You EP


















The coolest thing of hearing 90's shoegaze bands (i.e. Ride, MBV, Lush, or Adorable) isn't just about knowing how bigger the pedalboard effects or how superbly complicated of the songs structure, no no, but the passion of the bands created songs.  

Sesuka hati dan lepas. Esensi itu selalu saya yakini, dan itu begitu dirasakan tiap kali melihat aksi band shoegaze ibukota, Mellonyellow. Ep terbaru mereka berjudul self titled betul-betul menyenangkan hati saya. Selepas EP pertama mereka berjudul Milk Calcium, suguhan terbaru mereka begitu seru dan hangat di telinga saya. Dua lagu berjudul Never Own You dan The Day of Negro semakin menegaskan bahwa band ini patut diperhatikan secara seksama. Sungguh saya jarang sekali melihat band ini diliput secara detail, dan terkesan underrated.

Pada EP ini, saya menilai Mellonyellow menampilkan sosok yang sedikit berbeda dibanding EP pertama mereka. Dibanding EP Milk Calcium, EP terbaru mereka tampak lebih ringan dan mudah diakses bagi mereka yang belum awam dengan band ini. Terutama lagu Never Own You yang bisa membuat para pendengar pertama band ini akan bersedia menyediakan waktu untuk mampir di setiap gigs Mellonyellow. Tekstur lagunya pun lebih poppy dan catchy. Pada lagu selanjutnya, the Day of Negro, well, saya seperti menyimak pengaruh-pengaruh band 90's shoegaze yang telah membius selera musik mereka. But, it still a cool track, no bullshit.

Sekadar info, formasi band ini tinggal berempat, yaitu Bagus (vokal, gitar), Bintang (gitar), Tyo (drum), dan Gita (kibor). EP ini sendiri bisa dipesan melalu page facebook atau myspace mereka, limited edition oleh Heyho Records! So, buruan kejar dan jangan sampai kehabisan, guys! Marr

star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos
buy their cd's by contact Ridho Syahrir  at +62 (021) 93795370 , 085691996434 only for IDR15.000!!

Tuesday, December 28, 2010

The Smiths - Unreleased Demos & Instrumentals Bootleg (vinyl rip)
























Beberapa hari lalu, sahabat kami, Mr. Zounds72 memberikan sebuah hadiah tahun baru spesial untuk kami, berupa link unduh ragam bootleg demo dan outtakes dari band legendaris bernama The Smiths. Teman kami ini yang juga mendalami Dark Arts di Universitas Victoria, Wellington, di negeri Kiwi, sebenarnya rada malas dengan segala hal berbau Morrissey. Tak heran, sebenarnya link ini juga berasal email temannya, dan kemudian ia rasa alangkah baiknya juga mengirimkan ke kami sebagai sebuah hadiah atas perkoncoan di antara kami selama beberapa tahun terakhir.

from morrissey-solo.com


Link dibawah ini, terdiri dari ragam versi lagu-lagu The Smiths yang pernah dirilis dalam empat album mereka. Judul ilegalnya, The Smiths - Unreleased Demos & Instrumentals Bootleg (vinyl rip).

Reel Around The Fountain (final Troy Tate album version)
The Hand That Rocks The Cradle (John Porter monitor mix)
This Night Has Opened My Eyes (studio version June 84)
Rusholme Ruffians (Electric version July 84)
Frankly Mr Shankly (Trumpet version november 85)
Is It Really So Strange (June 86 'single' version)
Paint A Vulgar Picture (monitor mix March 87)
The Queen Is Dead (full version)
There Is A Light That Never Goes Out (take 1)

Selain itu juga demo rekaman tak dikenal seperti;
 Untitled 1 is called "I Misses You"
Untitled 2 is called "Heavy Track"

Lalu, juga ada materi seperti,
"Sheila Take A Bow" is the Porter version from January 1987
"Ask" is the pre-remix version

Sisanya, materi monitor mixes/demos untuk album Strangeways, Here We Come.
So, selamat menikmati dan bebas mengunduh untuk semuanya, dan kami ingin berucap HAPPY NEW YEAR!!

get the link!

Friday, December 24, 2010

Our Shouts! From Our Posting-Less till Vinyl of Black Tambourine: Complete Recordings (and two vids of them)

gambar vinylnya Black Tambourine















Aloha, sudah lama banget kami belum mengupdate apapun di blog ini, maklum lah, urusan waktu dan juga jaringan internet yang kadang membuat kami harus mengelus dada ketika melihat betapa lemah gemulainya kecepatannya.

Dua bulan berlalu, sebenarnya begitu banyak hal-hal yang ingin kami curahkan, mulai dari tutupnya retail toko musik Aquarius terbesar di bilangan Pondok Indah, sebuah pertanda betapa musik RBT telah menggerus produk fisik cakram cd dan kaset, hingga desas-desus bahwa scene band-band indie di negeri ini sedang berada dalam status darurat (betul-betul mengkhawatirkan, dari curhat beberapa pelaku scene indie yang tak bisa kami sebutkan namanya demi menghindarkan hal-hal yang kami inginkan).

Namun, di bulan Desember, bersyukur ada sebuah berita yang menyenangkan hati, yakni, sebuah toko vinyl bertengger di pojok dalam toko Aksara di Kemang! Bagi para pelaku pecinta vinyl bakal berbunga-bunga hatinya, dan mereka yang berusaha tidak terjerumus dalam sensasi koleksi vinyl karena belum siap mental, tampaknya harus menyerah saja.


Dan saya, salah satu korbannya. Toko Monka Vinyl ini berhasil membuat saya membeli dua plat dari album pertama dan kedua Pavement. Pada beberapa hari kemudian, saya dan pak The Drowner menyambangi kembali tempat itu, dan tanpa berpikir apa-apa lagi, kami masing-masing membeli vinyl Black Tambourine: Complete Recordings!

Diproduksi oleh Slumberland, dengan harga yang terjangkau. Bagi para penikmat musik C86, Sarah Records, dan lainnya mungkin tak akan asing pada band ini. Beberapa personilnya ternyata juga pendiri band-band ciamik seperti Lilys dan Velocity Girl. Vinyl ini dikemas menarik, plus artikel sleeve note tentang Black Tambourine yang ringan namun sarat historis.

So, untuk menyegarkan blog ini, nikmati dua video dari Black Tambourine di blog ini, For the Ex Lovers dan Throw Aggi off the Bridge. Enjoy! Marr

Wednesday, October 6, 2010

Tasting The Smashing Pumpkins!

 Two days ahead, Smashing Pumpkins gonna hit the stage on Javarockinland! Meski hanya Billy Corgan sebagai personil asli yang masih bertahan di band tersebut, tetap bikin penasaran buat saya dan pak The Drowner untuk hadir disana, menanti sebuah lagu anthem bagi kami, yakni 1979, tak lain tahun kelahiran kami berdua. Yeah!

So, enjoy dua video 'Stand Inside Your Love' dan '1979' di blog ini! Cheers!

Jimmy, D'arcy, Iha, and  Corgan on the Simpson