Thursday, July 20, 2017

Mutombo - Woods

Mutombo punya lagu baru, judulnya Woods. Ya ya ya, gue tahu pasti pada ngeye yaelah bubar2 aja kali..



Semalam mutombo merilis lagu judulnya woods di soundcloud. jadi ceritanya materi ini sebenarnya salah satu materi yang rencananya akan dirilis sebagai ep kedua, dan sudah dibuat jauh sebelum kami manggung di acara holytunes beberapa tahun lalu, dan menjadi manggung pertama dan terakhir. Jadi bukan band ini tiba2 aktif lagi dan rekaman bikin lagu2 baru. karena dipastikan kami sudah nggak akan bikin lagu-lagu lagi, dan mungkin juga soal manggung.

Materi ep kedua ada sekitar 6 lagu kalau gak salah. Entah mau diapain itu. Lihat aja nanti deh.

https://soundcloud.com/mutombo-373629426/woods

Monday, July 10, 2017

Losing The Porno

Band post punk Jakarta menuju titik nadir setelah Pandu memutuskan keluar dari band tersebut.  




Mendapati kabar kalau Pandu memutuskan untuk keluar dari The Porno, bukanlah hal yang menyenangkan. Ini bukan soal dramatisasi, tetapi memang lebih dari itu. Saya meski tak mengikuti dari pertama band ini berdiri, tapi mengikuti The Porno dan pertemanan dengan para personilnya sejak 2000-an, ketika mereka masih kuliah. 

Saya selalu percaya, sebuah band keren itu lahir tidak direkayasa, tapi bisa juga are destined to be that cool as fuck. Post punk ala Joy Division, tapi lebih intens dan maskulin. Dahulu, ketika Angga masih menjadi vokalis utama mereka (sblm mundur karena telah berkeluarga), mungkin The Porno benar-benar mewakili band Post Punk yang dinanti. Mereka tahu musik yang mereka mainkan dan tahu cara bermain dengan benar.

Pandu, dengan lick gitarnya yang agresif, Yanu dengan pilihan nada bass yang konstan beats dan groove, serta Bowo yang memukul seperti mesin. Plus Angga dengan pilihan intepretasi gaya menyanyi yang ia sadari akan membuatnya tampak seperti kopian Ian Curtis. Tapi semua itu tidak bikin band ini tampak cheesy dan sekenanya. Mereka keren!

Dan ketika bertahun lamanya mereka mengembara dari pub dan bar untuk manggung di acara gig kecil, memiliki fanbase yang loyal, meski dipastikan teman2 terdekatnya tak akan absen dari setiap acara mereka, lalu mereka masuk label Sinjitos. Dan album Subliminal menjadi album yang sejatinya dan seharusnya bisa menampar orang-orang tentang betapa kerennya band ini. Tapi itu tak semulus yang diharapkan.

Saya tak habis pikir kenapa band sekeren seperti mereka tak bisa menendang pantat semua orang. Meski terbantu oleh rangkaian showcase oleh labelnya, tapi memang naifnya saya jika berharap band ini bisa sesukses Thebrandals misalnya, atau Pure Saturday (lebih gila lagi kan). Karena mungkin band ini dan saya ketika itu terlalu bodoh untuk berharap sebuah eksposure yang super duper.

Jeleknya lagi, perlahan kehilangan momentum, masing2 personil makin sibuk. Pandu juga mulai banyak hal yang harus dilakoninya. Angga akhirnya mundur. Dan berharap The Porno manggung lagi adalah hal yang mengada-ada. Mungkin pernah sekali dua manggung, dengan formasi Pandu mengambil alih vokal.

Baiknya, pelan tapi pasti Pandu mengumpulkan dan membuat materi-materi. Dan materi itu seharusnya sudah bisa menjadi album, sampai orang ini membuat postingan untuk pamit dari band yang lahir dari pertemanan tongkrongan Gamprit. Tongkrongan yang pernah saya coba cicipi seperti apa nuansanya, dan benar-benar tongkrongan tanpa pretentious apapun kecuali main Winning Eleven di PS milik mantan Pandu dan begadang sampai pagi. Untuk soal begadang kadang saya nyerah di jam 2 pagi.

The Porno yang seharusnya merilis album itu, sebenarnya juga sudah punya formasi yang bagus, Amy Amanda mengisi gitar. Pandu tetap di vokal dan gitar. Yanu dan Bowo sudah paham apa yang harus mereka lakoni sejak band ini pertama kali berdiri. 

Bahkan label Anoa sempat akan merilis album mereka, sampai ada hal-hal yang saya  dan Pandu juga sesali, membuat Anoa memilih mundur. Untuk alasan yang sebenarnya bagi saya saklek, tapi andai saya dan Pandu lebih baik bertemu dan ngomong face to face ketimbang via WA, mungkin saja berbeda endingnya. Tapi yang terjadi ya sudah.

Album kedua The Porno sebenarnya tinggal secuil lagi langkahnya untuk dirilis. Materinya bagus dan solid. Mungkin dibanding album Subliminal, album ini bisa disebut memiliki beberapa single yang kuat. Apalagi Pandu yang menangani sendiri soal mixing dan mastering.

Dan apapun yang terjadi di band ini adalah hal yang private karena mereka adalah teman saya. Pandu berucap untuk mundur dari The Porno, saya yakin bukan hal sepele. Saya selalu berpikir, The Porno adalah band yang Pandu, Yanu, Bowo, susun dengan hati, bukan soal trendi semata. 

Saya ingat ada cerita bagaimana Bowo mengenal Post Punk dan belajar cara ngedrum yang kini menjadi trademarknya. Padahal kalau tak salah dia penggemar Weezer, dan merasa ketukan ala mesin Post Punk seperti barang asing. Band ini melakoni musik dengan passion, bukan fashion. 

Dengarlah. Jika saya berharap scene akan berkabung dengan bubarnya The Porno adalah hal tertolol. Saya bikin tulisan ini juga bukan karena menyesal karena turut andil yang membuat The Porno nggak bisa kerilis di Anoa Records. Karena Pandu tahu sikap saya, dia respek. Tapi andai kami bisa lebih chill out a bit.

But, screw the past. Because we're fucked up in every ways.