Wednesday, March 17, 2010

Apresiasi Blog Terhadap Rilisan Tereview di Blog Ini

From now on, How Does it Feel to Feel 1979 ingin lebih tampak lebih serius lagi mereview berbagai materi yang menarik perhatian telinga dan mata kami dengan memberikan parameter 5 bintang. Tentunya demi menciptakan akuntabilitas penilaian yang lebih tajam dan terpercaya.

Penilaian tentu sangat subyektif dari para editor blogger yang bisa dipertanyakan keluasan pergaulan dalam skena musik di negeri ini, tetapi berani ditantang jika dipertanyakan militansi mereka terhadap selera musik yang mereka cintai selama ini.

So, for now, kami akan merilis beberapa rilisan yang pernah masuk ke blog ini, dan menyertakan penilaian dengan jumlah bintang.
star Pictures, Images and Photos = "Huh?"
star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos = "So, so.."
star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos = "Not Bad"
star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos = "Nice Man!"
star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos = "This is Brilliant!"


Rilisan sebelumnya yang pernah mampir di blog ini! enjoy guys!
1. Morfem = Gadis Suku Pedalaman (Single) star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos
2. The Porno - Subliminal star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos
3. Mellon Yellow - Milk Calcium (EP) star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos
4. Mellon Yellow - Losing Today (Single) star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos

Friday, March 12, 2010

New 5ive videos of the week (Minggu Kedua Maret)

aloha guys, setiap minggu, blog ini akan menyajikan lima video musik pilihan yang bisa dinikmati di bagian sebelah kanan dibawah kotak testimonial. pada minggu kedua Maret ini, kami sajikan Swervedriver - Never Lose That Feeling, REM - Crush w/ Eyeliner, Oasis - Supersonic, Edwyn Collins - a Girl Like You, dan the Bluetones - Slight Return.

So, enjoy the vids, guys!

ps: jika ada request, don't hestitate to ask us :)

Tuesday, February 23, 2010

Lima Video Pilihan Mingguan di Blog

aloha guys, setiap minggu, blog ini akan menyajikan lima video musik pilihan yang bisa dinikmati di bagian sebelah kanan dibawah kotak testimonial. pada minggu pertama, kami sajikan Superdrag - Ursa Destination Major, Tennage Fanclub - God Knows its True, Dinosaur Jr - Freak Scene, My Bloody Valentine - Soon, dan Pavement - Cut Your Hair.

So, enjoy the vids, guys!

ps: jika ada request, don't hestitate to ask us :)

Morfem - Gadis Suku Pedalaman (single)

Photobucket

Akhirnya Jimi Multhazam berselingkuh! Tapi tunggu dulu, ini bukan berarti ia bermain api bersama sang istri yang baru ia lamar beberapa bulan lalu. Setelah bertahun sudah ia telah membina keluarga lumayan rukun bernama The Upstairs, sosok ajaib yang selalu menyegarkan benak siapapun dengan lirik-liriknya yang 'terlalu cerdas' ini kembali memanaskan suasana di scene lokal dengan sebuah band bernama Morfem. Morfem? i really dont have any idea bout the name, perhaps you should ask Jimi, it might help your curiosity about Morfem.

Pertama, pria jebolan IKJ ini mendisain band ini sebagai sebuah band Velvet Underground. Mereka sempat beraksi di pembukaan pameran seni dari Jimi di Ruang Rupa, dan saya tak sempat menontonnya, tetapi kata beberapa orang, band ini yah seperti Jimi lagi main band lagi..? What the heck, akhirnya cerita beralih halaman ketika Morfem meluncurkan sebuah singel berjudul 'Gadis Suku Pedalaman', dan secara telaten meracuni jaringan sosial seperti facebook dengan berbagai updates dan postingan berupa mp3 lagu tesebut secara gratis.

Jimi bersama Pandu, Bram, dan Fredi, menampilkan sebuah anomali dari selera musik indie. Anomali? Bisa saya tantang, apakah ada band-band saat ini yang menciptakan sebuah musik yang sangat berbeda dari lainnya? Morfem nekat juga. Terlepas sosok Jimi yang menjadi jaminan mutu band ini bisa memiliki fanbase yang lumayan pada saat tahun pertamanya, Morfem bisa disebut band yang asyik. Orang-orangnya asyik (dimana saya termasuk intim dengan kedua personilnya), dan bisa main musik. Riff-riffnya catchy dan unik, serba 90's.

Pada singel 'Gadis Suku Pedalaman', saya mengendus betapa aroma indiepop/rock digoreng dengan skatepunk/poppunk yang pernah dilakoni Ratcat, bener-bener menyengat di lagu ini. Dan makin enak di telinga ketika Jimi kembali merangkai sebarisan lirik-lirik yang memang menjadi trademarknya. Pernahkah anda mendengar sebuah lirik seperti


'Kini kau berdialog dengan alam raya yang masih perawan
Ku yakin kau menjadi Avatar di sana
Udara yang kau hirup pasti lebih segar dari Jakarta
Titip salam untuk istri mu yang cantik jelita
Dan mertuamu yang sakti mandra guna
Semoga kau dapat menyaksikan kami di sana
Melalui perangkat parabola'

James Cameron, Jimi menyukai filmmu. Dan siapapun diajak berspekulasi. Lagu ini jujur saja, sungguh menarik untuk didengar sebagai sebuah penjelajahan yang halal di tengah antusiasme shoegaze dan postrock yang masih menghangat di sana-sini. Morfem bisa disebut sebagai salah satu jejak band-band lokal yang mulai menatap 90's alternative sounds.

Singel pertama Morfem ini tentu harus berspekulasi apakah khalayak ramai akan mengapresiasi anomali cerdas dari sebuah band bernama Morfem, atau sekadar apresiasi hip hip hura karena ada sang maestro lirik indie bernama Jimi Multhazam yang kembali beraksi. Spekulasi tak cerdas adalah jika ternyata sekadar hip hip hura semata. Marr
star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos
Mo dengar? unduh dibawah ini.


get the link!

Friday, December 25, 2009

The Porno - Subliminal

Photobucket
Setelah dua minggu nongkrong di rak CD saya akhirnya datang juga waktu yang tepat untuk bisa berkonsentrasi mendengarkan debut album milik The Porno ini. Terima kasih buat rekan saya yang dengan sukarela memberikan cd ini kepada saya untuk direview, berbalut standard jewel case cover album ini cukup bernuansa suram ditambah judul yang berdasarkan terjemahan dari kamus Inggris – Indonesia karangan S. Wojowasito berarti “bawah sadar”, heem rasanya kedua hal tersebut sudah cukup menggelitik rasa keingintahuan saya akan isi materi album ini.

Dirilis oleh Sinjitos Records dan diproduseri oleh salah satu orang yang mempunyai sentuhan Midas di dunia Indie tanah Batavia ini, pastinya para pendengar dan fans The Porno akan mengharapkan sesuatu yang melebihi ekspektasi dari materi album ini, apalagi demo dan lagu The Porno sebelum dihandle oleh Iyub terdengar biasa saja. Berbicara tentang The Porno tentu saja tidak bisa terlepas dari Joy Division dan Post Punk, setidaknya itulah persepsi orang-orang atau fans yang sudah mengenal dan mendengarkan musik mereka, entah apakah hal ini membuat The Porno sendiri sudah muak atau malah bangga dengan pengasosiasian ini, yang jelas itu sudah cukup menjelaskan secara gamblang status bermusik mereka.

Sebenarnya saya termasuk orang yang tidak suka untuk mengkotak-kotakan band berdasarkan genre musiknya, tapi akar musik The Porno memang jelas tertanam kuat pada tradisi DIY yang kaya dari post-punk Britania Raya dan Garage Rock Detroit. And of course with all their maximum efforts, The Porno telah berusaha keras dan cukup berhasil membuat semacam pendekatan yang jelas baik itu melalui cara dan gaya bernyanyi serta musikalitas mereka ke arah genre yang telah dieksplorasi dan dipelopori oleh beberapa band yang paling berpengaruh di masa dua puluh lima tahun lalu tepatnya akhir tahun 70an dan sudah melegenda tersebut (ie. Joy Division, Gang of Four, XTC & The Fall; to name a few). Tanpa sangsi, tentunya mereka juga telah berusaha keras untuk membuat Ian Curtis bangga sebagai Icon mereka, dengan tidak mengundang perbandingan yang negative akan hal tersebut.

Ok, cd The Porno telah terpasang di CD player saya lets hear the first track entitled “premature”, di lagu pertama yang berlirik bahasa Inggris ini they still sound a bit shy ataukah mereka memang berniat untuk membangun tempo terlebih dahulu, dengan kata lain tidak langsung hajar dengan lagu kencang, ah sangat disayangkan memang (Fyi: Saya sangat suka dengan hantaman keras di awal album ala Dinosaur Jr. He he he). Dengan amunisi sound fuzz gitar dan suara drum gagap berderap saya sudah terbayang akan seperti apa jadinya track-track berikut. Lagu kedua “To Get Through A Fence” yang berdurasi 1.17 menit ini kita langsung disodori dengan intro ketukan drum plus gigitan bass yang berakselerasi, nah disini saya mulai antusias. The Porno mulai bermain dengan gigih dan bersemangat, riff-rif gitar terdengar cukup variatif, dentuman bass terdengar membimbing dengan jelas kemana arah musik mereka.
Dari total delapan lagu di album berdurasi kurang lebih 30an menit ini hanya terdapat satu lagu yang berlirik bahasa Nasional, lainnya berbahasa Inggris semua. “So it Goes” dan “The Final” tampak terinspirasi dari album “Closer” nya Joy Division tetapi ditambah riff-riff fuzz variatif serta distorsi yang cukup berat dari effect Fender Blender dan EH Holy Stain. Lirik yang galau plus kekalutan langsung menimbulkan mood yang membenamkan kita ke dalam lumpur depresi plus effect Claustrophobia, sayang kreativitas dan pengucapan lirik masih harus sedikit lebih ditempa, dimana hal ini juga terdengar cukup jelas pada lagu “Control” padahal ini termasuk salah satu track favorite saya di album ini dari sisi musikalitasnya.
Lanjut di track kelima, akhirnya ketemu juga lagu berlirik berbahasa Nasional di album ini, “Hantam Ku Gerak Gerilya” bertempo cepat berontak penuh energy dengan teriakan lantang sang vokalis dan ending yang maut sangat cocok buat doping pelepasan adrenaline. Kemudian tiba pada track favorite saya yaitu “Introvert”, this song really surprises me, karena di lagu ini saya justru menemukan unsur shoegaze yang cukup kental, dan kalau kita berbicara identitas “Subliminal”, justru di lagu inilah saya menemukannya. Ada nuansa bawah sadar yang menarik jiwa kita ke alam euphoric melalui ketukan drum nan ramai, raungan vokal yang melodius, gigitan bass bak gerinda yang mengalir terharmoni serta reverb noise dari deruan gitar yang raw dan membius. Di lagu ini pula mood saya bisa sedikit cerah setelah 6 kali dihantam dengan nuansa kesuraman dan kegalauan yang cukup monoton dan hampir membuat saya mengecilkan volume amplifier saya. In Other words, The Porno is actually quite talented dalam menciptakan lagu-lagu bernuansa shoegaze.
The Last track sekaligus berdurasi paling panjang lebih dari enam menit called “Minor”, nah yang ini jelas-jelas inspired by The Stooges, kalau ada yang berani menyangkal silakan berdebat dengan saya. Eksplorasi maksimal dari gitaris The Porno tercurah habis-habisan di lagu ini, noise, reverb, distorsi dan fuzz campur aduk menjadi sesuatu disorder yang mengadiksi, detakan drum yang gagap dan konstan monoton courtesy The Stooges sukses menjadi jiwa di lagu ini. Saya sangat suka dengan struktur lagu ini, ada unsur psychedelic dan acid sebagai bensinnya, but again saya agak kurang nyaman dengan seksi vokal di lagu ini, but this is still my favorite track from the Album.

My final conclusion, Album ini bagus dan inovatif meskipun masih terdapat beberapa flaw yang cukup mengganggu terutama di bagian vocal dan lirik, akan tetapi riff-riff gitar yang tajam dan variatif, ketukan drum konstan repetitive yang menjadi salah satu ciri khas genre post punk serta sedikit unsur psychedelia yang kemudian disempurnakan dengan aransemen yang tight dan sesuai dengan apa maunya Band ini, menjadikan album ini sebuah debut segar dari salah satu pengusung post punk di Indonesia ini layak untuk didengar dan dibeli tentunya, bukan sebuah debut yang fantastic dari The Porno tetapi justru itu yang menjadi nilai plus dan mereka telah menetapkan dasar pondasi yang kuat dari identitas musik mereka dan
juga sebuah nostalgia instant atas spirit DIY dan bawah tanah dari 70s -80s post punk movement .
Saya juga yakin mereka masih akan dapat berkembang lebih baik di materi-materi mereka berikutnya, For their next releases, saya ingin lebih banyak mendengar The Porno lebih bereksperimen dengan musik mereka dan tanpa segan-segan mau mencomot pengaruh dari Band-Band Post Punk America dan Garage Rock lain seperti MC5, Husker Du, Sonic Youth, Gang of Four (UK), The Sound, Pere Ubu, Mission of Burma, The Birthday Party (UK) atau dari legenda Rock macam Velvet Underground, Pink Floyd maupun The Doors sekalipun.

Come on Guys Post Punk isn’t only about Ian Curtis and Joy Division... In The End, Congrats buat The Porno, you’ve made it keep rockin mates!!! The Drowner
Photobucket
star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos
Get this fascinating album at your favorite record stores, such as Aquarius, Aksara, or else!! 

Wednesday, December 23, 2009

Mellon Yellow - Milk Calcium EP

Photobucket
Satu hal kenapa saya selalu bilang bahwa the real essence of shoegaze genre was the 90’s era, adalah karena only on that period lived dozens of bands with sophisticated sounds and music. Band-band seperti MBV, Ride, Moose, Catherine Wheel, Boo Radleys, Swervedriver, dan masih banyak lagi, mempersembahkan kejeniusan mereka dalam khasanah kultur musik alternatif 90’s. Lagu-lagu mereka seperti sebuah anomali pakem musik indie di Inggris pada era 90-an.
Anggapan yang kerap beredar saat ini ketika shoegaze diterjemahkan sebagai gudangnya band-band ethereal, berdelay ria ala Cocteau Twins atau Slowdive, bernuansa galau ala Sigur Ros, dan sebagainya. Well, shoegaze lebih dari sekadar hal-hal diatas.
Shoegaze adalah a passion, hasrat, seperti yang dialami para anak-anak muda di era 90’s yang terbenam dengan band-band seperti Nirvana, Sonic Youth atau Jesus and Mary Chain. Ia bukanlah musik kontemplatif seperti post rock. It’s totally an alternative music, man! It will drives you for a stagediving or just jumpin around when you’re on a show. Singing along and screamin for more.
Rasanya hal-hal ini akan segera ditawarkan oleh Mellon Yellow melalui rilisan EP pertama mereka berjudul Milk Calcium. Betul-betul sebuah EP yang sangat menarik sekali. It’s soooo 90’s, they capture it really bloody fukkin cool. I mean, hearing this EP, its like transport you for a time travel into days where Bilinda Buthcer fell in love with Kevin Shields! Yes guys, keempat lagu yang ada di EP ini memang berkiblat kepada warna shoegaze di era 90’s.
Terkadang ada band yang mirip seratus persen dengan sebuah band tertentu, tapi di EP Milk Calcium, saya tak bisa menemui sebuah kemiripan pada band tertentu. Jangan keburu berasumsi karena nama band ini dari sebuah lagu Slowdive lalu berpikir bakal serupa. Ngedengerin album mini ini bakal diajak bertamasya pada band-band spesial yang mempengaruhi mereka. Sebut saja, Catherine Wheel, Boo Radleys, Drop Nineteens, Ride, Moose, hingga MBV.
Keempat track di EP yakni The Longest Yard, Less Turtle in the Day, Milk Calcium, dan Kevin. Kesan pertama, hasil rekaman yang sangat tight dan rapi. Keempat materi lagu dari mereka pun atraktif dan bisa menjadi pengantar yang sempurna bagi yang ingin mencicipi seperti apa sensasi shoegaze era 90’s. Dari keempat lagu, ada dua materi yang bikin saya betul-betul kesengsem dengan EP ini, yakni the Longest Yard dan Milk Calcium.
Untuk the Longest Yard, mungkin bisa dilihat review saya di posting sebelumnya tentang satu lagu teaser EP mereka di blog ini. Khusus untuk Milk Calcium, (dimana saya saat menulis lagi mendengarkannya) betul-betul lagu yang bener-bener ajib! It got the 90’s spirit, begitu alternatif sekali dan pastinya bisa bikin para penonton berjingkrak, stagediving, dan tentunya headbanging just like in the ol’ time. Saya seperti diajak ngintip bagaimana Rob Dickinson dan gengnya di Catherine Wheel, aksi Sice masih berambut bersama Boo Radleys, Adam Franklin masih gimbal dengan Swervedriver hingga melihat Noel Gallagher bersama Oasis. Tentunya ini imajinasi saya saja ketika mendengarkan lagu ini.
Sementara itu, di dua lagu lainnya, Less Turtle in The Day, dan Kevin, juga kuat dari musik dan songwriting. Karakter shoegaze gelombang kedua yang digebrak melalui album Loveless-nya MBV bener-bener kentara dan kental sekali. Racikannya pun asyik dan penuh layers guitar driven dari ketiga gitaris Mellon Yellow tampaknya bisa berkomunikasi dengan baik melalui persenjataan efek mereka masing-masing.

Hanya saja, setelah rembugan dengan mr. The Drowner tentang album mereka, tentu ada hal-hal yang patut dikritisi. Khususnya pada wilayah perkusi alias drum dan bass yang terkesan kok terlalu main safe atau nurut banget. Lebih khusus kepada wilayah drum, entah apa karena kondisi take di studio atau apa, drumnya terlalu biasa saja. Padahal seharusnya bisa lebih eksploratif dan berwarna, jika mengambil contoh bagaimana liarnya Loz Colbert di album-album shoegaze Ride atau Colm O'coisog yang meski sederhana tetapi rusuh banget. Pada wilayah bass pun justru tak banyak dinamisasi yang bikin lagu-lagu di EP ini menjadi penuh tekstur dan berwarna. Harapan kami jika ini dianggap sebagai sebuah singel, maka untuk proses pengerjaan album penuh harus diperhatikan kedua hal ini. Istilahnya, shoegaze itu juga haruslah bermain penuh resiko dan tidak selalu harus bermain di wilayah aman saja.

Pastinya band ini bakal menjadi sebuah sampel pergerakan band-band shoegaze di Jakarta yang menampilkan alternatif yang spesial kepada ranah scene lokal. Lebih fuzzier dan colorful. The best thing happen from Jakarta bisa saja terjadi since Sugarstar! Trust me, dudes! Overall, this album really amazed me, in a fukkin good way! Marr


Photobucket

star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos
buy their cd's by contact Ridho Syahrir  at +62 (021) 93795370 , 085691996434 only for IDR15.000!!







Thursday, November 19, 2009

The Longest Yard - Mellon Yellow (their first single from the upcoming EP, Milk Calcium)

Photobucket

Ketika saya sedang menulis review ini, lagu berjudul The Longest Yard ini berputar terus-menerus di playlist komputer kantor dimana saya bekerja. Sejam lalu, saya dikirim link mp3 plus review dari dede-wastedrockers mengenai band bernama MellonYellow ini, dan i totally agree with dede's article.

Band asal Jakarta ini memainkan musik shoegaze yang sebenarnya shoegaze, bukan sekadar harus ber-delay, reverb, dan sebagainya, serba nunduk kepala tetapi minim pemahaman atas roots musik shoegaze. Dan Mellon Yellow tidak seperti itu, mereka justru tahu benar cara untuk merasakan esensi shoegaze adalah membenamkan diri pada playlist-playlist usang dari genre shoegaze dari era 1990-an, karena itulah shoegaze yang sebenarnya.

Saya sendiri lumayan kenal lama dengan band ini. Pernah bersama di Tribute to Shoegaze, dan saya bisa pastikan mereka punya nyali dan hasrat. Mereka nekat memainkan lagu-lagu Moose di acara tersebut dimana mungkin hanya segelintir orang yang tahu band generasi awal shoegaze di Britannia ini. Dan hasilnya, 400 lebih orang di acara tersebut harus dipaksa berkenalan kepada warisan Moose terhadap genre shoegaze.

Lagu terbaru mereka untuk EP Milk Calcium adalah sebuah titik awal dari bangkitnya band-band shoegaze di tanah air yang ingin menampilkan shoegaze yang sejati. Saya mungkin terlalu subyektif, namun itu benar adanya. Ditengah keabnormalan bahwa shoegaze yang dianggap musik bunuh diri, galau, hingga frustasi, serta kekacauan intepretasi genre, Mellon Yellow bakal membuka mata siapapun bahwa shoegaze lebih dari dramatisasi picisan, tetapi lebih kepada passion atau hasrat, seperti ketika Kevin Shields pernah meletakkan hasratnya kepada Bilinda Butcher.

The Longest Yard, betul-betul sebuah lagu yang sangat saya tunggu dari sebuah band shoegaze di tanah air setelah Sugarstar! Full of noise, reverb, dan juga swirllie guitar serta hentakan drum dan iringan kibor yang kompak. Vokal Bagus yang santai mendatar, memberikan ruang lebar bagi Bintang, Olenk, dan juga Bagus untuk menghantarkan tsunami fuzz dan noise dengan manis ke telinga siapapun. Penempatan lead di akhir lagu pun menjadi klimaks yang sempurna.

So, silahkan download link dari single mereka, The Longest Yard, dan mari berpetualang pada imajinasi masing-masing. Beauty indeed! Marr
star Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photosstar Pictures, Images and Photos
link!

Friday, July 24, 2009

Hit The Switch!

Photobucket

Satu hal yang paling dicari dari sebuah acara musik tentu suguhan band-band menarik, beragam, dan artistik. Lemah konsep acara bisa blunder, seperti even Whatever Sounds. List band yang cukup baik (with Monkey to Millionaire as the headliner), namun nama acara yang tak cerdik (whatever sounds?) lalu sepi pengunjung berujung molor waktu acara, meski bertiket IDR10.000 (u can’t find a gig with these kind ticket price); hasilnya acara tersebut malah tak mengigit.

Berkaca dari acara lalu, acara Hit the Switch! seharusnya menjadi pengobat kegagalan acara sebelumnya. Berbekal list band yang lebih tight, such as Denial, The Porno (namun batal karena kesibukan vokalis mereka), Derai Maksimal, Mellon Yellow, Jude, Whistler Post, hingga Damascus, membuat acara ini lebih colorful dan serius. Dan sekali lagi dengan harga tiket begitu bersahabat, IDR10.000, untuk sebuah acara alternative underground dengan band-band yang serius.

Namun, badly, sekali lagi sepi pengunjung, padahal Hit the Switch! menawarkan sebuah acara menarik kepada para pengunjung yang datang, termasuk rekan saya yang rela jauh-jauh mampir dari Yogyakarta, demi memastikan sensasi esensi band-band Jakarta yang cenderung noise fetisher. Sebuah acara keren menurut saya, namun minim pengunjung, entah kenapa, akhirnya saya berasumsi bahwa jauhnya letak Submarine yang berada di sekitar Jakarta Barat, Permata Hijau, menjadi kendala utama. Setau saya, sedikitnya rute bis melintas, meski ada jalur halte busway di depan Belleza.

Hit the Switch! dimulai dengan sehat, berikut band-band menarik lainnya, meski saya baru datang pada saat sebuah band blues rock bernama Jude beraksi. Great tunes, plus riff-riff blues menghangati suasana Submarine. Tak lama Whistler Post tampil, salah satu band yang saya nantikan, karena penasaran seperti apa live band yang digawangi Tania Clover dan Hans ini. Mellon Yellow pun menyusul pada line up berikutnya, salah satu band Shoegaze dari Jakarta yang berkiblat pada sentuhan era 90’s Shoegaze. ‘Kevin’, dan beberapa materi dibawakan, too bad, ‘May Day’, tak dibawakan, padahal itu fave saya.

Photobucket

a whistler post

Salah satu band yang paling membuat saya terkaget ria, adalah saat Derai Maksimal beraksi. Betul-betul superbly fascinating, magisnya nuansa psikedelik, nuggets, blues, garage, atau apalah itu sebutannya, menjelma di band ini. Bahkan tak menyangka jika vokalis mereka ternyata adalah gitaris Sharesprings. And I love their music, betul-betul tak tertebak dan unik.

Photobucket

beradu derai maksimal

Beberapa band berikutnya pun menyusul, namun saya terpaksa harus keluar masuk acara karena ihwal konyol, dan harus melewatkan beberapa band tersebut. Meski begitu penampilan band Damascus tak terlewatkan, membawakan 3 materi pribadi, plus sekitar 4 menit noise holocaust. Enggan ‘berbunga kata’ kepada Damascus, karena bakal terkesan subjektif dan narsis untuk saya ha ha ha.

Photobucket

at damascus

Penampil terakhir, tentu saja, Denial, mempersembahkan momen spesial kepada para pengunjung tersisa, betapa noise adalah sebuah hal yang sensual sekaligus artistik. Sekitar 5 atau 6 lagu dibawakan Tony dan Beben cs, dan telinga saya berdengung sesekali. From what I saw, Beben also brought ol’ vintage head cabinet Marshall JCM 900 (i guess), plus one violinist and a tambourine mistress. Entah kapan mereka bakal merilis materi mereka secara resmi, a spacerock/noisepop temptation at its well forms. Tak sabar menanti.

Photobucket

denials on tony

Akhir kata, Hit the Switch! adalah sebuah acara keren serta tiket bersahabat, namun sayang sekali dilewatkan oleh mereka yang tidak menghadirinya. Dan teman saya tadi sebutkan sempat mengirim sms sesaat ia sampai di kota gudeg, berujar tak ada band-band seperti acara ini di Yogyakarta, betul-betul fascinatingly cool as noise. Indeed. Marr.

Photobucket

our mistress of noise

Tuesday, May 26, 2009

The Sastro - Vol 1

Photobucket

Sebulan yang lalu, sebuah surat elektronik plus attached files berupa .rar mp3 album perdana dari sebuah band ekletik lawas dari IKJ terkirim di email pribadi saya. Lagu-lagu lawas seperti Lari Seratus, Kaktus, Plazamaya, hingga Sejati (total 8 lagu) terangkum di folder, dan band ini termasuk salah satu band indie tanah air yang orisinil dan artistik dalam musik mereka, dan saya suka itu. Seseorang yang tidak mau disebutkan namanya itu sengaja mengirimkan email ini kepada saya agar disandingkan di blog ini, dan why not?

Kenapa? I've got tons of reason, tho most of them was more than my subjective views bcoz i like their music hahaha tapi sejujurnya album perdana mereka berjudul Vol. 1 ini memang turut menjadi salah satu titik balik bangkitnya scene indie di Jakarta. Entah apa saya saja yang menyadarinya, tapi sempat terjadi kekosongan enigma indie paska era Poster di 97-an hingga awal 2000-an, selepas Rumahsakit. Ketika saya pertama kali melihat The Sastro muncul di kampus mereka, salah seorang teman saya menyebut bahwa mereka sebenarnya menyelamatkan jejak ekletik yang dimulai oleh Rumahsakit, dimana sebelumnya sempat tak terlihat lagi dari band-band IKJ saat itu, mungkin sampai saat ini setelah kehadiran The Sastro.

Photobucket

agung the sastro

Berbekal kecerdasan mereka menampilkan aransemen dan lick-lick rumit, The Sastro tak kesulitan menjamah telinga-telinga scenester di Jakarta dan Bandung. Album perdana mereka ini, kalau tak berlebihan, bisa disebut sebagai the best indie album of the year hahaha seriusan, pernahkah membayangkan The Police, Rush, dan The Smiths dalam satu kemasan yang benar-benar serius? di album ini tak bakal ada lick-lick gitar sederhana atau aransemen musik ekletik dengan riff-riff standar. Hasilnya adalah sebuah album ekletik (format kaset) yang smooth, dinamis, dan tidak berlebihan; tak terlihat sok ekletik, namun mereka benar-benar really serious ecletic-ers.

Digawangi Agung (vokalis, gitaris), Ritchie (gitaris), Ari Buy (basis), dan Rege (drum), kuartet satu almamater ini meracik Vol. 1 dalam dimensi yang penuh warna. Suara berat Agung yang tampak sekali diracuni oleh sang idolanya, Morrissey, lick-lick ekletik dari gitar Ritchie, tampak bergumul mesra dengan para personil lainnya di seksi bass dan drum. Tak hanya itu, sampel midi turut menjadi pemanis di beberapa lagu di album perdana mereka. Komposisi lagu yang ciamik dan rapihnya penempatan track-track, serta dari segi mixing yang cukup memuaskan. Beberapa track lawas menjadi anthem seperti Sejati dan Lari Seratus, siap memudahkan nalar untuk mencerna beberapa lagu semi progresif seperti Hantu TV atau Telefiksi.

Photobucket

leave them all behind

Yang mengherankan dari The Sastro adalah ketika mereka sukses merilis album ini, lalu sempat wara-wiri di era kejayaan Pensi di ibukota maupun Bandung, band ini malah seperti menghilang. Dan selama beberapa tahun, selepas era Parc, momen vakum tampaknya menggelayuti band ini secara perlahan-lahan. Tak ada lagu baru, album terbaru, ataupun kabar sekalipun. Terakhir, Ritchie mengabarkan kepada saya bahwa ia sudah mengundurkan diri sejak setahun lalu, dan beralih menjadi additional player band ini di beberapa acara terakhir di IKJ dan Moestopo, dua minggu lalu. Dan penampilan di Moestopo kemarin dipastikan sebagai penampilan terakhirnya bersama The Sastro, well, he told me hahaha :D

Uniknya, Ale' (gitaris White Shoes and the Couple Company) resmi mengisi posisi gitaris yang ditinggalkan Ritchie dan di sebuah acara di Tebet sempat akan tampil perdana bersama The Sastro dalam line up terbaru mereka. Namun konyolnya, mereka harus gagal tampil karena satu dan lain hal dari acara tersebut. Entah apa yang akan terlihat dari band ini, apabila Ale' memutuskan siap full di The Sastro, memberikan kejutan sebuah warna baru ala Ale' dengan album baru ataukah tinggal sebuah band nostalgia semata. Hardly can't wait.

Photobucket

goodbye, the sastro

get the link!

Another Bonus Link!!!

http://www.mediafire.com/file/koagumjxjjz/The Sastro - Lari 100 Ep.zip

http://www.mediafire.com/file/ylzfzjnzydw/THE SASTRO RARE COLLECTION.zip

Photobucket

Saturday, May 9, 2009

The Songs That Inspired Our Life - a Morrissey and The Smiths Night (Short Review from Us!)

Photobucket

Frankly, last friday, betul-betul a confusing day for me. first, paman saya wafat dan saya harus mengawal bersama keluarga untuk prosesi pemakaman almarhum di TPU Joglo. ini belum termasuk letihnya mempersiapkan rumah keluarga besar buat tamu-tamu, dari jam stgh 5 pagi ampe jam 3 sore, termasuk jadi patwal dadakan mobil jenazah. second, di acara ini, The Songs That Inspired Our Life - a Morrissey and The Smiths Night bertempat di Submarine, Permata Hijau, sebelumnya di the Rock Cafe namun batal, saya harus bermain di dua band. third, demi meliput acara ini, saya harus berjuang dengan kondisi badan yang capek, mual letih, hingga beranjak mau masuk angin. 

tapi dengan penuh semangat, saya memastikan diri hadir di lokasi acara. acara pun sempat molor hingga setengah 8, namun tak apalah, saya tidak melewatkan band-band acara berjumlah 9 band. setelah beramah tamah, akhirnya band post rock/blisspop bernama Sarin muncul pertama kali. berbekal keterampilan personilnya dalam ber-effect laden ria, mereka menggubah materi-materi lagu Moz menjadi lagu-lagu yang sangat spacey dan noise. they're getting more good as a noisy band, entah mungkin ketika mereka justru tampil begitu enjoy dan bebas ketika bereksperimentasi dengan Moz?

band berikutnya adalah Planet Bumi, dan saya dengan perut mulai tidak nyaman, tak begitu memperhatikan mereka secara seksama. membawakan lagu-lagu terbaru Moz dari Years of Refusal dan track The Smiths, PB beraksi seperti biasanya, nothing new exactly from them, kecuali tampaknya sang gitaris terdahulu kembali mengisi posisi yang dulu ditinggalkannya. sedikit bertanya-tanya kenapa mereka bermain di urutan kedua, ternyata mereka harus bermain juga di reuni Poster di Prost.

Moz is the Reason hadir di panggung. Obsesi sekelompok anak HC yang mengidolai Moz dan berandai suatu hari bisa manggung dengan membawakan lagu-lagu Moz akhirnya tercapai juga di acara ini, terutama bagi sang vokalis, Aca dari band HC senior di tanah air, Straight Answer. Pria bertato wajah Moz di lengan kirinya ini, bersama para personil lainnya ini berhasil membakar semangat penonton untuk singing along dengan lagu-lagu Moz terkenal seperti Suedehead, You are the One for Me Fatty, hingga Now My Heart is Full. aksi Aca yang komunikatif, dengan sedikit berorasi, serta menjulurkan tangan ala d'Masip, menyegarkan suasana.

band berikutnya pun muncul, tak lain band screamo ibukota Sweet as Revenge. mereka sukses mengagetkan para hadirin yang mulia dengan menyulap lagu-lagu manis Moz seperti Let Me Kiss You hingga the More you Ignore Me menjadi begitu gahar dengan cita rasa masa kini! well done atas surprisenya :D

The Grasmeres muncul di urutan berikutnya, dan mereka tampaknya gemar sekali membawakan lagu-lagu Moz yang unfamilliar, underrated, hingga paling asing di telinga penikmat lagu-lagu Moz kebanyakan. that's how secuil penonton saja yang noddin their heads alias ngerti dengan lagu-lagu yang dibawakan the Grasmeres. sebut saja, misalnya Southpaw dari album Southpaw Grammar, berani bertaruh jarang sekali yang mengenal lagu gaib bikinan Alan Whyte ini dan mendengarnya secara konstan di mp3 playlistnya. sampai-sampai terdengar gumaman, "kok malah jadi shoegaze sih?" :P well dear, lagu ini memang gaib sekali tekstur lagunya. 

kondisi badan semakin tak menentu, saya mencoba bertahan menantikan band berikutnya. Candyfloss hadir di panggung. yeah haha vokalisnya sangat nge-Moz sekali mulai dari pronounciation, body gesture, kecuekannya, baju kerah terbuka hingga jambulnya :P Satan Rejected My Soul hingga Boxers sukses dibawakan mereka dan membuat para hadirin bergoyang dan bersinging along ria. 

Photobucket

the deans on the action!

dan badan saya pun semakin tak keruan dan mulai masuk angin. aksi Candyfloss sebenarnya membuat saya mencoba untuk bertahan, namun badan ini mengalahkan suara hati. padahal band the Deans siap beraksi, sementara saya mengidolai sekali vokalis antik mereka, Dennysey :P tapi apa boleh buat. penampilan Implement Yeah! dengan the First of the Gang to Die, menghantarkan saya untuk beranjak ke lantai basement, membawa keluar motor kantor dari Belleza, dan segera ke tempat tidur. really fucked up, di sebuah malam yang menyenangkan...darn. (flu berat lah saya saat menulis review ini)

ps: big thanks for EC and Futurica, sukses guys!