Friday, June 10, 2011

The Offspring - Ignition















Bagi para anak SMA di pertengahan 1990-an, sudah pasti pernah dikerubuti oleh begitu banyak aksi band-band alternatif, wabil khusus melalui tayangan acara musik tv swasta dan parabola seperti Alternative Nation MTV, ataupun VH1. Mulai dari band britpop, metal, indie, ska, hingga punk. Nah, salah satu band dari layar MTV yang saya pernah gandrungi ketika masih kelas 1 SMA, tak lain the Offspring. Man, this South California's band was so awesome and kick ass!

Ketika album mereka bertajuk Smash sukses besar, saya termasuk pengidola mereka. Lagu 'Come Out and Play', rajin wara-wiri di radio FM dan acara musik di TV. Tak lama kemudian muncul singel berikutnya The Offspring, seingat saya di radio SK, di program musik alternatif yang dipandu Nugie (lupa nama acaranya), berjudul Dirty Magic. Hey! nih lagu keren banget. Keesokan harinya, saya langsung meluncur ke sebuah toko kaset di Ramayana, Pasar Minggu untuk mencari kasetnya. Dapet!

Terbelilah kaset the Offspring berjudul Ignition seharga Rp7500 (kayaknya segitu). Album ini ternyata album kedua mereka sebelum Smash yang album ketiga. Diputer beberapa kali selepas pulang sekolah di tapedeck merek Sony sampai akhirnya hapal liriknya sampai sekarang. Lagu-lagunya keren banget dan kenceng, plus lirik yang blak-blakkan.

Lucu nan sialnya, suatu malam, tak sengaja saya memencet tombol Record yang berdempetan dengan tombol Play. Asli, nggak sadar sampai bingung kok nggak ada suaranya..dan, arghh 10 detik terhapus dari bagian awal lagu favorit saya Dirty Magic. Bodoh nian, saking kecewanya, saya berusaha merekam bagian hilang tersebut dengan cara mutung menanti lagu itu nongol di radio dan segera merekamnya langsung pada bagian yang disasar, klik tombol Record. Yah, rencana konyol itu akhirnya tidak terjadi sama sekali karena selalu ketinggalan start.

Bertahun-tahun berlalu, hingga akhirnya saya bekerja di sebuah penerbitan di Bandung. Ketika saya melakukan ritual ngubek cd bekas di loakan perempatan Cihapit, tiba-tiba jemari saya menyentuh sebuah cd bekas The Offspring, tak lain Ignition. Wow, ternyata masih ada peninggalan album itu, dan terjadilah tawar menawar dengan pemilik kios, lalu terbeli Rp40 ribu dengan kondisi Very Good.

Nostalgia berlanjut dengan lagu-lagu dari album yang saya sebut sebagai album terbaik the Offspring, bersama album Smash.  Mereka mengusung musik punk crossover, namun lebih dekat ke arah metal punk. Para personilnya, Dexter Holland (vokal), Noodles (gitar), Greg K (bas), dan Ron Wealty (drum).

Album Ignition, berisi 11 materi lagu dengan kekuatan penuh dan cepat. Dari beberapa lagu, Dirty Magic menjadi favorit, dengan petikan gitar menyusur seperti Fade to Black atau Sanatorium, Metallica. Bahkan saya sampai mencoba menguliknya dirumah. Beberapa lagu yang berlirik motivasi yang agresif, seperti Get It Right, Kick Him When His Down, atau Take it Like A Man, sungguh bisa menjadi penambah semangat kita ketika memulai segala aktifitas di pagi hari.

Pesan berbahaya juga hadir di lagu-lagu seperti Burn it Up, tentang menjadi seorang penyulut api; dan L.A.P.D., yang penuh kecaman terhadap para polisi di kota Los Angeles yang dahulu dikenal ringan tangan alias penyuka kekerasan sebagai solusi mengatasi keamanan dan kejahatan, khususnya saat kerusuhan kota L.A. di dekade 1990-an.  

Mendengar album ini seperti menemukan band The Offspring yang sebenarnya. Beberapa album setelah Smash, sungguh mengecewakan. Rada picisan dan ndak asyik hahaha Yah, musik berkembang, begitu juga mereka. Well, setidaknya, album ini menampilkan salah satu momen seru dari empat anak muda California Selatan ketika meraungkan ekspresi musik mereka kepada generasinya.




Monday, June 6, 2011

J Mascis + The Fog - More Light














J Mascis, adalah anak dokter gigi di kota Amherst, negara bagian Massachusetts. Beranjak remaja, ia mendirikan sebuah band hardcore di kotanya, bernama Deep Wounds di tahun 1980-an. Lelah menjadi anak hardcore, anak muda ini menanggalkan stik drumnya (posisinya di Deep Wounds), dan membeli gitar Fender Jazzmaster bekas seharga 300 dollar untuk band barunya, Dinosaur Jr. And the story goes on as he became a cult idol for indie rock alternative grunge teenagers in the 90's, and todays. Gitaris gondrong ini dipuja karena permainan gitarnya seperti monster bersenjatakan fuzz dari Big Muff dan killer riffs!

 Nah, album More Light, adalah album solo J Mascis dengan nama J Mascis + the Fog, selepas ia menidurkan Dinosaur Jr. pada 1997. More Light sendiri album kedua dari band ini, setelah sebelumnya merilis album semi akustik, Martin + Me. Spesialnya album ini, tak lain keterlibatan orang-orang kelas VIP di skena musik alternatif dunia, Bob Pollard dari Guided by Voices dan Kevin Shields dari My Blood Valentine. Sick, huh?!

Meski Kevin Shields dan Pollard berbagi sentuhan di album ini, tetap saja, DNA dari rekam jejak J Mascis di Dinosaur Jr membekas dari seluruh materi More Light. Mirip album-album Dinosaur Jr sebelumnya, namun tetap keren. Boleh dibilang, album More Light cukup berwarna dan atraktif, baik dari sounds dan lagu-lagunya, daripada kedua album terakhir Dinosaur Jr sebelum akhirnya vakum. Cabikan gitar Mascis, tetap tak kehabisan energi dan mancep.

Total ada 11 lagu, plus 3 lagu bonus atawa hidden tracks di album ini. Sameday, menjadi track pembuka yang tak akan menyulitkan siapapun yang hendak berkenalan dengan J Mascis. Tipikal materi Dinosaur Jr., yang kemudian dilanjutkan dengan Waistin', trek lagu dengan lirik rada nelangsa curhatan Mascis dengan dentingan piano kibor.

Beberapa materi berikutnya yang menarik, seperti Grand Me To You, lagu bertempo sedang namun ndak kelihatan lesu. Permainan piano Mascis yang simpel dan suara vokalnya yang bermahzab Neil Young-isme, membuat lagu ini terasa reflektif. Begitu pula terlihat pada beberapa lagu seperti AMMARING, Can't I Take this On (diawali petikan banjo, lalu bassline yang asyik), dan lagu favorit saya, Does the Kiss Fit, pas banget buat para alt rocker yang sedang jatuh cinta.

Kejutan More Light akhirnya datang pada lagu ke 11, yaitu More Light, dimana Mascis dan Kevin Shields menghajar telinga kita dengan tsunami fuzz, flanger, dan reverb secara bertubi-tubi. Semacam keriuhan super berisik yang dilemparkan di tengah-tengah angin tornado di dataran Oklahoma. Kevin Shields berbagi suara dengan idolanya, Mascis di lagu ini.

Selepas tsunami Mascis dan Shields, trek bonus Can I Tell You Stories dan Too Hard, menyapa dengan nuansa nelangsa dan muram. Cukup pas dengan judul album ini, dimana we really need More Light in this life. Namun Mascis memastikan cahaya itu untuk para pendengar album ini dengan membawakan kembali lagu John Denver, Leaving on a Jet Plane, lagi-lagi dengan Kevin Shields. Mereka berdua kembali meruangi seluruh langit-langit dari lagu tersebut dengan keriuhan noise dan segala macam keliaran yang bisa mereka hadirkan. And, it works damn well!


3.5 stars out of 5 - ...A charmingly out-of-time beast....this could have recorded in 1993 and lost down the back of the sofa...
Melody Maker  (20001017)


Get The Link!

Sunday, June 5, 2011

Sugar - Beaster
















Alkisah, hanya ada dua band yang begitu melegenda berkelana di telinga anak-anak muda Paman Sam di era 80-an, via radio transistor di kamar-kamar penuh poster band dan berantakan di rumah-rumah dan asrama kampus. Kedua band ini kelak akan mengontaminasi musik rock n roll dalam saluran frekuensi yang berbeda dari semestinya. Band itu tak lain R.E.M. dan Husker Du. Band pertama kelak menjadi band superstar dengan jutaan kopi, band yang terakhir justru sebaliknya, hanya menjadi cult favorite bagi para alt rocker tulen.

Nah, Husker Du, meski hanya 'mentok' pada tahap legendaris namun tak sukses global seperti Stipe cs, album-album mereka selama tahun 1981-1987 (lalu bubar) berjasa meletakkan cetak biru musik alternatif paska punk yang kemudian diserapi oleh gerombolan band-band di era 90-an. Dan sukses, dengan kemunculan band-band seperti Nirvana sampai Dinosaur Jr. Bahkan Pearl Jam sekalipun, dipastikan nggak bakal nongol jika mereka tidak mendengar Husker Du.

Kenapa saya beri pengantar tentang Husker Du? Karena band dan album EP yang saya mau ulas kali ini adalah band kedua dari vokalis, gitaris, dan juga mastermind dari Husker Du, yakni Bob Mould.  Sugar adalah band proyek Mould setelah bersolo karir. Lahir tahun 1992, band ini dikomandani Mould, bareng David Barbe (bass) dan Malcolm Travis (drum).

 Album berjudul Beaster merupakan album outtakes atau EP dari lagu-lagu yang tak masuk album perdana Sugar, Copper Blue. Saya ingat, cd ini saya dapatkan sekitar 8 tahun lalu di toko musik Bulletin di dalam hypermarket Alfa, daerah Pasar Minggu. Pokoknya lagi cuci gudang, dan harganya lupa dan murah banget. Alasan kenapa saya langsung beli tak lain, karena di sleeve belakang tertulis rilisan Creation Records, tak ada alasan lain. Betul-betul belum pernah mendengar band ini dan hanya mengandalkan informasi situs allmusic di warnet dekat Alfa.

Pas diputar di kamar, wow, betul-betul raw dan alt rock sekali. Setelah saya mendengar materi album Copper Blue, rasanya materi-materi di album Beaster semacam the Two Face atau wajah lain dari materi di Copper Blue yang pop alt yang bersahabat. Semacam Yin dan Yang, bahkan Jeckly dan Hyde, dimana Beaster tampak begitu agresif, galak, dan menyalak-nyalak. Layak untuk didengarkan dengan volume mendekati maksimal.

Trek pembuka, Come Around, menjadi salam perkenalan Beaster. Mould melantunkan lirik lagu ini seperti tipikal vokalis dari band-band shoegaze. Permainan gitarnya teduh dan menghanyutkan, meski full distorsi, dibayangi gitar akustik yang jernih sedikit reverb di sepanjang lagu. 

Pada lagu berikutnya, Tilted, menjadi penghajar telinga termanis di album ini. Bang! Penuh energi tak tersalurkan, lagu ini memang butuh wahana sebagai lagu outtakes album Copper Blue. Saking kencengnya lagu ini, saya berpikir nih lagu sangat layak menjadi soundtrack film Fast and Furious. Karakter tergalak alt rock 90's bisa ditemui di lagu ini, salah satunya guitar lead Mould yang bikin saya gemetar dan membuat J Mascis tampak inferior.

Judas Cradle, melanjutkan kegalakkan feedback menyakitkan telinga lewat gitar Fender Mould. Tensi di lagu ini bahkan oleh allmusic.com, disebut nggak kalah dengan MBV atau Sonic Youth, dalam aspek intensitas yang dihantarkan pada lagu ini oleh Mould cs. Keriuhan ini ditunjukan lagi pada lagu berikutnya, JC Auto, namun kerennya Mould menampilkan lirik yang penuh kegusaran spiritual plus bagian reff yang asyik, tipikal warna utama album Copper Blue.

Lagu Feeling Better melanjutkan intensitas yang sama dengan lagu-lagu sebelumnya, dan memiliki pop hooks pada reff yang layak tampil di Copper Blue. Yah, ada sedikit sentuhan kibor yang cukup memberi pembeda dari lagu lainnya. Lagu penutup, Walking Away berhawa alunan organ gereja, menjadi klimaks yang bisa meredakan suhu di telinga kita setelah Mould dan kedua partnernya meracik musik termanis sekaligus terpedas dari Sugar. Sungguh, dan saya merasa kehausan saking serunya. Marr



Ranked #16 in New Musical Express' list of `The Top 50 LPs Of 1993' - ...a bloody but nonetheless spiritual and ultimately uplifting experience....
NME

Get the Link!


Tuesday, May 10, 2011

Upside Down : The Creation Records Story - The New Trailer



Trailer video diatas berasal dari dokumenter bertajuk Upside Down : The Creation Records Story, sebuah film historis yang menjejaki kembali kisah sebuah label musik ajaib bernama Creation Records. Bagi kami, label ini berjasa besar melahirkan lanskap musik artistik dengan band-band seperti MBV, Ride, Swervedriver, The Boo Radleys, Jesus and Mary Chain, Teenage Fanclub, The Jasmine Minks, Primal Scream, hingga Oasis.

Salah satu quote di dokumenter ini dari begawan musik bernama Alan McGee, tentang label Creation Records yang dilahirkannya, dan akhirnya dijual karena menjelang bangkrut, "I think it was like the ultimate fucked up family".

logo label Creation Records


So, kami sangat menyarankan untuk segera memesan DVD/Blue-ray dari film ini, jika anda ingin mengenal lebih dekat dengan Creation Records, dan curhat para penghuninya yang terdiri dari orang-orang sedikit kacau  hingga rada normal. Bisa pre-order kopinya di amazon atau lainnya, atau pesan ke para seller merchandise import kepercayaan anda di facebook. Hurry up!

Sunday, May 8, 2011

Shed Seven - Change Giver

Photobucket

Shed Seven, the underdog Britpop band, lahir di kota York, Inggris, pada tahun 1990 ketika scene musik di daratan Ratu Elizabeth didominasi Madchester dan shoegaze. Baru tiga tahun kemudian band ini berhasil menampakkan diri di kancah musik Inggris setelah momentum meledaknya semangat nasionalis ala Britpop. Ketika genre shoegaze akhirnya tewas dan The Stone Roses mati suri, pada tahun 1994, Shed Seven merilis album debut cukup penting dalam sejarah Britpop, namun underrated oleh kritikus musik Inggris.

Empat pemuda, Rick Witter (vokal), Tom Gladwin (gitar bas), Alan Leach (drum), dan Joe Johnson (gitar), yang kemudian digantikan oleh Paul Banks; mengambil pengaruh utama dari The Stone Roses, Happy Mondays, hingga The Rolling Stones, lalu berhasil mendapat kontrak album pertama dari Polydor Records, setelah sukses meraih peringkat ketiga pada Battle of the Bands setahun sebelumnya.

Album debut bertitel Change Giver akhrnya dirilis dengan beberapa single seperti “Mark”, "Casino Girl”, dan “Speakeasy” yang berirama catchy serta berlirik gamblang dan berhasil menduduki chart lagu di Inggris. Kemudian diikuti “Ocean Pie”, sebuah lagu semi psych bluesy Britpop, yang sempat mengundang kontroversi karena liriknya memaparkan ajakan penggunaan drugs. Dominasi riff gitar Banks dan vokal Witter yang lantang dan merayu menjadi warna utama Shed Seven, terutama di lagu “Stars in Your Eyes” dan “Dolphin” with the intense rock driven riff.

Ironisnya, tidak seperti Blur, Oasis, Suede atau bahkan Menswear, Shed Seven belum pernah mengecap kepopuleran band Britpop papan atas. Sikap media Inggris ketika itu agak menganaktirikan mereka, sehingga band ini tidak pernah mendapatkan cukup publisitas ala NME, Melody Maker dan VOX. Well, setidaknya Change Giver gave this four lads from York, a chance untuk meramaikan khasanah musik Britpop ketika itu. The Drowner

Source: I purchased this cd somewhere in Bandung, many years ago... ketika ritual bolak-balik Bandung–Jakarta via kereta api masih mewarnai my previous confusing life.

Photobucket
get the link!
buy it! (or hunt their last remnant on eBay!)

Monday, May 2, 2011

Something 'El - Tragically Romantic


















Pernah saya dan teman bertanya apa gerangan terjadi pada skena indie saat ini yang tampak memuram. Tak terdengar lagi ragam event musik indie seramai dua tahun sebelumnya. Lokasi tempat acara pun semakin susah dicari lagi, sementara band-band indie lokal seperti berjalan di tempat. Media dan produk tak lagi melirik. Masa keemasan pesta pensi telah jadi kenangan masa lalu, dan ruang ekspresi lainnya seperti menadir.

Bak pertanda, label indie besar bernama Aksara Records wafat, untungnya sebagian bisa bertahan hidup. Toh, kreatifitas tak pudar. Beberapa band baru bermunculan menawarkan sensasi musik menawan, beberapa pemain lama yang lebih dulu eksis bersikap militan dengan kembali terjun dari bawah dalam membina basis massa dan publikasi karyanya. Aspek komersialitas dan segmentasi populer (non musik alay pastinya) pun semakin dibidik, setelah suksesnya band-band seperti Pee Wee Gaskins, yang berhasil menggaet kalangan remaja tanggung dan anak sekolahan.

Something 'El, band yang terdiri dua manusia, yaitu Lutfi dan Ladrina, merilis album perdana berjudul Tragically Romantic, yang menurut saya hendak mengendus peluang dicintai oleh anak-anak sekolahan. Bermaterikan musik-musik ringan dan lirik cecintaan yang sederhana, album ini sebenarnya bisa diandalkan. Namun saya melihat begitu banyak kelemahan dan kekurangan yang cukup krusial.

Mengusung musik pop indie bersenjatakan rona akustik Lutfi, dan suara menggemaskan Ladrina. Oke, dua senjata tersebut merupakan kombinasi manis. Namun materi album ini kurang menyimpan lick-lick dan hook menggigit. Pemolesan aransemen dan mixing sebuah album dominan akustik seperti Tragically Romantic kurang matang dan terjaga. Belum lagi bagian lirik yang meski simpel, tetapi tak ada kelihaian permainan kata-kata. Padahal lirik adalah hal paling menentukan untuk sajian album seperti ini.

Usikan lainnya adalah kemasan CD yang tampak kurang diperhatikan hasil akhirnya, dimana lembar sleeve tak pas dengan case jewel? Entah apa ini karena CD yang saya terima, tetapi hal ini juga saya temui di CD milik teman saya juga. Seperti salah satu blog terkemuka yang menyebut album mereka 'seperti terlalu terburu-buru', saya rasakan demikian halnya.

Malah saya berpikir mereka seharusnya melepas saja dulu beberapa mini album atau EP, untuk menjaga momentum karya mereka secara periodik. Keuntungannya, selain bisa memainkan ritme sounding karya-karya mereka, juga bisa menelaah lagi apresiasi dan ekspetasi pendengarnya.

Untuk album kedua, Something 'El harus lebih berani lagi mengeksplor bakat musik mereka dan menciptakan kejutan baru. Mereka mempunyai dua senjata unik, tinggal bagaimana menemukan 'The It Song' yang akan membangkitkan kembali gairah skena musik di negeri ini. Keep it Alive, El's!

Sunday, May 1, 2011

The Modest - Instant Best Friend (EP)



















The Modest, sebuah band sampingan di kala The Sastro mendingin sejenak. Dikomandani oleh dua personel The Sastro, Ritchie dan Rege, kedua sisanya adalah wajah baru, band bernafas pop indie guitar ini sempat menarik perhatian beberapa waktu silam melalui videoklip yang unik, lewat single Will Someone.

EP The Modest berjudul Instant Best Friend ini sebenarnya sudah lama 'ngumpet' di folder draft blog ini, menanti untuk diposting. Tetapi daripada terlambat sama sekali, hadirlah ulasan album mini mereka, berikut dengan bonus mp3nya. Komparasi dengan The Sastro? Sepertinya kita tak akan menemui progresifitas dari lick2 gitar ala The Sastro, namun riff-riff jernih dan beat drum yang dimainkan The Modest mengingatkan pada band-band seperti the Phoenix. Refreshing and Jangling.

Satu hal yang sempat menjadi obrolan saya dan teman ketika mendiskusikan The Modest, tak lain sosok sang vokalis dengan corak vokalnya yang agak 'oriental'?. Kami sempat menggunjingkan vokalnya di telinga kami yang bisa debatable bagi siapapun, berjam-jam jika mau diladeni, tetapi what the heck, this is music, rite? Setiap orang punya kekhasan, termasuk sebuah band, meski harus patuh norma dan nilai, dan melek nada. The Modest, tak terlalu bermasalah untuk hal-hal tersebut.

star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos 


get the link!

Monday, April 25, 2011

Rowland S. Howard – Teenage Snuff Film


“..why you have to be so fuckin genius and an alcoholic in the same time..” (anonym)
Sebuah kalimat yang menekan hati, tertuju pada seorang musisi dan gitaris legendaris dari negeri kangguru, Rowland S. Howard (RSH). Komentar itu saya temui di sebuah videoklip milik gitaris gaek dengan bermata cekung ini di Youtube. Raut wajahnya menyiratkan jejak kehidupan kacau berharum alkohol dan bius adiktif, menghiasi aksinya di atas panggung dan karya musiknya.

Terlahir di kota Melbourne, 24 October 1959, RSH adalah seorang musisi dan gitaris yang langka. Testimonial atas RSH oleh para musisi alternatif dunia seperti Thuston Moore, Lydia Lunch, hingga Nick Cave menegaskan betapa spesialnya RSH di hati mereka. Pendiri The Birthday Party bersama Nick Cave, RSH menampilkan sebuah sensasi bermusik yang bising, agresif, dan, puitis. Bersama gitar Fender Jaguar tahun 1968-nya, RSH sungguh membuat post punk menjadi tampak lebih emosional daripada Ian Curtis, dengan liar meracik esensi country, punk, dan blues jalanan melalui petikan gitarnya.

Sebelum saya mendapatkan album solonya yang berjudul Teenage Snuff Film ini, trailer dokumenter RSH berjudul Autoluminescent di Youtube lah yang memperkenalkan sosok orang tua ini. Sampai ketika saya jalan-jalan di toko music Aquarius PI (kini telah tutup) yang sedang cuci gudang, dan menemukan sebuah cd agak lusuh kemasannya di rak diskon besar-besaran. Kovernya sederhana, menampilkan siluet wajah RSH dengan stiker imported, berbanderol diskon sekitar 50ribuan, kalau tidak salah. Betul-betul tak memikat puluhan orang yang sedang mengubek rak-rak cd di toko tersebut.

Sedikit terkaget, saya langsung mengambil cd itu dan membelinya. Sesampai dirumah, segera terputar cd di tape CD merk Sony hasil menang undian kartu nama saat menjadi wartawan dulu. Melirik liner notes di sampul cd, saya menemui nama-nama yang tak asing dari band Nick Cave and the Bad Seeds, seperti, Mick Harvey dan Brian Hopper, lalu ada rekan RSH saat dirinya masih di band These Immortal Souls, Genevieve McGuckin.



Lagu pertama terputar, Dead Radio, sebuah lagu yang kelam dengan petikan bas yang muram. Ketukan drum Mick Harvey meratapi setiap bait yang dilagukan RSH. Beberapa lagu lainnya semakin dingin oleh petikan-petikan RSH yang dingin, seperti Breakdown (and then...), She Cried, atau semisal Exit Everything. 

Gubahan paling menarik dari RSH di Teenage Snuff Film adalah lagu dari Billy Idol, berjudul White Weeding. Di lagu ini RSH menampilkan kepiawaiannya meracik atmosfir berbeda dan jauh lebih keren ketimbang versi Billy Idol (hahaha), seperti yang juga dilakukannya bersama Lydia Lunch pada lagu Some Velvet Morning, milik Lee Hazelwood dan Nancy Sinatra, di era 80-an. 

Total ada sepuluh lagu di album yang sarat dengan refleksi emosional RSH di usia senjanya. Kelam dan dramatis. Lagu Sleep Alone yang begitu bising dan noise, dengan petikan gitar RSH yang meyayat liar, menutup album Teenage Snuff Film, bak ending sebuah bagian kehidupan pria bernama Rowland S. Howard. 

Ia disebut-sebut pernah berada di rumah sakit jiwa, tinggal di jalan, berdansa dengan alkohol dan drugs, serta ragam kekacauan lainnya. Namun, kejeniusannya melalui karya-karyanya yang artistik tak tergerus sama sekali. Bagi saya, RSH adalah musisi yang bisa merasuki karya-karyanya dengan begitu intens dan personal.
Penyakit liver memang telah mengakhiri hidup gitaris sinting dan kacau ini, 30 December 2009, namun album ini tak memupus hasrat dan musikalitas RSH, dan saya ingin sekali memperkenalkan orang ini kepada anda semua. Marr

Friday, April 1, 2011

Themilo - Photograph















Tujuh tahun pastinya rentang tahun tergetir bagi Themilo. Tujuh tahun yang hampa akan kelanjutan dari album perdana mereka, Let Me Begin (2002). Bayangkan, pertama, materi mentah mereka yang telah disemai sejak tahun 2004 justru bocor di berbagai situs dan forum berbagi, jauh sebelum album kedua diluncurkan dalam polesan final. Kedua, setelah kebocoran tersebut, hard disk tempat penyimpanan data rekaman album tersebut jebol dan hanya sedikit sekali yang bisa diselamatkan.

Tak terbayang di benak mereka kalau deraan cobaan itu menjadi hikmah tersendiri di kemudian hari. Atensi para loyalis mereka dan undangan acara musik ternyata tak menghilang sama sekali.

Album kedua mereka yang diberi tajuk Photograph, tak akan bisa lahir jika tak ada passion dari masing-masing personilnya. Mereka bisa saja memilih vakum dan tenggelam dalam rutinitas kantor untuk mengubur kekecewaan, lalu muncul kembali di saat tak terduga. Syukur, mereka tidak sampai sebegitu galaunya.

Photograph memotret 8 materi lagu, yang mayoritas sudah lebih dulu bergentayangan di  internet dan memenuhi hard disk para pendengarnya, termasuk saya. Luckily, Themilo menyisipkan sebuah single menawan yang untungnya tidak ikutan bocor, yakni Daun dan Ranting di Surga.

Dua poin lebih dari album ini, tak lain kita bisa menikmati polesan sempurna dari setiap materi lagu yang jauh lebih menarik dan kaya nuansa ketimbang bocoran materi mentah mereka di internet. Kepiawaian Themilo dalam penyusunan lagu-lagu yang begitu apik patut diancungi jempol. Karakter musik album ini yang lebih atmospheric, kontemplatif, dan meruang, agak berbeda dengan album pertama mereka yang dinamis. Kejutan lain, Themilo menemukan dua penyanyi latar yang begitu unik dan berkarakter, untuk beberapa lagu mereka, menggantikan latar vokal sebelumnya pada materi bocoran sebelumnya disuarakan oleh Weeds.

Dibuka dengan materi instrumental berjudul Stethoscope yang megah dibalut distorsi reverb, seperti pintu masuk sempurna untuk memasuki ruang imajinasi para personil themilo, terdiri dari Ajie (vokal, gitar), Upik (gitar), Suki (bass), Unyil (kibor), dan Budi (drum). Beberapa lagu yang dikenal menjadi favorit klasik para loyalis Themilo, seperti For All The Dreams That Wings Could Fly, So Regret, atau Dreams, turut menghanyutkan dengan kejernihan musik mereka. Materi album ini dibungkus oleh kualitas mixing yang bagus.

Lagu penutup, Apart, menjadi epilog syahdu, seakan Themilo sedikit memelankan diri sejenak dari derap musik mereka yang telah dirintis hampir 9 tahun lamanya. Album ini pun memuaskan asa para personilnya dengan cara yang tak harus luar biasa, tetapi lebih intim dan pribadi. Begitu pula dengan para perindu mereka. Marr



star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos 

Rolling Stones -3/11- "Delapan komposisi dalam konsep musik dingin dan misterius" -- 3 stars



Saturday, February 5, 2011

Death Goes to The Record Store

Pendiri Creation Records, Alan McGee sudah meramalkan bahwa industri musik bakal kelimpungan menghadapi revolusi informasi dan teknologi di dunia bernama internet. Industri musik akan mengalami revolusi digital, siapapun bisa memperoleh informasi secara bebas dan masif, legal dan ilegal.

Salah satu keajaiban internet adalah file sharing musik di antara pemakai internet secara bebas. Beberapa penolakan terhadap terobosan ini terjadi pada kasus Metallica vs Napster, namun tetap tak bisa meredam  fenomena internet. Internet menyatukan dunia tanpa batas, akhirnya industri musik memilih mengeksploitasi internet sebagai peluang bisnis yang ternyata bernilai bisnis sangat tinggi.

Paling kentara dari imbas internet adalah produk fisik musik yang sebelumnya dikemas dalam cakram CD atau kaset, harus terpuruk oleh file-file musik berbentuk MP3 yang memiliki kualitas bagus dan ekonomis. Cukup bawa Ipod atau player digital lainnya, kita bisa mendengarkan ribuan lagu tanpa kerepotan berurusan dengan fisik CD dan sejenisnya. Mengunduhnya pun sangat mudah dengan cara nirkabel atau berbekal USB.

Siapa yang paling menderita? Tak lain peritel musik seperti toko-toko kaset dan CD. Dan Aquarius Musikindo di Pondok Indah (PI) memilih untuk tutup selamanya. Peritel terbesar di Indonesia ini sebenarnya sudah menutup beberapa gerainya di Bandung dan Surabaya, menyisakan cabang Mahakam, Blok M. Bahkan kini, di Mahakam, Aquarius tak hanya menjual CD, tetapi juga DVD film lokal dan asing dengan harga terjangkau.

Tutupnya Aquarius di PI, memang membuat saya sedikit gamang. Dimana lagi kita bisa membeli CD musik dari band-band dan artis asing. Saya tahu sekali cabang di PI memiliki koleksi yang terbilang lengkap dengan harga yang agak realistis ketimbang cabang Mahakam. Beberapa koleksi saya banyak yang berasal dari belanja di cabang ini.

suasana obral besar-besaran toko Aquarius PI di Jakarta menjelang tutup operasionalnya.


Toko musik Aksara di Kemang pun juga gulung tikar, berikut juga kantor labelnya, Aksara Records. Beberapa toko musik seperti Musik Plus atau Bulletin berusaha bertahan dengan tenaga masing-masing. Saya juga yakin kondisi ini juga dialami para peritel mikro rekaman musik di Pasar Taman Puring. Terakhir kali saya mampir di lantai dua pusat belanja ini, terlihat tampak mengenaskan. Jika dahulu di setiap sudut lantai atas diramaikan lapak-lapak pedagang kaset dan CD bekas, kini pelakunya tinggal hitungan jari saja dengan koleksi rekaman yang tak seramai dulu.

Bagi para kolektor musik, hanya tinggal mengelus dada saja. Perburuan pun harus merapat pada dunia maya, misalnya mengincar aneka CD musik di situs ebay.com. Atau mungkin berburu hingga ke pelosok daerah berharap masih ada CD-CD tersisa dari toko yang terkapar ditinggalkan pembelinya.

Tutup usianya toko-toko ini memang sudah takdirnya. Semoga saja revolusi digital ini tak turut membunuh esensi musik secara universal. Dan kecintaan pada bentuk fisik rekaman bisa terwarisi antar generasi dari masa ke masa ditengah gelombang digitalisasi dunia ini, termasuk penghuninya.